12. Tak terduga

52 10 2
                                        

Di tengah latihan, fokus Jimin tiba-tiba hilang begitu saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di tengah latihan, fokus Jimin tiba-tiba hilang begitu saja. Musik masih mengalun, gerakan para member masih selaras, tetapi pikiran Jimin berlari entah ke mana. Ada sesuatu yang mengganjal. Kuat, mengusik, dan membuat dadanya terasa tak nyaman.

Entah mengapa wajah Yura tiba-tiba muncul di benaknya—dan rasa cemas itu menghantam tanpa alasan yang jelas.

"Jimin, fokus!" tegur pelatih tari.

Jimin tersentak, namun gerakannya tetap kacau. Beruntung latihan selesai lebih cepat dari jadwal karena ada evaluasi yang harus dibahas untuk koreografi berikutnya.

Saat mengambil ponselnya, Jimin membeku.

Beberapa panggilan tak terjawab.
Dari Yura.

Suatu rasa dingin menyapu tengkuknya. Ia langsung menekan tombol telepon. Nada sambung. Namun ponsel Yura tidak mengangkat.

"Angkat, Yura... tolong angkat," gumamnya gelisah.

Tak ada jawaban.

Tanpa pikir panjang, Jimin keluar dari ruang latihan. Ia berlari kecil menuju studio Yunki. Baru setengah perjalanan, ia berpapasan dengan Yunki yang terlihat terburu-buru, wajahnya pucat tidak seperti biasanya.

"Ada apa? Terjadi sesuatu pada Yura?" tanya Jimin tajam. Suaranya menunjukkan kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan.

Yunki menggeleng, tapi rautnya jelas khawatir. "Dia tidak ada di dalam. Mungkin keluar sebentar untuk berkeliling? Keamanan gedung ini cukup ketat, tidak ada yang bisa masuk tanpa kartu identitas." Meski berkata begitu, dari sorot matanya Jimin tahu Yunki merasakan firasat yang sama.

Jimin menekan nomor Yura sekali lagi. Namun kini malah terdengar suara otomatis yang membuat jantungnya jatuh ke perut.

"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi."

Ponsel Yura mati.

Ketegangan di antara mereka meningkat seketika.

Tanpa berdiskusi panjang, seolah berbagi kekhawatiran yang sama, keduanya langsung berpencar untuk mencari.

Yunki berlari menuju rooftop—tempat yang sering jadi pelarian untuk mencari udara segar. Jimin bergegas menuju cafeteria. Hari ini Yura mengenakan sweater orange. Warna yang cukup mencolok. Sangat mudah dikenali.

Namun setelah menyisir seluruh ruangan...
Tidak ada.

Tidak ada Yura.
Tidak ada bayangan biru.
Tidak ada tanda-tanda kehadirannya.

Jimin meremas ponselnya dan segera masuk lift, menuju lobby. Wajahnya sudah tak bisa menyembunyikan rasa panik. Yunki muncul beberapa detik kemudian. Sama-sama terengah.

"Ada yang bernama Yura keluar lewat sini?" Jimin langsung bertanya pada petugas keamanan.

Petugas itu mengangguk. "Nona itu keluar sekitar... tiga puluh menit lalu. Dia mengembalikan kartu identitas pengunjungnya."

𝓜𝔂 𝓟𝓪𝓽𝓲𝓮𝓷𝓽  || 𝐏𝐣𝐦Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang