Previous :
"Aku, rindu kamu..."
Gelengan pelan itu Veranda tunjukkan. Ia mengusap air matanya sendiri yang bercampur dengan air hujan.
"Jangan rindu, itu sangat menyakitkan. Biar aku saja yang rindu. Biar aku saja yang menikmati sakitnya..." lirih wanita itu, menyentuh lembut wajah Kinal. Ia dekatkan wajahnya, menyatukan kening mereka.
"Kumohon, jangan kamu lakukan hal yang mengerikan lagi. Jangan siksa aku dengan melihatmu terluka seperti ini. Jangan perjuangkan aku lagi sejauh ini. Aku, tidak seberharga itu. Aku hanya wanita murahan. Aku, kupu-kupu malam yang sayapnya sudah tak pantas untuk kamu puja lagi..."
Kinal hanya menarik sudut bibirnya, tersenyum lagi. Yang ada dalam benaknya saat ini adalah Veranda hanya bicara omong kosong.
"Aku, cinta kamu. Selamanya..."
"Maafkan aku..."
Dua kata terakhir itu begitu lembut terdengar, tapi mampu meruntuhkan dan mematikan seluruh persendian tubuh Kinal. Sehancur hatinya.
Bersamaan dengan perginya rintik hujan, Veranda pergi meninggalkannya disana. Masih dengan bekas luka yang menganga begitu lebar dalam hatinya...
"Aku, juga mencintaimu. Selamanya..."
=================
Hawa dingin yang menyeruak di udara sore itu terhirup begitu sejuk. Namun perih yang dirasa disekujur tubuh, tak membuat Kinal bahagia dengan redanya hujan. Mati rasa, Kinal menyerah untuk bangkit, keputusasaan mendalam yang ia rasa begitu menyesakkan dada.
Sepasang mata itu kembali terpejam dengan lemahnya. Dalam hati ia berharap, semoga saja ada burung bangkai yang mendekat dan mencabik seluruh tubuhnya. Ia yakin, itu tidak akan terasa lebih menyakitkan dari bagaimana Veranda meremukkan hatinya beberapa waktu lalu.
Ah, Veranda. Wanita itu, mengapa selalu ada dalam benaknya? Kinal tertawa sendiri, perutnya sakit saat harus menahan tawanya.
BRAK!
"Aww!"
Kinal memekik kesakitan ketika beberapa benda-benda cukup keras menerjangnya. Seseorang yang berdiri dihadapannya menatapnya tajam setelah melemparkan benda-benda itu padanya.
Kinal mengerjapkan kedua matanya berulang kali setelah menyingkirkan benda-benda yang mengenainya. Kanvas, kuas-kuas lukis, palet, dan cat? Gadis itu mengerutkan keningnya. Dan seketika kedua matanya membulat sempurna ketika melihat siapa yang datang.
Seseorang yang sudah lama tak pernah lagi Kinal temui. Belasan tahun lalu, pria paruhbaya itu, yang pertama kali, mengajarkan Kinal, bagaimana mencintai lukisan.
"Om Rudy?!"
Pria itu tersenyum sinis, dari tatapannya, tampak ia sangat marah melihat Kinal yang seperti kehilangan nyawanya. Gadis itu menyedihkan, lemah tak berdaya, penuh luka.
"Anak badung!" bentak pria yang Kinal panggil Rudy itu. Pria itu berjongkok, memungut salah satu kuas yang tergeletak ditanah. Ia tersenyum lembut, menyodorkan kuas itu pada Kinal.
"Sudah cukup main-mainnya, Kinal. Hargai hidup kamu..."
Kinal menunduk dalam, senyum miris tercetak dari sudut bibirnya yang lebam. Kuas itu ia raih, dan Kinal terpejam sejenak. Nafas pelan ia tarik, Kinal mendongak, menatap langit yang keabu-abuan. Dihiasi oleh untaian pelangi yang turun ke bumi. Tak seindah binar mata Veranda memang, tapi secercah harapan harus ia raih. Hidup dengan hati yang telah hancur berkeping-keping, mungkin pilihan pahit yang termanis untuknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Painter and Butterfly
FanfictionHanya melukis yang kutahu. Andai melukiskan cinta, yang kutahu hanya dirimu. Jadi cinta yang kutahu adalah dirimu. Wahai kupu-kupu malamku. Kemarilah, dan kau kujadikan bidadariku. Aku mencintaimu, Veranda.... Oh Nona pelukis, hidupku gelap walau te...
