24. MILAN

1.3K 33 4
                                        


"Bagaimana pendapat anda Tuan Alexander?" pria dengan setelan jas hitam memandang lurus, sembari memainkan pulpen yang sedang dia pegang dengan tangan kirinya berada diantara jari tengah dan telunjuknya.

"Kami akan mengambil setengahnya, ini merupakan kesepakatan awal benar?"

"Tidak tuan perdana mentri, bukankah anda sudah mendengar barusan, jika kesepakatan sebelumnya harus diubah, kami paham situasi anda, namun sekarang semua pemimpin sudah setuju jika semuanya akan dibagikan dengan rata."

"Ck.." Xander menyeringai kecil, dia sudah paham betul permainan seperti ini, dia memang perdana mentri termuda, namun semuanya tidak sesederhana yang terlihat, bagaimana bisa dia jadi mentri, jika tidak tau selak belut politik. itu sebabnya lingkaran hitam dalam dunia politik tidak akan pernah ada habisnya.

Hal seperti ini merupakan lumrah dikalangan orang-orang berkuasa, jangan mengharapkan kejujuran dari para pejabat itu, semuanya itu hanyalah topeng yang mereka gunakan untuk menutupi kebusukan dan kekejian yang mereka perbuat.

"Kesepakatan ini sudah sampai pada kepala negara, dan sudah ditanda tangani oleh beliau, apa yang akan beliau pikirkan jika saya hanya pulang membawa beberapa senjata itu."

Beberapa pria tegap yang ada disana terdiam mendengar apa yang dikatakan Xander, "Sebagai seorang Menteri yang dipercayakan saya tentu harus kembali ke Kanada dengan hasil yang memuaskan.. bukankah begitu Tuan Pedro." Xander menekan kata memuaskan.

"Tentu saja Tuan, saya mengerti..."

"Baiklah, jika anda mengerti." Xander memotong ucapan pria yang dipanggil Pedro itu. "Sepertinya rapat hari ini, sampai disini saja." Setelah mengatakan itu, Xander berdiri dari kursinya, dan meninggalkan ruangan itu. ini hari keempat mereka melakukan pertemuan yang tidak juga mendapat solusi, semuanya memperlihatkan kekuasaan masing masing, tidak ada yang mau mengalah.

Dia berjalan menuju lift, dan keluar dari BULGARI HOTEL, tempat paling aman dan privat di Milan, beberapa pria tegap berseragam hitam mengikutinya dari belakang, sesampainya diluar di kembali mengenakan kaca mata hitamnya, Alexander Smith, memasuki mobilnya dengan seringaian ala khasnya.

"Bagaimana?" Tanya Tyler yang sedang mengotak atik komputernya. Alexander menggeleng kecil, mengambil gelas lalu menuangkan cairan berwarna kuning itu dan langsung meneguknya hingga habis. "Mereka sepertinya memiliki rencana lain, Pedro sepertinya tidak berniat memberikan barang itu, dia hanya memanfaatkan keadaan yang sedang terjadi."

"Jadi apa yang akan kau lakukan?"

"Apa lagi? kita akan kembali ke Kanada jika sudah mendapat barang, Apa kau kira Charles mu menerima kekalahan? pria sialan itu tidak akan terima." Tyler terkekeh geli mendengarnya, hanya Tyler warga kanada yang selalu terang terangan memaki penguasa tertinggi.

"Bagaimana denganmu? apa sudah mendapat petunjuk?" Xander bertanya balik, melihat Tyler yang masih sibuk. matanya menyipit menunggu reaksi lawan bicaranya.

"Masih nihil, mereka menyembunyikan semuanya dengan sangat baik, aku tidak dapat mengakses beberapa data, sepertinya ada informasi yang didapatkan ayahku sebelum mereka kembali waktu itu"

Enter

Tyler membalikkan laptop yang dia pegang menunjukkan pada Xander apa yang dia dapatkan, Xander kembali menyipitkan matanya, alisnya berkerut melihat beberapa file yang tampak memiliki kunci dan tak bisa dibuka, guliran berikutnya memperlihatkan sebuah foto yang begitu familiar, Xander memandang Tyler bergantian dengan gambar itu.

"Kau menyukai wanita itu?" Xander memandang heran, foto seorang wanita muda dengan senyum lebar, memakai gaun biru muda . Tyler bedesis memandang tajam Xander.

Crazy LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang