❗ FOLLOW DAN VOTE SEBELUM MEMBACA ❗
Satu perawat, satu idol, satu ruang perawatan-dan segalanya berubah.
Kim Yura tak pernah menyangka pasiennya kali ini adalah Han Jimin, idol terkenal dengan sikap dingin. Tapi seiring waktu, perhatian kecil dan ca...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
💉💉💉
Entah apa yang ada di benak Jimin saat ia tiba-tiba saja mengungkapkan bahwa, ia tak ingin menjauh dari Yura ketika masa perawatannya telah usai.
Apakah itu sebagai pernyataan cintanya? Secepat itukah?
Atau hanya sebatas teman yang ingin menjadi lebih akrab?
Jimin pun tak mengerti kenapa hatinya selalu berdebar kencang kala Yura berada di dekatnya. Padahal baru dua hari mereka tinggal bersama untuk menjadi perawat pribadi pria super star itu.
Hari-hari Yura di kediaman Jimin tak hanya diisi dengan rutinitas merawat luka fisik sang pria. Ia juga memasak, menyiapkan makanan, menemaninya berbincang, bahkan membantu saat Jimin kesulitan sekadar untuk bangun atau berjalan.
Lebih dari itu, Yura menjadi pendengar yang tenang—seseorang yang mau menyimak setiap keluh kesah dan cerita yang keluar dari hati Jimin. Kadang, ia tetap duduk di sisinya hingga Jimin tertidur karena lelah bercerita.
Sejak saat itu, kesepian yang dulu mengisi apartemen Jimin perlahan memudar. Meski Yura melakukan semua itu karena tugas, bagi Jimin, keberadaannya telah membuat tempat itu terasa hidup kembali.
Kini Yura tahu satu hal: Jimin bukan benar-benar pria dingin seperti yang banyak orang kira. Ia hanya menjaga jarak dari mereka yang belum ia percaya. Namun, saat tembok itu runtuh, yang tampak adalah sosok hangat dengan sisi rapuh yang jarang ia tunjukkan.
Di hadapan Yura, Jimin berani berkata bahwa dunia yang ia jalani begitu melelahkan — harus selalu sempurna di mata fans, menutupi setiap cela, seolah ia bukan manusia yang boleh lelah atau salah.
Padahal, Jimin juga ingin hidup seperti orang lain. Ingin bebas melakukan hal-hal kecil tanpa harus bersembunyi di balik nama besarnya. Dan hanya Yura yang mampu melihatnya apa adanya, bukan sebagai idol, melainkan sebagai dirinya sendiri.
Meski perlahan mulai memahami sisi lain Jimin, Yura menolak untuk terbawa oleh perasaannya sendiri. Ia tak ingin menyimpulkan apa pun terlalu cepat. Toh, baginya, menjalin kedekatan dengan seorang idol papan atas saja sudah terasa seperti hal yang mustahil—apalagi berharap lebih dari itu.
Jangan berekspektasi berlebihan, ia mengingatkan dirinya sendiri. Hiduplah di saat ini, bukan di masa depan yang tak pasti.
Kini, mereka hanya dua orang yang terikat oleh pekerjaan: seorang pasien dan perawat pribadinya. Tidak lebih. Dan Yura berusaha meyakinkan diri bahwa semua ini akan berakhir ketika tugasnya selesai—seperti yang seharusnya.
💉💉💉
Semua masakan buatan Yura kini menjadi favorit Jimin. Setiap suapan selalu habis tanpa sisa.
Pagi ini, hidangan sarapan sudah tersaji rapi di meja. Jimin menarik napas dalam, menghirup aroma yang menggelitik hidungnya. Nafsu makannya meningkat seketika, dan pipinya terlihat sedikit menggembung—bukti nyata bahwa Yura benar-benar peduli pada asupan gizinya.