Sudah satu minggu Yura kembali bekerja di rumah sakit. Hubungannya dengan Jimin masih berjalan dengan baik meski Yura masih menjaga batasan membangun tembok yang tinggi. Walau Pria itu selalu mengomel dan meneror ponsel Yura jika Yura lama membalas pesannya. Namun, Yura menanggapinya santai.
Padahal sebelumnya Jimin tak pernah bersikap seperti itu dengan wanita yang pernah singgah di hatinya. Justru mereka yang akan tantrum jika Jimin lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Dan Jimin tak memusingkan hal tersebut. Jika wanita itu bosan menunggu dan meninggalkannya, tak masalah bagi Jimin. Menghubungi wanita terlebih dahulu adalah hal yang tabu bagi Jimin. Akan tetapi, hal itu tak berlaku untuk Yura. Entah mengapa Jimin begitu lemah jika berurusan dengan perawat itu.
Jimin tak ingin membiarkan Yura lolos dari bidikannya. Ia harus mendapatkan perawat yang sudah mengacaukan hati dan pikirannya. Bahkan wanita itu sudah merubah sikapnya yang dingin menjadi pria bulol di hadapan Yura.
Setelah Jimin menyatakan cintanya kala itu. Yura tak langsung memberikan jawaban hingga sekarang. Wanita itu masih mempertimbangkan keputusannya. Jarak yang terpampang jelas di depan mata membuat Yura ragu. Meski ada rasa nyaman saat bersama Jimin. Tapi, Ia juga mengingat bagaimana Minji yang terlihat ingin mendekati Jimin. Dibandingkan dengannya, Minji jauh lebih setara dengan Jimin. Belum lagi tanggapan para fans, mungkin saja mereka akan lebih mendukung Jimin dengan Minji.
Yura butuh waktu untuk memikirkan semua itu.
Pulang dari dinas, Yura menyempatkan diri berbelanja sayur di salah satu supermarket. Yura berjinijit nampak kesulitan untuk mengambil sereal yang berada dirak paling atas. Sebuah tangan terulur membantu Yura mengambil dus sereal itu.
"Oppa?"
Yunki menampilkan senyum gummynya, "Kau sendirian?"
Yura mengangguk, "Wah banyak sekali belanjaanmu?" Yura melihat troli milik Yunki sudah terisi penuh hingga menggunung dengan berbagai macam snack, minuman, hingga sayur dan daging.
"Iya, nanti malam ada pesta kecil-kecilan di apartemenku. Datanglah, aku menunggumu. Pasti akan tambah meriah jika kau datang."
"Aku tidak enak jika bergabung dengan kalian. Aku hanya perawat biasa, rasanya tak pantas bergaul dengan idol papan atas seperti kalian," tolak Yura dengan halus. Ia tak ingin menjadi canggung berada di tengah-tengah para superstar dan orang-orang berpengaruh di bidangnya.
Sedangkan ia hanyalah remahan keripik jagung.
"Jangan seperti itu. Kita semua setara, sama-sama manusia. Jabatan hanya sementara, semua akan ada masanya. Aku memilih teman bukan karena embel-embel jabatan atau apapun. Tapi dari ketulusannya, tanpa memandang aku siapa. Dan kau salah satunya. Aku senang bisa mengenalmu, Yura. Maka aku akan lebih senang jika kau bersedia datang."
Berbeda dengan Jimin yang mendekati Yura dengan cara ugal-ugalan. Sepertinya Yunki memilih cara halus dan berharap akan tepat sasaran.
"Nak, apa di apartemen barumu sudah lengkap alat kebersihannya?" seorang wanita paruh baya mendekat dari balik punggung Yunki.
"Sepertinya belum, Eomma. Oh ya ... Eomma kenalkan ini teman Yunki." Yunki memperkenalkan Yura kepada ibunya. Sebuah kesempatan bagi Yunki untuk mendapat poin plus agar Yura berpikir bahwa berteman dengannya tak ada yang menjadi penghalang.
Yura membungkuk sopan, memperkenalkan diri kepada nyonya Min, "Saya Yura, Yeosanim ."
Nyonya Min tersenyum ramah. Netranya beralih memandang putranya. Sebagai Ibu, ia paham sekali dengan ekspresi yang tergambar di wajah anaknya. Baru kali ini nyonya Min mendapati putranya tersipu malu, setelah mengenalkan seorang wanita kepadanya
KAMU SEDANG MEMBACA
𝓜𝔂 𝓟𝓪𝓽𝓲𝓮𝓷𝓽 || 𝐏𝐣𝐦
Fanfiction❗ FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA ❗ Satu perawat, satu idol, satu ruang perawatan-dan segalanya berubah. Kim Yura tak pernah menyangka pasiennya kali ini adalah Han Jimin, idol terkenal dengan sikap dingin. Tapi seiring waktu, perhatian kecil dan ca...
