Butterfly III

3.7K 331 78
                                        

Previous :

"Kamu dimana, Kinal... hiks..."

Hatinya terasa begitu sakit, ia tak mampu membendung lagi air matanya. Takdir begitu kejam, tak merelakannya untuk menemui belahan jiwanya sedikit pun. Veranda hampir jatuh terpuruk, hingga sebuah sentuhan lembut mendarat dibahunya. Wanita menolehkan kepalanya...

"Veranda..."

Suara itu, wajah itu, dan tangan ini...

Veranda terperangah melihat sosok yang menyentuh bahunya. Badannya berbalik cepat, dan tanpa ada kata yang keluar dari mulutnya, ia memeluk erat sosok itu. Sosok yang selalu dirindukannya...

Mata Kinal terpejam erat merasakan pedih dalam hatinya. Isak tangis Veranda begitu menyiksanya, membuatnya tak mampu mengucapkan apapun. Pelukan yang ia berikan mengungkapkan semuanya, lebih dari kata-kata rindu yang selama ini ia simpan.

"Kinal, aku sakit. Aku sakit, merindukan kamu..."

"Ya, aku tau. Seperti yang kamu bilang. Rindu itu menyakitkan, kan..."



=================


Paviliun kecil lengkap dengan taman dan rerumputan hijau yang indah menjadi tempat Kinal dan Veranda menghabiskan waktu. Duduk berdua di bangku kecil yang terbuat dari baja, tampak kuno dan rapuh namun kuat meski diduduki oleh dua perempuan tersebut.

Suara gemericik air mancur terdengar merdu di telinga keduanya yang sama-sama terbawa oleh lamunan masing-masing. Pandangan mereka lurus pada air mancur kecil yang mengalir di air terjun buatan yang terbuat dari perpaduan batu alam serta tanah semen.

"Hhh..." hela nafas Kinal, kemudian gadis itu tersenyum saat merasakan kepala Veranda mulai perlahan bersandar dibahunya.

Setelah lama saling memeluk di ruang bimbingan melukis, Kinal langsung menarik wanita yang dicintainya itu menuju halaman belakang galeri yang luas. Ia tak ingin Nobi melihat keberadaan Veranda, ia sangat yakin Nobi akan murka seketika jika melihat batang hidung Veranda di dalam ruang galeri.

"Aku selalu mengelu-elukan kata rindu setiap hari seperti orang sakit. Tapi waktu bertemu kamu seperti ini, kenapa aku mati kutu?" ujar Kinal, bertanya.

Veranda memeluk erat lengan Kinal, kedua tangannya menggenggam tangan Kinal seolah tak ingin lepas. Wanita itu membuka bibirnya, namun terkatup lagi. Ia berpikir sejenak kemudian tersenyum setelah menemukan kalimat tepat untuk menjawab pertanyaan Kinal.

"Karena kamu orang terkonyol di dunia kan, heheh..." jawab Veranda dengan kekehan kecil diakhir kalimatnya.

Kinal yang mendengar hanya bisa tertawa disertai kepalanya yang menggeleng kecil. Kemudian pandangannya kembali lurus pada air mancur di hadapan mereka berdua.

"Semua orang kalau melihat kamu pasti bisa jadi orang paling konyol di dunia, dan aku jadi salah satunya. Kamu tau sebabnya?"

Veranda menggeleng pelan menanggapi pertanyaan itu, namun Kinal tak kunjung melanjutkan perkataannya. Ia menarik nafas pelan sembari menatap lembut pada mata indah nan bulat milik Veranda.

"Sebab kamu cantik, Veranda. Cantik..."

Wanita bersurai kecoklatan itu terpana mendengar penuturan Kinal untuknya. Bola matanya bergerak menyusuri iris kelam Kinal yang tak pernah henti memberikan pancaran kasih sayang padanya. Ia tenggelam pada iris itu, hingga membuatnya tak mampu berkata apapun.

Painter and ButterflyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang