Purnama cerah, lenyap ditelan gelap langit beserta mendungnya. Cecar gerimis bisingkan telinga, isak tangis kesedihan akan rasa kehilangan. Tiga insan beserta tetesan air mata kedua hati yang saling memiliki, dan satu lagi yang terluka oleh duka cipta Sang Kuasa. Perihnya hidup, menahan rindu, meluaskan luka, meninggalkan sakit.
"Dalam hidup aku, mencintai kamu adalah luka yang paling menyenangkan. Dan aku, menyukainya persis aku menyukaimu sampai mati..."
- Painter and Butterfly, Chapter 13 -
=================
Persis setelah membaca pesan singkat penuh misteri dari Kinal, Nobi termenung di kamar rahasia sahabat karibnya itu. Membawa sekaleng minuman dingin kesukaan Kinal, sembari memandang pemandangan hujan di luar melalui jendela.
Ketirnya minuman yang dinikmati, membuatnya sesekali melirik kaleng minuman itu. Sepintas kenangan bagaimana kisah Kinal bisa sangat menyukai minuman itu, sangatlah lucu. Persis dengan bagaimana Kinal bisa jatuh cinta setengah mati pada gadis yang tidaklah seorang gadis lagi, bernama Veranda.
Nobi menyesap bau hujan yang bertemu dengan tanah. Dalam kepalanya, terlintas imaji sosok sahabatnya tengah tersenyum di suatu tempat. Entah dimana itu, Nobi harap sosok itu akan selalu bahagia di hidupnya.
"Tuhan akan selalu menjaga kamu. Meskipun Ia hanya menjagamu hanya untuk bisa mengantarkanmu ke neraka. Aku tau, kamu sosok yang kuat. Kinal..."
=================
"Apa kamu bilang?"
Istri tuan Rudy tertunduk sedih ketika mendengar reaksi suaminya setelah ia menyampaikan kabar duka dari salah seorang karyawannya.
"Kamu yakin? Ini bukan kabar main-main kan? Aku nggak bisa memafkan siapa pun yang menyebar berita semacam ini. Dan kalau memang benar, sekarang dia dimana?"
"Michelle sendiri yang kirim orang buat sampaikan kabar ini. Dia shock berat, nggak bisa ngasih kabar lewat telepon atau sekedar kirim pesan. Aku juga nggak tau, kenapa bisa begini. Padahal kita baru aja..."
"Sudah! Kita siap-siap ke rumah sakit sekarang..." ujar tuan Rudy, pria itu mengelus dadanya. "Ya Tuhan..."
Nyonya Rudy mengangguk menurut, ia berbalik untuk meninggalkan suaminya yang masih berdiam diri di ruangan kerjanya. Tetapi langkah wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu tertahan sejenak saat tuan Rudy menepuk pelan pundaknya.
"Jangan lupa, ajak Nobi. Juga hubungi Kinal, dia belum pulang sama sekali sejak tadi pagi kelihatannya..."
=================
Dahi Nobi berkedut-kedut sepanjang perjalanan. Kepalanya mendadak pusing mendengar kabar yang menurutnya sama sekali tak sedap. Jantungnya berdebar-debar tak karuan, merasa ngeri dan ketakutan akan suatu hal.
"Apa ini nggak salah, tuan? Apa benar-benar?"
Tuan Rudy yang tengah duduk di kursi sebelah supir, menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari dua pertanyaan beruntun dari Nobi. Lagi, Nobi memijit pelipisnya untuk yang sekian kali.
"Dimana Kinal? Saya nggak lihat dia dari tadi pagi. Pergi kemana anak itu?"
Pertanyaan dari tuan Rudy membuat Nobi merasa jengkel. Dia tak mengerti harus menjawab bagaimana jika kenyataan yang baru saja didengarnya membuat dirinya shock setengah mati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Painter and Butterfly
FanfictionHanya melukis yang kutahu. Andai melukiskan cinta, yang kutahu hanya dirimu. Jadi cinta yang kutahu adalah dirimu. Wahai kupu-kupu malamku. Kemarilah, dan kau kujadikan bidadariku. Aku mencintaimu, Veranda.... Oh Nona pelukis, hidupku gelap walau te...
