❗ FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA ❗
Satu perawat, satu idol, satu ruang perawatan-dan segalanya berubah.
Kim Yura tak pernah menyangka pasiennya kali ini adalah Han Jimin, idol terkenal dengan sikap dingin. Tapi seiring waktu, perhatian kecil dan ca...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
💉💉💉
Suara benda jatuh dari arah dapur terdengar nyaring. Jimin spontan menoleh, detak jantungnya bertambah cepat tanpa alasan yang jelas. Ia bergegas menuju sumber suara itu, langkahnya diikuti oleh Minji dan kelima anggota Sevensoul lainnya.
Begitu sampai di dapur, aroma teh hangat bercampur dengan bau samar kaca pecah menyambut mereka. Pecahan gelas berkilau di bawah cahaya lampu, dan di tengah kekacauan kecil itu, Yura sedang berjongkok, hati-hati memunguti serpihan bening itu bersama salah satu teman grupnya.
"Apa kau terluka?" Jimin tampak khawatir dengan Yura. Jimin menarik tangan Yura untuk memeriksa setiap inci kulitnya, memastikan jika tak ada goresan luka.
"Dia seorang perawat, bukan? Pasti bisa mengobati lukanya sendiri. Kau tak perlu khawatir, Oppa," kata Minji datar, meski ada nada getir yang sulit disembunyikan.
"Dia benar, Jim. Aku tak apa," ujar Yura pelan. "Gelasnya tadi tak sengaja tersenggol." Tangannya yang sejak tadi digenggam Jimin ia tarik perlahan, seolah ragu antara menahan atau melepaskan.
Minji segera menarik tangan Jimin. "Ayo, ke ruang tamu," katanya cepat.
Minji menggenggam pergelangan tangan Jimin dan menariknya pelan. Jimin tidak melawan; langkahnya mengikuti arah Minji, seolah kehilangan kendali setelah memastikan Yura baik-baik saja. Satu per satu member lain ikut berpindah ke ruang tamu, meninggalkan jejak ketegangan yang masih samar di udara.
Yura memperhatikan dari jauh, bagaimana Minji menggandeng dan bergelantung manja pada lengan Jimin. Ada senyum tipis di bibirnya, tapi matanya tak bisa berbohong — tatapan itu sendu, seperti menahan sesuatu yang tak semestinya muncul.
Entah kenapa, dadanya terasa diremas saat melihat pemandangan itu. Ia menggeleng pelan, berusaha menepis perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. "Aneh... kenapa aku seperti ini?" bisiknya nyaris tak terdengar. "Kalau mereka terlihat begitu dekat, itu bukan urusanku. Lagi pula, mereka memang cocok... apalagi berasal dari dunia yang sama."
Namun meski sudah berkata begitu, hatinya tetap tak mau tenang.
Pria yang gemar memakan jeruk dan berkulit putih — orang yang tadi membantu Yura — ternyata memperhatikan apa yang Yura lihat dari jauh. Ia menyingkirkan sampah pecahan kaca dengan cepat, lalu menatap Yura sejenak sebelum mengulurkan tangannya.
"Tanganku berdarah... bisakah kau obati?" ucapnya, menyodorkan telapak tangan yang tergores dan mengeluarkan darah segar.
Yura menatap tangan itu, "Mwo ... Apa kau tak berhati-hati?"
Tanpa menunggu jawaban, ia segera bergerak mencari kotak P3K, mengikuti petunjuk Jimin yang sebelumnya memberitahunya tempat obat-obatan itu biasa disimpan. Tangannya bergerak cekatan, tapi hatinya tetap sedikit tegang, memperhatikan pria itu yang menahan sakit dengan wajah tenang.