10. Save

81 13 5
                                        

Setelah selesai memeriksa jadwal pekerjaannya untuk Minggu depan, Jimin menghela napas lega

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah selesai memeriksa jadwal pekerjaannya untuk Minggu depan, Jimin menghela napas lega. Ia yakin kondisinya sudah cukup membaik dan minggu depan ia bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

Tak lama kemudian, sebuah notifikasi muncul di ponselnya—pesan dari Minji yang menanyakan keadaannya dan mengingatkannya untuk menjaga kesehatan. Jimin membaca pesan itu sebentar, lalu membalas singkat, hanya sekadar mengucapkan terima kasih atas perhatiannya.

Jimin mematung di depan jendela, pandangannya menyapu jalan yang perlahan mulai gelap diterpa senja. Setiap detik yang berlalu terasa semakin berat di dadanya. Ia mengetuk-ngetuk ponsel di tangan—kebiasaan yang muncul setiap kali rasa cemas mengambil alih.

 Ia mengetuk-ngetuk ponsel di tangan—kebiasaan yang muncul setiap kali rasa cemas mengambil alih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Seharusnya dia sudah pulang..." gumamnya pelan.

Ia mencoba menelepon sekali lagi. Nada sambung terdengar, panjang, namun tetap tanpa jawaban. Jimin menggigit bibir bawahnya, menahan rasa panik yang mulai merayap. Yura bukan tipe yang menghilang begitu saja, apalagi tanpa memberi kabar.

Ia melangkah ke ruang tamu dan menatap pintu apartemen seakan berharap Yura muncul kapan saja. Namun koridor di luar tetap sepi. Suara-suara dari unit tetangga pun seperti meredup, menyisakan ketenangan yang justru terasa mengancam.

"Apa terjadi sesuatu di jalan? Atau... apa dia merasa tidak enak badan?" Jimin memutar kemungkinan demi kemungkinan, namun tak ada satu pun yang bisa menenangkan pikirannya.

Ia mengambil jaketnya dengan gerakan gelisah.

"Tidak bisa diam saja," ucapnya lirih.

Dengan napas yang terasa berat, Jimin melangkah keluar dari apartemen, bersiap mencari Yura sebelum rasa cemas itu berubah menjadi ketakutan yang tak bisa ia kendalikan lagi.

.
.
.

"Kenapa kau terlihat ketakutan?" suara itu muncul tepat setelah Yura tanpa sengaja menabraknya.

"Ada yang membuntutiku," bisik Yura, hampir tak terdengar. Wajahnya pucat, matanya gelisah menatap ke segala arah. Kepanikan itu tak bisa ia sembunyikan lagi. Meski begitu, bertemu seseorang—siapa pun—memberinya sedikit rasa lega.

𝓜𝔂 𝓟𝓪𝓽𝓲𝓮𝓷𝓽  || 𝐏𝐣𝐦Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang