{ e i g h t }

455 56 1
                                        

Ini adalah harinya. Setelah 5 tahun akhirnya aku terpaksa bertemu dengan pria itu. Aku berulang kali mengingatkan hatiku untuk tidak mengalah pada rasa egoku. Dan Dad berulang kali meyakinkanku bahwa semuanya akan baik – baik saja. Bahkan Dad mengambil cuti agar bisa bersamaku hari ini. Sebelum aku pergi untuk menjalankan misi ini.

Latihanku kemarin berjalan lancar. Dilapangan tembak aku bertemu dengan beberapa teman lamaku saat di camp Royal Marine. Dan mereka menyayangkan pengunduran diriku karna menurut mereka belum ada yang pantas menggantikan posisiku. Tidak juga - menurut mereka - untuk orang baru yang sudah mendapat gelar itu selama hampir setahun ini. Aku hanya tersenyum bangga mendengar itu semua. Saat dilapangan, aku berkali kali mendengar Paul dan paman Mark memuji tembakanku yang tidak pernah meleset dan selalu mengenai sasaran. Ternyata tidak seperti yang aku takutkan. Tanganku masih terbiasa dengan senjata – sentaja itu.

"Lex, bawalah ini. Yang suka makan sereal hanyalah kau. Tidak akan ada yang memakan ini jika kau pergi." Ujar Dad membuyarkan lamunanku dengan dua kotak sereal ditangannya.

"Aku bawa satu saja, Dad. Sisanya bisa kau makan." Ujarku. Namun Dad mengerutkan keningnya.

"Bawa keduanya. Masih ada setengah kotak lagi didapur dan aku akan habiskan itu." ujar Dad meletakkan dua kotak sereal di meja dihadapanku. "Aku bingung kenapa kau suka sekali membeli banyak sereal." Ucapnya kemudian berlalu kedapur. Aku hanya tersenyum dan memasukkan dua kotak sereal kedalam sebuah paper bag yang agak besar berisikan beberapa snack yang Dad beli semalam. Dad sungguh tahu apa yang kubutuhkan.

Tak lama kemudian sebuah range rover hitam terparkir didepan rumahku. Dad segera menghampiriku. "Akan kubantu kau membawa barang – barangmu." Kemudian Dad mengangkat koperku dan paper bag berisi snack. Aku menghembuskan nafas panjang. Kemudian menggosokkan kedua telapak tanganku dan mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan. Hal yang selalu aku lakukan ketika gugup.

"Lex, ayo!" ujar Dad. Ia tampak baik – baik saja. Sementara aku merasa aku akan merindukannya dan sedih karna harus meninggalkannya. Aku tersenyum. Mengenakan ransel berukuran sedang berwarna putih kesayanganku dan berjalan keluar. Paul dan paman Mark tersenyum. Dad merangkul pundakku.

"Sudah siap?" tanya paman Mark. Aku mengangguk.

"Bisa kalian menungguku dimobil? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Dad." Ujarku malu seraya tersenyum sambil mengigit bibir bawahku. Paman Mark dan Paul tertawa.

"Tentu. Ayo Mark." Ujar Paul. Kemudian mereka berpelukan singkat dengan Dad. Setelah paman Mark dan Paul masuk kedalam mobil, aku menatap Dad. Dad hanya tersenyum tegar dan aku memeluknya.

"Aku akan merindukanmu, Lex." Ujar Dad. Aku sekuat tenaga menahan airmataku. Agar Dad tidak sedih.

"Aku akan menemuimu jika ada waktu luang, Dad." Ujarku kemudian kami melepaskan pelukan.

"Dad, kau harus berjanji padaku." Ucapku serius seraya menggenggam kedua tangan besar milik Dad. Dad hanya tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya.

"Berjanjilah untuk mengangkat telfonku jika aku menelfon. Berjanjilah menghubungiku jika kau tak sibuk. Berjanjilah untuk tidak terlalu sering makan direstoran cepat saji. Dan berjanjilah untuk menjaga dirimu baik – baik, Dad." Ujarku. Aku merasakan mataku mulai basah namun aku tetap menahannya.

"Aku berjanji. Dan kau harus berjanji untuk tetap menjadi gadis yang baik dan berani." Ujar Dad. Aku mengangguk. Kami berpelukan sekali lagi. Kemudian Aku berjalan menuju range rover milik paman Mark dengan Dad disampingku. Aku mengecup singkat pipi Dad dan memeluknya sekali lagi. Oh, rasanya sulit sekali meninggalkan Dad. Aku dapat merasakan Dad mengecup puncak kepalaku dua kali kemudian melepaskan pelukannya. Aku memasuki range rover hitam milik paman Mark. Menutup pintunya dan membuka jendela untuk melambaikan tanganku pada Dad.

"I love you, Dad." Ujarku. Dad tersenyum lebar.

"I love you, Lex." Ujarnya membuatku tersenyum lebar. Kemudian mobil range rover yang dikendarai paman Mark menjauhi rumahku. Aku menatap ponselku. Mengubah homescreen ponselku yang sebelumnya sebuah quotes yang kuambil dari tumblr dengan fotoku dan Dad saat ulang tahunku tahun lalu. Dad mengundang keluarga Anderson untuk membuat kejutan. Dan jess mengambil sebuah foto saat Dad mengecup keningku. Foto itulah yang kujadikan homescreen ponselku.

"Uncle Mark, apa aku boleh meminta satu permintaan lagi?" ujarku berusaha menahan air mataku. Aku tak dapat melihat ekspresi paman Mark karna ia terus fokus kejalan. Namun Paul menoleh kearahku.

"Apa yang kau butuhkan lagi, Lex?" tanya paman Mark dengan lembut. Aku menghembuskan nafas panjang kemudian kembali menatap homescreen ponselku.

"Tolong jangan biarkan apapun terjadi pada Dad. Kalau bisa, jangan ada yang tahu jika Rob adalah ayahku. Aku tidak ingin terjadi apa – apa padanya." Ujarku seraya menghapus setetes air mata yang terjun bebas dari mataku. Aku dapat melihat Paul menatap kearah paman Mark.

"Aku akan mengusahakan yang terbaik, Lex." Ujar paman Mark.

Aku tersenyum lega. Kemudian memasukkan ponselku kedalam tas.

Aku tahu, sejak hari ini kehidupanku akan banyak berubah..

Fyi, gue nulis chapter ini nangis! Kalo kalian gimana?

Vomment ya!xx

BODYGUARD  [ OneDirection ] - ON HOLD-Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang