35

1 1 0
                                        

Aku sudah terlalu muak menunggu satu kata maaf darimu. Apakah sesusah itu untuk mengucapkan nya dari dulu?

_Baiti Jannati Abimana_

Orang nya ada tapi peran nya tidak ada

_Baiti Jannati Abimana_

_____________
___________________

"Jadi...ada apa anda memanggil saya?"  Tanya Baiti, formal.

"Santai saja sama ayah Bai..."

"Maaf, tapi kita tidak ada lagi ikatan tuan" tangannya terkepal erat di paha nya.

Jadid menghembus kan nafasnya.

"Ayah....ingin minta tolong sama kamu. Tolong bantu perusahaan ayah, bisa?"

Baiti tertawa hambar.

"Bagaimana bisa saya bantu anda tuan? Saya hilang ingatan, apa yang bisa saya lakukan? Utak-atik sana-sini?"

"Ayah tidak yakin kamu hilang ingatan Bai..."

"Baiklah, jika saya bisa, akan saya lakukan"

"Tapi sebelum itu aku ingin bertanya pada ayah" ujar Baiti, ia merubah cara bicaranya.

"Apa itu?"

"Kenapa ayah ingin menikahi bunda? Jika akhirnya ayah akan menyakiti bunda. Aku selalu berharap, jika ada kehidupan selanjutnya aku tidak ingin bunda menikah dengan ayah. Aku ingin bunda di cintai dengan hebat oleh lelaki lain. Aku tidak apa-apa tidak terlahir di rahim bunda. Yang penting bunda bahagia.

Aku tidak ingin melihat bunda sakit lagi gara-gara aku. Aku tidak ingin bunda terluka karena menikah dengan ayah"

Jadid terdiam mendengar penuturan sang anak.

"Dari dulu, aku ingin mendengar satu kata maaf saja dari mulut ayah. Setiap kali ayah buat kami terluka, kami diam sambil menunggu ayah berubah dan meminta maaf. Namun nyatanya, setelah ayah merasa lebih baik, ayah bersikap seperti biasa. Seolah tidak punya salah. Setiap kali ayah bertengkar dengan bunda dan berbaikan, aku tidak pernah tuh mendengar maaf dari ayah.

Sebanyak apapun luka yang ayah torehkan, kami tidak pernah mendengar kata maaf dari ayah."

"Ayah---" suara Jadid tercekat, ia tidak bisa mengucapkan kalimat selanjutnya.

Baiti menatap mata sang ayah.

"Kata orang, cinta pertama anak perempuan itu adalah ayah nya. Lantas, kemana cinta pertama ku? Aku tidak merasakan nya lagi."

"Ayah tau...aku selalu iri pada anak seusia ku kala itu. Bagi mereka, mau ayah mereka ada atau enggak tapi cinta ayah mereka masih tetap ada untuk mereka. Aku selalu berpikir, kenapa ayah gak seperti ayah mereka ya?

Bukan kah setiap ayah peran nya sama ya? Mencari nafkah dan memberikan kasih sayang pada anak dan istrinya. Lantas, kenapa ayah ku beda dari yang lain?"

Jadid ingin sekali meraih wajah Baiti. Menghapus air mata itu dan memeluk nya. Tapi tubuh nya tidak mendukung. Seolah ada lem kuat yang tidak bisa ia lepas kan.

Al Dan Bai Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang