Aku mendengar ketukan dipintu kamarku. Aku baru saja selesai berganti baju dengan menggunakan celana jeans pendek diatas lutut dan kaos tangan pendek berwarna abu – abu. Aku segera membuka kan pintu kamarku. Aku tersenyum ketika mendapati Lou berdiri didepan pintu kamarku.
"Hey, Lou." Sapaku. Lou tersenyum.
"Hey, Lexa. Mari ikut aku. Mark dan Paul sudah diatas dan mereka ingin mengenalkanmu pada the boys." Ujar Lou. Aku terkejut dan tampaknya Lou mengetahui itu.
"Ada yang salah, Lexa?" tanya Lou. Aku menggeleng.
"Tak apa. Aku hanya tak percaya dengan apa yang akan terjadi saat ini, Lou." Ucapku seraya tertawa renyah. Lou ikut tertawa sementara aku menutup pintu kamarku. Lou merangkul pundakku dan kami berjalan kearah lift.
"Percayalah padaku, mereka adalah pria yang baik walaupun kadang sedikit menyebalkan." Ucap Lou seraya tertawa ringan. Sementara aku terus mengingatkan diriku agar tidak langsung menampar atau memukul Zayn ketika nanti aku melihatnya.
DING!
Suara itu mengejutkanku. Itu menandakan kami sudah sampai dilantai paling atas. Dimana Paul, paman Mark, dan the boys berada. Tanganku dingin seketika. Aku dan Lou melangkah keluar lift danPaul sudah menunggu disana.
"Kau baik saja Lex?" Paul bertanya padaku. Mebuat aku dan Lou terhenti dihadapannya. Aku menatapnya setengah bingung setengah takut.
"Mark sudah menceritakannya padaku, Lex. Apa kau yakin?" tanya Paul seraya memegang bahu kiriku. Aku menghembuskan nafas panjang. Aku tidak boleh menomor satukan egoku. Dan aku harus menjadi gadis yang baik dan berani seperti yang Dad bilang. Sebagai balasan atas pertanyaan Paul, aku mengangguk. Kemudian kami berjalan ke tengah ruangan. Hanya ada paman Mark diujung ruangan. Dibelakangnya terdapat sebuah sofa dan tv besar. Sama persis seperti ruangan tempat kamar kami. Ia tersenyum kearahku seraya menaikkan kedua alisnya. Aku mengerti dan mengangguk.
"Boys! Keluar dan lihatlah siapa yang ingin kukenalkan pada kalian." Ujar paman Mark.
"Wait a minute!!" ujar seseorang entah siapa. Kemudian seorang pria dengan muka yang agak dewasa menghampiri kami.
"Siapa gadis ini, Mark?" tanyanya. Kalau aku tidak salah, ia bernama Liam. Atau Louis. Entahlah. Aku tersenyum seraya mengulurkan tanganku.
"Alexandra Wills." Ujarku. Ia balas tersenyum dan menjabat tanganku.
"Aku Liam Payne." Ujarnya. Oke jadi dia Liam. Aku sering kali tertukar antara Liam dan Louis – yang sering kali membuat Jess gemas. Meskipun tersenyum wajahnya masih tersirat rasa bingung. Kemudian seorang pria berambut keriting dan pria dengan rambut kecoklatan datang menghampiri kami. Kalo pria keriting itu aku tahu. Dia Harry yang wajahnya menghiasi lockscreen ponsel milik Jess.
"Hey, beautiful. I'm Louis. And this is Harry." Ucap pria berambut kecoklatan dan bermata biru. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Aku Alexa. Alexandra Wills." Ucapku seraya menjulurkan tanganku. Louis menjabat tanganku. Kemudian aku menjulurkan tanganku pada Harry. Dan Harry menjabat tanganku.
"What a cool name, beautiful. I'm Harry." Ucapnya ramah.
"Thanks, Harry." Ucapku seraya tersenyum.
Seorang pria blonde datang menghampiriku. Dan tersenyum lebar.
"Hi, I'm Niall Horan." Ucapnya seraya menjulurkan tangannya padaku. Ia berbicara dengan aksen yang tidak kukenali. Namun aku suka mendengar aksennya. Aku menjabat tangannya.
"I'm Alexa. Alexandra Wills. Aku suka aksenmu." Ujarku seraya tersenyum pada Niall. Dan melepaskan jabatan tanganku. Niall tersenyum miring.
"Thankyou." Ucapnya seraya mengangkat sebelah alisnya. Empat orang sudah berdiri dihadapanku. Saling bercanda. Tapi Zayn tak tampak batang hidungnya. Tiba – tiba paman Mark meremas pelan bahu kananku. Aku menoleh kepadanya. Ia mengangguk. Aku menaikkan sebelah alisku.
"Dari mana saja kau, Zayn!" ucap Niall. Aku menunduk. 'Oh, Tuhan kuatkan aku.' Batinku. Aku segera memerintah otakku untuk tidak memukul atau menampar Zayn.
"Aku sedang latihan dengan Julian tadi." Ucapnya. Sementara aku masih menunduk dan kini memalingkan wajahku pada Harry, Louis dan Liam yang sedang bercanda.
"Lex?" Oh, tidak. Itu suara Zayn. Paman Mark menoleh kearahku. Aku menoleh kearah Zayn. Zayn tersenyum ketika menatapku. Aku balas tersenyum canggung.
"Oh, kau benar Alexa. Apa kabarmu, Lex?" ucapnya seraya mendekat. Oh, tidak. Zayn memelukku. Aku membalas pelukannya dengan canggung.
"Aku baik, Zayn. Kau sendiri?" tanyaku kemudian menarik diri dari pelukan kami. Niall memperhatikan aku dan Zayn secara bergantian.
"Yea, seperti yang kau lihat, Lex. Ada apa kau kemari?" ucapnya. Aku menggigit bibir bawahku dan menoleh pada paman Mark.
"Jadi kau sudah kenal dengannya? Curang kau, Zayn!" ucap Niall sementara Zayn tersenyum seraya menaikkan kedua alisnya.
"Jadi, siapa sebenarnya gadis cantik ini, Mark?" ujar Liam.
"Seperti yang kalian tahu, ia adalah Alexa. Gadis ini adalah seorang penembak jitu yang tempo hari aku bicarakan. Ia pernah bergabung dengan pasukan Royal Marine yang membuatnya menjadi penembak jitu seperti sekarang. Dan ia adalah keponakanku. Jadi kalian tidak boleh macam – macam padanya." Ujar paman Mark seraya merangkul pundakku. Sementara the boys memandangku tidak percaya. Dan Louis berkali – kali menyebut 'wow' meski tidak bersuara. Zayn menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Kau bahkan terlalu cantik untuk menjadi seorang penembak jitu." Ujar Harry. Aku hanya mampu tersenyum untuk menjawab pernyataan yang Harry berikan. Sementara keempat temannya menaruh wajah heran pada Harry.
"Kau menggoda semua wanita, Idiot." Ucap Niall. Dan kini mereka semua tertawa. Aku ikut tertawa canggung.
"Baiklah kalian punya waktu 30 menit untuk istirahat sebelum makan siang." Ucap Paul. Paul dan Mark kemudian pergi kesatu ruangan yang sepertinya studio musik. Harry dan Louis memilih untuk pergi kesalah satu ruangan disisi kanan. Entah ruangan apa. Liam dan Niall duduk diatas sofa yang tepat berada dibelakang mereka. Sementara Zayn masih berdiri ditempatnya. Menatapku. Aku harus segera kembali ke kamar.
"Lou, aku harus kembali ke kamar, ada yang belum ku bereskan." Ujarku pada Lou disampingku.
"Oh, Oke. Aku – "
"Aku ikut, aku juga ingin pergi kekamar." Ujar Zayn memotong perkataanku dan Lou. 'Tenang Alexa jangan melakukan hal aneh.' Batinku mengingatkan diriku sendiri.
"Kalau begitu mari kita pergi. Aku ingin kebawah mengecek Lux." Ujar Lou. Aku mengangguk kemudian melangkah kearah lift. Zayn mengekor dibelakang. Kami memasuki lift dan tak lama kemudian lift turun satu lantai. Aku tersenyum pada Lou dan melangkahkan kakiku keluar lift. Diikuti dengan Zayn. Zayn berdiri disamping kananku dengan menjaga jarak. Aku sampai didepan pintu kamarku. Setitik kelegaan muncul dibenakku ketika aku berhasil menyentuk kenop pintu kamarku.
"Lex?"
Siapa tuh yang manggil Alexa? Keep reading ya!
Please vomment!xx
KAMU SEDANG MEMBACA
BODYGUARD [ OneDirection ] - ON HOLD-
Fanfiction"ini mendesak. Mereka dalam bahaya." Alexandra Victoria Wills hidup berdua dengan ayahnya sejak kepergian ibunya saat ia berusia 5 tahun. Sejak saat itu Alexa benci menangis. Karna akan mengingatkannya pada kepergian ibunya. Namun seorang pria angg...
![BODYGUARD [ OneDirection ] - ON HOLD-](https://img.wattpad.com/cover/47156597-64-k418881.jpg)