Homestay48 : 21

1K 101 7
                                        

Film mulai kembali menuju bagian yang tengah ku tonton tadi. Di sebelahku, Freya juga tengah menonton dengan dengan serius. Adegan demi adegan di dalam film tersebut semakin seru, bagaimana perang yang semakin berkecamuk, drama pada skuadron yang mati satu persatu sepanjang film berlangsung. Pemeran utama yang mengalami rasa stress dan hancur perasaan melihat peperangan dan timnya yang mati satu persatu. Peran yang penuh haru dan ekspresi dari pemain, serta pembawaan sang pemain yang seperti tengah berada di peperangan sungguhan. Akting pemain yang amat natural dan membawa psikologi seolah masuk ke dalam gilanya perang yang berkecamuk. Drama demi drama dalam perang yang membunuh banyak orang, sipil dan tentara, tergambar dengan sangat baik sampai menumbuhkan rasa iba dan ngeri akan peperangan pada diriku. Freya juga menonton dengan serius, dengan tatapan yang sangat fokus, sesekali alisnya berkerut, atau wajahnya meringis ketika adegan yang intens terjadi. Jajanan yang Freya beli bahkan hanya kami sentuh sedikit, terlalu fokus menonton film dan terbawa dalam keseruan film tersebut.

Sampai aku terkejut saat ketegangan film meningkat, ketika sang pemeran utama dengan skuadronnya terjebak pada sebuah bangunan yang sudah terbengkalai karena perang dan sudah hancur di beberapa bagian. Mereka terpaksa bersembunyi dalam kepungan tentara lawan yang sudah mengurung bangunan tersebut. Tembakan, bunyi peledak yang berdentuman, serta teriakan putus asa yang menggambarkan kengerian dalam panasnya perang. Tanganku digenggam Freya, digenggam amat erat olehnya dengan mata yang membuka lebar dan dahinya berkerut. Raut wajahnya menegang, sepanjang adegan-adegan yang berlangsung genggaman tangannya makin erat. Aku tak membalas genggamannya, membiarkannya menggenggam tanganku dalam adegan yang intens untuk memberikan ketenangan pada dirinya secara tidak langsung.

Aku tak menyangka, Freya yang terlihat paling tenang di antara Jessi dan Fiony, justru lebih ekspresif saat menonton film seperti ini. Sisi yang berbeda dari dirinya yang baru aku lihat, selain tenang dan ramah tutur katanya sejak aku pindah ke sini. Padahal ia dan Jessi satu kampus juga denganku, namun kami tidak begitu dekat selain ketika di Homestay saja karena jadwal yang selalu berbeda dan gedung kampus yang berbeda kawasan denganku dan Gracie. Aku senang karena kedekatan kami yang semakin bertumbuh, bukan ke arah yang seperti aku rasakan pada Gracie, namun menjadi dekat sebagai sesama penghuni Homestay.

Saat adegan mulai turun intensitasnya, tak lagi setegang tadi, ia menoleh padaku singkat dan langsung melepas genggaman tangannya pada tanganku. Aku tak berbicara apa-apa meski aku ingin bertanya mengenai hal itu, namun ia yang diam dan tetap fokus menonton membuatku mengurungkan niat.

"Wah... seru!" ia membuka suara akhirnya, pertama kali sejak pertengahan film berjalan tadi.

"Seru banget, Liam!" tambahnya sambil menoleh padaku sekarang.

Aku membalas dengan tawa kecil, film tersebut benar-benar seru. Wajar memiliki rating yang amat baik sampai menjadi salah satu film perang yang paling terkenal. Aku tak kecewa sama sekali menonton film tersebut, kepuasan yang amat penuh ketika baru selesai menonton film bagus selalu menjadi perasaan yang aku suka.

"Iya... seru, tapi capek juga nontonnya," kataku jujur. "Film perang yang realistis tuh selalu bikin dada sesak."

Freya mengangguk pelan. Tatapannya kembali ke layar, namun tak lagi setegang tadi. Nafasnya lebih teratur, bahunya yang sempat kaku kini turun perlahan. Seolah tubuhnya baru diizinkan untuk rileks setelah ditahan oleh ketegangan adegan demi adegan. Beberapa menit kemudian, film menampilkan jeda sunyi—adegan para prajurit yang tersisa duduk di balik tembok runtuh, wajah mereka kotor oleh debu dan lelah yang tak bisa disembunyikan. Tak ada tembakan lagi. Tak ada ledakan. Hanya suara nafas dan rintihan nyeri dari mereka. Keheningan itu justru terasa lebih berat daripada dentuman sebelumnya. Tak ada ekspresi berarti dari para pemain, seolah sama seperti kami yang masih berusaha mencerna situasi yang akhirnya tenang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 4 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Homestay48Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang