{ t w e l v e }

597 53 0
                                        

"KAU SERIUS?!" ucap Jess. Dari wajahnya ia tampak bahagia. Ya, aku sudah tiba dirumah Jess sejak tiga puluh menit yang lalu dan ia terlihat sangat kaget melihatku datang bersama Paul dan paman Mark. Aku telah menjelaskan semuanya dan dua kata itu terlontar dari mulut Jess.

"Aku serius, Jess. Aku akan membutuhkan petunjuk tentang Mr. X itu darimu. Fans lebih cepat dari FBI bukan?" ujarku enteng. Mulutnya masih terbuka dengan sebuah senyuman dari telinga ke telinga.

"Oke. Aku akan mengemas barangku." Ujarnya bersemangat. Kemudian menarik koper disudut kamarnya dan mulai membuka lemari. Kemudian berbalik menatapku dan tersenyum penuh makna – aku tidak tahu makna jelasnya apa seperti bahagia, terharu, dan entah apalagi. Matanya terlihat berkaca – kaca. Kemudian ia memelukku dengan erat.

"Thankyou, Lex. Thankyou, thankyou, thankyou. Kau benar – benar sahabat paling hebat sepanjang masa! I love you, Lex! I love you so damn much!" ucapnya dalam pelukanku. Aku balas memeluknya dan tersenyum.

"I love you more, Jess. Sekarang bergegaslah." Ujarku merenggangkan pelukan kami. Jess mengangguk. Kemudian mengeluarkan beberapa pakaian.

"Butuh bantuan?" ujarku. Jess menoleh sekilas dan mengangguk.

"Kau tahu apa saja yang selalu kubawa untuk menginap, kan? Tolong masukkan kedalam backpack biru ku ya. Backpack nya ada diatas kursi." Ujarnya sambil terus memilih beberapa baju dari lemarinya dan kemudian memasukkannya kedalam koper. Aku berjalan menuju kamar mandi dipojok kamarnya. Mengambil pembersih wajah, sikat gigi dan peralatan mandi lainnya milik Jess. Kemudian memasukkannya kedalam backpack birunya diatas kursi. Aku meraih ponsel, ipod, beserta charger dan headset nya kemudian memasukkannya lagi kedalam backpack milik Jess. Setelah semuanya siap, aku menutup rapat resleting backpack biru milik Jess.

"Masih butuh bantuan?" ujarku seraya meletakkan backpack biru milik Jess diatas ranjangnya. Tak lama kemudian Jess menutup kopernya.

"Sudah selesai." Ujarnya seraya tersenyum. Aku mengangguk.

"Biar ku bawa koper dan tas mu kebawah."ujarku kemudian menarik kopernya.

"Biar aku saja yang membawa tasku. Alat make upku belum masuk." Ujar Jess seraya memamerkan deretan giginya. Aku hanya tersenyum seraya membawa koper milik Jess ke ruang tamu.

"Jessica sudah siap?" tanya paman Mark. Aku hanya mengangguk. Paul berdiri dan membantuku membawakan koper milik Jess.

"Thankyou, Paul." Ujarku. Paul hanya tersenyum kemudian memasukkan koper milik Jess kebagasi mobil.

"Lex?" ujar Jess menuruni tangga. Wajahnya terlihat berusaha untuk tidak fangirling saat melihat paman Mark.

"Hello, Jessica. Nice to meet you." Ujar paman Mark seraya mengulurkan tangannya pada Jess. Jess tersenyum dan balas menjabat tangan paman Mark.

"Tolong Jess saja. Nice to meet you too, Mark." Ujarnya. Jess menggendong tas birunya di bahu kanannya.

"Hei, semua sudah siap?" ujar Paul tiba – tiba. Kami serempak menoleh kearah Paul.

"Yep." Ujarku sementara paman Mark dan Jess mengangguk. Paul tersenyum lebar kearah Jess.

"Hello, Mrs. Anderson. Nice to meet you." Ujarnya seraya mengulurkan tangannya kearah Jess. Jess menjabat tangan Paul.

"Nice to meet you too, tapi panggil saja Jess." Ujarnya seraya tersenyum. Paul mengguk.

"Baiklah, kita harus segera berangkat." Ujar paman Mark. Kami semua serentak mengangguk. Setelah memasuki mobil dan memasang seatbelt, paman Mark menjalankan mobilnya dari pekarangan rumah Jess. Kebetulan ibu dan ayah Jess sedang berada di Perth untuk mengunjungi kerabat mereka. Sebenarnya, Jess tidak sendiri. Ia bersama Ben. Namun Ben sedang kerumahnya. Jess memberitahukan semua itu saat aku menelponnya.

BODYGUARD  [ OneDirection ] - ON HOLD-Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang