And II

4.9K 401 46
                                        

Previous :

"Sampai kapan pun, hatiku tetap untukmu. Aku hanya akan selalu jatuh cinta sama kamu, Kinal..."

Ciuman lembut ia daratkan diatas kening Kinal yang terhalang oleh poni. Veranda tersenyum getir, menahan isakannya, berusaha menghapus air matanya yang tak berhenti lagi untuk mengalir.

"Aku pergi dulu yah. Nice sleep, dear..." lagi ia kecup pipi Kinal sebelum beranjak meninggalkan Kinal yang masih terlelap dalam mimpi.

Langkah yang bergulir pelan, menambah jarak, hingga pergi sejauh mungkin...

Wanita cantik itu, tak pernah lagi menampakkan senyumannya. Menikmati luka, ketika perlahan ia memaksa diri untuk melukai hatinya.

Sampai di gang rumahnya, Pria tinggi berahang tegas itu berdiri bersandar pada Limusin hitam dengan angkuhnya. Dagunya mendongak tinggi, tak luput sebuah cerutu terselip diantara celah bibirnya. Seringai dibibir merahnya merekah lebar ketika melihat Veranda sudah hadir dihadapannya. Kepulan asap keluar perlahan dari bibirnya. Ia membuka mulut...

"Sudah siap?"

Veranda menghela nafas berat...

"Kapan aku pernah siap dengan semua ini? Anda selalu hadir, membawa siksaan untuk saya. Damian Hartanto..."


=================


Aroma vanilla yang menenangkan memberi seseorang rasa betah untuk terus berbaring diperaduannya.. Hidung mancungnya menikmati wewangian yang begitu terasa. Masih membekas disana, meski sosok yang menebarkan aroma itu sudah tak lagi dalam rengkuhannya. Tangannya bergerak mencari sosok itu, namun nihil. Perlahan, kelopak mata sayu itu mengerjap beberapa kali. Mengadaptasikan penglihatannya dengan cahaya mentari pagi yang menerobos kaca jendela kamarnya.

Kinal membangkitkan tubuhnya, melepas selimut yang entah kenapa bisa begitu rapi melekat diatas dirinya.

Suara-suara persendian diregangkan begitu kaku terdengar berbarengan dengan erangan lega yang keluar dari bibir Kinal. Rasa pegal begitu terasa, namun ia harus menarik senyuman simpul, mengingat apa penyebab dari lelah tubuhnya saat ini.

Bola mata itu bergerak kepenjuru kamarnya, tak menemukan siluet yang dicarinya. Jam yang menggantung di dinding menarik perhatiannya. Hanya sebuah anggukan kecil yang ia lakukan setelah menemukan jawaban dari, 'Mengapa Veranda tak ada disini?'.

Ada bau lain yang tercium oleh hidung Kinal, wangi manis khas roti panggang. Diatas nakas, Kinal mendapati dua lembar roti panggang dan secangkir coklat yang masih hangat. Secarik catatan kecil berwarna kuning muda tergeletak disamping piring roti. Kinal yang beranjak dari tempat tidur segera memungut kertas kecil itu. Senyum merekah dibibirnya.

"Selamat pagi. Sarapanmu jangan lupa. Aku pergi dulu yah?"

"PS. I love you <3"

- Veranda -

Kinal menghela nafasnya pelan. Laci nakas ia buka, mencari benda yang ia butuhkan. Sebuah lem ia ambil untuk melekatkan sticky notes itu pada cermin sedang yang menempel di dinding, tepat disebelah jendela kamarnya.

"Love you too..." gumamnya kecil sembari mengukir satu senyum lembutnya.

Selesai membereskan tempat tidurnya, Kinal langsung meraih roti panggang dengan selai strawberry yang Veranda buatkan untuknya. Tak lupa ia membawa cangkir berisi coklat hangat. Dia berdiri didepan jendela kamarnya yang cukup lebar.

Painter and ButterflyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang