Previous :
"Michelle, aku sedang nggak ingin mengobrol. Kamu bisa pergi sekarang untuk istirahat, sudah larut malam. Nggak baik kalau kamu tidur terlalu malam..."
Michelle menggelengkan kepalanya, ia merubah posisi duduknya lebih condong dan menghadap ke arah Kinal. Gadis berwajah oriental itu memandangi Kinal yang masih asyik termenung memandang langit dan menyesap bir kalengan di tangan kirinya.
"Kak Kinal, aku ingin tanya. Dan ini soal, Kak Veranda..."
Kinal menegang saat itu juga, kepalanya menoleh pelan pada gadis yang duduk disebelahnya. Matanya menatap tak percaya pada Michelle. Jantungnya berdebar kencang, dan Kinal mulai merasa takut akan terkaan-terkaan yang terlintas dalam kepalanya.
"Iya, tentang Kak Veranda. Orang yang tadi pagi mencari-cari Kak Kinal..."
"Boleh aku bertanya tentang dia?"
"Tentang Kak Veranda..."
=================
Deru angin malam itu membuat bulu kuduk Kinal berdiri. Tubuhnya tiba-tiba kaku setelah mendengar sebait pertanyaan yang keluar dari mulut Michelle. Kinal menarik dirinya untuk lebih jauh dari gadis yang terus memberinya tatapan penuh tanya sejak tadi.
"Dia tadi sudah ketemu sama Kak Kinal kan?"
Kinal melirik sekilas pada Michelle yang menatapnya penasaran. Ia mengangguk pelan dan kembali meneguk minuman kalengnya yang sudah tidak lagi dingin.
"Waktu pertama kali liat lukisan Kak Kinal yang baru dipajang itu, dia langsung kaget dan nanyain siapa pelukisnya. Sepertinya dia kenal sama lukisan itu..."
Kinal tersedak oleh minumannya sendiri, buru-buru ia meneguk habis satu kaleng penuh yang baru dibukanya itu agar bisa menutupi kebohongannya. Dengan geram, tangannya meremukkan kaleng minuman itu dan melemparnya pada tong sampah disebelah kursi panjang tempatnya duduk bersama Michelle.
Gadis yang duduk disamping Kinal itu mengernyitkan dahinya saat melihat gerak-gerik Kinal yang aneh menurutnya. Tidak biasanya Kinal tampak secemas ini dihadapannya.
Menyadari Michelle menatapnya curiga, Kinal mulai membenahi sikapnya dan melenyapkan semua kegugupan yang ia rasakan. Gadis dengan rambut pendek diikat itu kembali duduk tegak dan menegaskan rahangnya, menunjukkan ketenangan pada wajahnya yang manis.
"Nggak cuma lukisannya. Siapa pelukisnya pun dia kenal..." ujar Kinal tanpa ragu. Bibirnya yang memerah sehabis menenggak habis minuman kalengnya itu membentuk sebuah senyuman tipis yang menggetarkan hati sosok disampingnya.
"Lukisan itu pernah dibeli Veranda. Tapi karena banyak hal yang terjadi, lukisan itu pada akhirnya bisa balik lagi ke tangan aku..."
"Karena lukisan itu berarti buat Kak Kinal makanya Kak Kinal ambil lagi lukisan itu, ya kan?"
Kinal hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Michelle. Ia menggelengkan kepalanya pelan, kemudian menghela nafas penuh. Ditatapnya Michelle lekat-lekat sambil tersenyum.
"Terkadang, ada banyak hal yang pernah kita lewati tapi tak perlu orang lain untuk bisa memahaminya. Bukan karena itu rahasia atau terlalu berarti untuk kita bagi, tapi kadang semua hal itu hanya akan terasa sangat manis jika kita sendiri yang mengetahuinya..." ungkap Kinal sambil mengusap pelan kepala Michelle sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Michelle yang termangu di tempatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Painter and Butterfly
FanfictionHanya melukis yang kutahu. Andai melukiskan cinta, yang kutahu hanya dirimu. Jadi cinta yang kutahu adalah dirimu. Wahai kupu-kupu malamku. Kemarilah, dan kau kujadikan bidadariku. Aku mencintaimu, Veranda.... Oh Nona pelukis, hidupku gelap walau te...
