Pagi telah pergi kini hari semakin malam seluruh sahabat chika sudah berpamitan pulang setelah makan malam sebenarnya mereka pamit untuk pulang sebelum magrib berkumandang tetapi shani menahan mereka agar makan terlebih dahulu baru boleh pulang.
Malam ini shani benar benar dibuat kesal oleh chika karena sedari tadi chika tidak mau meminum obatnya segala cara sudah shani lakukan, dari cara yang lembut hingga cara ancam mengancam sudah shani lakukan namun adiknya sangat menguji kesabaran sang adik. Sebenarnya shani tipekal orang yang sabar namun jika dirinya sedang kedatangan tamu bulanan shani akan berubah menjadi indira yang kesabarannya setipis tissu dibelah tujuh.
Semua wanita akan merasakan mood yang naik turun jika sedang kedatangan tamu bulanan dan semua orang tau itu tapi chika malah bikin sang cici semakin badmood hingga akhirnya shani memilih untuk mencekok chika dengan obat yang harus sang adik minum.
"Mau nurut gak?"tanya shani dengan datar membuat chika menciut.
"Itu obatnya pait"gumam chika.
"Jadi gak mau nurut hmm?"
"Ah cici mukanya no no kayak gitu eumm"
"Oke kalo masih gak mau harus pake cara yang ini, bi tolong ya"ujar shani sambil memberikan kode kepada bi sum supaya memegang kedua kaki chika, bi sum yang paham saat shani memberikan kode pun mengangguk dan langsung menahan kedua kaki chika.
"Ehh bibi mau ngapain"panik chika.
"Bibi cuman mau mijitin kaki non chika biar gak kebas kakinya"Elak bi sum yang langsung memijat kaki chika sedangkan chika mengangguk paham.
"cici no eumm"Ujar chika yang menggelengkan kepalanya agar shani tidak bisa mencekok dirinya, tapi shani tetaplah shani tenaganya lebih besar dari chika yamg sedang sakit.
Shani yang langsung mencengkram kuat pipi chika agar mulut sang adik terbuka walaupun hanya sedikit tapi untuk obat yang sudah dibubukkan oleh shani tadi karena chika selalu banyak alesan jika sudah berurusan dengan obat. Memang terdengar jahat tapi ya mau gimana lagi shani tidak tega melihat sang adik sakit seperti ini, shani sedih melihat sang adik yang biasanya menguras kesabarannya karena saking aktifnya tapi saat ini terbaring diatas kasur shani dengan nafas yang terasa panas, suara yang serak akibat batuk dan kepalanya yang pusing.
Mana ada sih seorang kakak yang tidak sedih melihat sang adik kesakitan? Tidak ada walaupun terkadang seorang kakak galak, judes, keliatan cuek dengan adiknya percayalah didalam lubuk hatinya yang terdalam ada rasa sayang yang amat mendalam hanya saja mereka mempunyai caranya tersendiri. Terkadang yang menurut kita itu mereka tidak sayang tapi seorang kakak tidak ingin adiknya merasakan apa yang sang kakak rasakan jadi ia mempunyai cara mendidiknya dengan cara yang berbeda.
Seperti shani kepada chika terkadang shani akan terlihat sangat tegas jika chika melakukan kesalahan tapi pada akhirnya shani akan menasehati dengan cara yang lembut agar sang adik paham apa yang dimaksud oleh cicinya, jika masalah memanjakan chika menurut shani itu hal yang wajar untuk sang kakak independen shani tidak mau chika kekurangan kasih sayang karena sejak kecil chika hanya merasakan kasih sayang orang tuanya hanya sebentar sisanya shani yang memberikan kasih sayang seorang kakak, ayah dan bunda secara bersamaan.
Jika ditanya capek? Pasti capek karena anak sulung akan menjadi tulang punggung keluarga untuk membantu posisi kepala keluarga, apalagi shani yang semuanya ia handel sendiri tapi shani memiliki obat yang paling mujarab didunia yaitu melihat senyum sang adik itu obat untuk menghilangkan capek. Tapi shani tidak pernah memperlihatkan itu jika dirinya sedang capek ia tidak mau terlihat lemah didepan semua orang terutama sang adik ia harus terlihat kuat didepan banyak orang.
Setelah selesai meminum semua obat chika pun menangis sejadi jadinya karena shani mencekoknya dengan obat yang sangat pait menurutnya, shani yang masih membereskan obat chika agar bisa disimpan kembali setelah itu shani dengan sigapnya langsung memeluk sang adik agar tenang.
