❗ FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA ❗
Satu perawat, satu idol, satu ruang perawatan-dan segalanya berubah.
Kim Yura tak pernah menyangka pasiennya kali ini adalah Han Jimin, idol terkenal dengan sikap dingin. Tapi seiring waktu, perhatian kecil dan ca...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sejak awal, Yura selalu membantu Jimin memakaikan pakaian, memastikan setiap penyangga tangan terpasang dengan rapi. Rutinitas itu biasanya terasa profesional dan biasa saja, bahkan membuatnya nyaman—merasa dibutuhkan.
Tapi kali ini... entah mengapa, rasanya berbeda. Hatinya berdebar kencang begitu matanya tak sengaja menangkap dada polos Jimin saat ia akan memakai kaos. Tubuhnya seakan menegang, dan tangan Yura yang sebelumnya stabil kini terasa lebih berat saat harus menahan diri untuk tetap fokus.
Ia menarik napas pelan, mencoba mengalihkan pandangan, tapi detak jantungnya tak bisa dibohongi. Perasaan yang tiba-tiba muncul itu membuatnya sadar: tugas yang biasanya sederhana kini terasa penuh dengan ketegangan yang asing.
Yura menunduk sejenak, mengatur napasnya, dan menegaskan pada dirinya sendiri: Tetap profesional. Hanya membantu Jimin, itu saja.
Meski berusaha menenangkan diri, matanya tetap sulit lepas dari Jimin. Sesuatu di dalam hatinya bergetar lebih kencang dari biasanya, membuatnya merasa aneh dan sedikit panik.
Yura menggeleng pelan, memejamkan mata, dan bergumam dalam hati, Sadarlah, Yura. Singkirkan pikiran kotormu! Kenapa jadi seperti ini? Kau sudah tak waras—hanya karena abs itu...
Napasnya bergetar, dan ia menarik diri sedikit, mencoba mengembalikan jarak yang terasa tiba-tiba begitu dekat. Namun, entah kenapa, hati Yura menolak untuk tenang sepenuhnya. Pikirannya seakan tengah bergelut mempertahankan kewarasannya.
Jimin menatap Yura sejenak saat ia menunduk, mengatur napasnya. Ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya kali ini—tidak seperti biasanya yang tenang dan fokus saat membantu.
"Hm...?" gumam Jimin pelan, namun cukup untuk membuatnya menahan senyum kecil. Ia tak bisa menutup mata dari kegelisahan halus yang terpancar dari gerak tubuh Yura; cara tangan Yura sedikit gemetar saat menahan baju, atau napasnya yang terdengar lebih berat dari biasanya.
Jimin menunduk sedikit, berpura-pura menyesuaikan posisi penyangga tangannya, tapi matanya tetap diam-diam mengamati Yura. Sebuah senyum jahil terukir di wajahnya.
"Jika ingin berteriak kegirangan karena terpesona dengan abs-ku, aku tak melarangnya. Aku sudah biasa menanggapinya," godanya, matanya menatap pipi Yura yang tiba-tiba memerah. "Seperti para fans-ku ketika melihat abs-ku."
Yura terdiam, mata membulat, wajahnya memanas. Ia memutar bola matanya, mencoba menahan rasa malu dan jengah. Perkataan Jimin seakan menjadi tamparan ringan yang mengembalikan kewarasannya.
"Aku bukan fans-mu," ujarnya dengan nada setengah kesal, setengah malu. "Abs seperti itu jangan kau banggakan. Masih banyak pria yang lebih kekar darimu."
Jimin tertawa pelan, mengangguk sambil menahan senyum. "Baiklah, baiklah. Tapi jangan berpura-pura tidak terpesona, Yura. Aku tahu kau memperhatikan."
Ia melangkah selangkah lebih dekat, hingga napasnya yang hangat hampir menyentuh kulit wajah Yura. Dengan gerakan lembut, Jimin menyelipkan sejumput rambut Yura ke belakang telinganya. Suaranya terdengar lembut dan menggoda saat berbisik tepat di dekat telinga Yura, "Apa kau ingin... meraba bulan?"