"OH MY GOD RISSAAA MAKASIH YA JURNALNYA AAAAAA I LOVE YOU DEHH" teriakku senang. Aku yakin pasti sekarang dia sedang menjauhkan ponselnya dari telinganya karena mendengar teriakanku.
"KAYLAAA UDAH BERAPA KALI GUE BILANGIN?! KALO NELPON TUH SAPA DULU KEK JANGAN LANGSUNG ASAL TERIAK TO THE POINT!" bentaknya kesal dari ujung sana.
"Hehehehe maaf ya Marissa-ku tersayang, tercinta, terkasih─"
"Stop! Intinya lo mau berterimakasih kan? Yaudah, sama-sama.."
"Dihh Rissa, itu kok bisa sih lo beli jurnalnya? Kan baru seminggu yang lalu bukunya terbit di Kanada? Emang udah ada di Indonesia?" tanyaku bertubi-tubi.
"Sumpah bawel banget lo, Kay! Lo mendadak jadi amnesia ya? Tiga hari yang lalu kan abang gue pulang dari Kanada!"
"Ya terus?"
"Ya ampun sabar aja sih gue punya sahabat telmi kayak lo.."
"Ih serius, terus kenapa kalo abang lo dari Kanada?"
"Ya gue dari jauh-jauh hari minta ke dia beliin jurnal itu buat lo! Terus minta bawain pas pulang!"
"Oh gitu ya? Hehehe.."
"Udah ah gue capek ngomong ama spesies macam lo, Kay!"
TUT TUT─!
Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang dan mengambil buku itu. Aah seneng banget akhirnya punya jurnal ini!
Kupandang jurnal itu terus menerus. Benda berbentuk persegi panjang itu berwarna hitam dan di tengahnya terdapat tulisan 'WRECK THIS JOURNAL' yang sudah kuincar beberapa hari ini, akhirnya bisa kudapat dari sahabatku tercinta sebagai hadiah ulang tahun.
Langsung kuhampiri meja belajarku dan mulai membaca intruksi-intruksinya, dan kuisi dengan kreatifitasku. Jurnal ini memang cocok untuk *uhuk* seniman sepertiku. Walaupun masih amatiran sih, hehe.
Kata teman dunia mayaku di Kanada sana yang sudah mengisi buku Wreck this Journal, buku ini membantu kita menumpahkan bakat seni kita. Bisa juga untuk mengeluarkan emosi atau mood kita.
--------------------------------
"Kay,"
"..."
"Kayyy,"
"..."
"Kayla!"
"Hm?"
"Kayla Nur Zidan!"
Aku menoleh, "kenapa sih?"
"Ish, pasti daritadi lo gak dengerin gue ngomong!"
Aku menyeringai lebar, "hehe, maaf Ris,"
"Lo lagi mikirin siapa sih? Kiki?" tebaknya, menyebut nama mantan pertamaku. Baca baik-baik, PER-TA-MA. Jadi jangan anggap aku playgirl atau semacamnya. Toh, aku juga gak pernah sedikit pun punya perasaan ke dia. Entah kenapa aku menerimanya waktu itu, saat aku masih kelas 7, masih polos, masih unyu, masih alay─ gadeng. Ya pokoknya begitu lah. Faktanya pun dia menjadikanku pacarnya karena... taruhan. Ya, taruhan. Kejam ya. Aku gak masalah sih, gak nangis atau galau beratus2 tahun lamanya, bahkan aku seneng karena akhirnya aku putus. Tunggu. Kenapa jadi curcol gini ya?
"Enggak,"
"Bohong,"
"Lo tau sendiri gue gapernah ada perasaan sama dia. Ini mah akal-akalan lo aja mau mengalihkan perhatian dari dunia buku gue. I know you so well, Ris. Jangan anggep gue baru kenal lo satu jam yg lalu." tandasku
Marissa nyengir. "Lagipula sudah jelas-jelas gue lagi baca." tambahku.
"Yaudah sih biasa aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Journal
Novela JuvenilKamu bagai pelangi, yang selalu memukau, walau hanya sesaat. Keindahanmu nyata. Tapi kedatanganmu hanya sementara. Hingga aku menganggapmu fana. Pada akhirnya, aku tak tahu bagian mana darimu yang harus aku percayai. Nyata atau fana? © Copyright 20...
