11. Dia lagi

51 10 3
                                        

Sejak kejadian Yura dibuntuti seseorang, Jimin berubah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sejak kejadian Yura dibuntuti seseorang, Jimin berubah. Protektif—lebih dari biasanya. Setiap gerak Yura tak luput dari perhatian Jimin. Dan Yunki? Ia justru seperti menemukan alasan baru untuk sering berada di apartemen itu. Terlalu sering, bahkan, hingga Jimin memicingkan mata penuh curiga karena tak tahu apa yang tengah Yunki rencanakan.

Jimin duduk berhadapan dengan Yunki, namun arah pandangan Yunki jelas bukan pada dirinya. Mata pria itu terus mengikuti Yura yang mondar-mandir dari dapur ke meja makan. Saat Yura kembali ke dapur untuk mengambil minuman, mata Yunki sekali lagi tidak beranjak dari punggungnya.

Jimin berdeham keras. "Apa kau melihat hantu yang menempel di tubuh Yura?" tanya Jimin, bersedekap sambil menatap Yunki sinis.

Seketika Yunki mengalihkan pandangan, memasang wajah setenang mungkin. "Aku curiga, yang membuntuti Yura waktu itu bukan sasaeng. Tapi seseorang yang memang ingin mendekatinya."

Ucapan itu mengalir begitu saja—cara halus untuk menghindari pengakuan bahwa ia memang sedang... terpikat. Wajah Yura yang natural tanpa riasan, dengan rambut dikuncir kuda, entah kenapa selalu berhasil mencuri perhatiannya.

Jimin merapatkan tubuh ke ujung meja, menyipitkan mata sambil memikirkan pendapat Yunki. Ia mengelus dagu, lalu menoleh pada punggung Yura yang sibuk menuang minuman.

"Tak bisa dipungkiri kalau Yura memang memikat," gumam Jimin berat. "Tapi siapa orang itu? Pengecut sekali dia."

"Entahlah," jawab Yunki. "Semoga tak terulang. Aku akan mencari penjaga untuk Yura."

Jimin menoleh cepat, menatap Yunki dengan tatapan menelanjanginya. "Tunggu. Kau tidak pernah seperti ini kepada orang yang baru kau kenal, Hyung. Kenapa kau seolah... perhatian sekali? Apa kau—"

Belum sempat Jimin menyelesaikannya, Yura datang membawa nampan berisi tiga gelas. Obrolan itu langsung terhenti. Kedua pria itu saling melirik—curiga, terselubung, dan jelas tidak ingin Yura tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan.

Yura memilih duduk di sebelah Jimin. Gerakan kecil itu membuat Jimin tersenyum samar, merasa seperti mendapatkan kemenangan kecil. Yunki hanya memandang santai; tak masalah baginya. Duduk berseberangan pun ia tetap bisa menatap Yura sepuasnya.

"Hm..." Yunki mengangguk sambil mengunyah bulgogi, matanya berbinar. "Rasanya seperti sesuatu yang dirindukan." Ini pertama kalinya Yunki mencicipi masakan Yura, dan reaksinya jujur.

Jimin memandangnya tajam, mencoba menebak apakah itu hanya pujian biasa atau ada makna tersembunyi.

Yunki merasakan tatapan itu dan buru-buru meluruskan. "Hanya ungkapan saja."

Jimin mengangguk lega. "Makanya berat badanku bertambah. Selain Yura merawatku dengan baik, masakannya juga sangat lezat." Dengan halus membalas pujian Yunki—tak mau kalah.

Yura tersenyum, "Syukurlah kalian menyukainya. Ayo habiskan."

"Oh ya... besok jadwal cek up-mu. Setelah itu tugas ku sebagai perawat pribadimu selesai," lanjut Yura.

𝓜𝔂 𝓟𝓪𝓽𝓲𝓮𝓷𝓽  || 𝐏𝐣𝐦Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang