Entahlah, tapi malam ini aku memikirkan cowok di cafe itu terus. Yang ku ketahui namanya Adrian.
Siapa ya? Temen TK? SD? Kakak kelas?
Intinya, aku merasa de javu.
Menyadari bahwa memikirkan ini sangatlah tidak penting, aku memutuskan untuk tidur lebih awal, jam senbilan, agar jam duabelas nanti bisa menjadi orang yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun ke Kak Ray.
--------------------------------
"Bang habede ya semoga lo tambah pinter, sukses di kelas 11 nya, makin sayang gue─ ya pokoknya tambah baik sama adek lo tercinta yang unyu ini. Oke i love you." Aku berhenti memencet layar di ponselku lalu seketika voice note ku terkirim.
Abang Sayang: ngapain ngirim vn sih? Tinggal ngesot.
Kayla N Zidan: takut ganggu. Hehe.
Padahal alasan utamanya aku sudah terlanjur kembali mengantuk.
Kudengar ketukan pintu dari luar. Pasti Kak Ray.
"Makasih, ya. Kadonya mana?"
"Nanti pagi udah ada dikamar lo. Udah, tidur sana. Capek kan?"
"Aw, how sweet of you. Peluk dulu dong." Kak Ray merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Langsung saja aku menubruknya, memeluknya dengan erat.
"Sayang."
"Sayang juga." Kak Ray melepas pelukannya.
"Yaudah sana tidur, gue tau lo butuh ucapan good night. Tuh udah gue ucapin,"
"Kampret."
--------------------------------
Hai.
Pokoknya aku gatau kenapa akhir-akhir ini aku selalu memikirkan si-cowok-cafe, Adrian.
Otakku seperti memerintahku untuk mengenalnya lebih jauh.
Dan aku orangnya memang seperti itu, kalau sudah bertekad bulat, jalani.
--------------------------------
Aku masih saja bingung kenapa kakiku membawaku kesini.
Ke taman ini..
Yasudah lah, lagipula aku sudah merindukan taman kecil ini. Terakhir kali aku kesini, 6 tahun yang lalu. Terakhir kalinya aku bertemu dengan seseorang-yang-namanya-tak-bisa-disebut.
Dia memang sejenis Voldemort.
Aku membuka tas selempang rajutku, lalu mengambil WTJ. Membolak-balikan halamannya, lalu tersenyum mengigat kejadian tadi siang dengan Marissa; mengisi sebagian WTJ ini. Emang ya, apapun yang dilakukan dengan sahabatmu pasti menyenangkan.
Lalu aku berhenti di halaman 78.
'Hang the journal in a public place. Invite people to draw here.' artinya? 'Bawa jurnal ini ke tempat umum. Ajak orang-orang untuk menggambar disini.'
Kulihat sekeliling taman ini. Cukup banyak orang, rata-rata anak-anak kecil sedang bermain dengan fasilitas taman.
Aku menghampiri 2 cewek remaja yang sedang bercengkrama.
"Hai! Boleh minta coret-coretan tangannya sedikit untuk mengisi jurnal gue?" aku memasang senyumku lalu menyodorkan jurnalnya.
2 cewek itu menatapku lalu melihat jurnal yang tadi kusodorkan. Perlahan mereka tersenyum, salah satu diantaranya yang berkacamata bertanya, "Wreck This Journal, ya?" Aku mengangguk.
"Nih, gue ada spidol. Pilih aja warnanya sesuka kalian. Tulis namanya dibawah gambar kalian, ya! Sama tanda tangannya juga boleh."
Yang berkacamata menggambar duluan, ia menggambar kacamata yang cukup besar. Di lensa kiri dia menulis 'CREA', dan lensa kanan dia menulis 'TIVE'. Dia menambahkan tanda tangannya dan diikuti namanya, Yola.
Aku tersenyum. Creative.
Lalu Yola menyodorkan ke teman sebelahnya yang berambut panjang dan ikal. Dia mulai menggambar dengan sangat cepat.
Dan sekarang aku tersenyum geli. Gambar hati yang terbelah.
"Lagi patah hati, ya?" tanyaku jail. Dia hanya tersenyum malu. "Tau nih, abis diputusin sama pacarnya," celetuk Yola. Aku terkekeh dan dia melanjutkan dengan menulis 'love hurt' dengan tulisan sambung yang indah. Dibawahnya terdapat namanya, Dila.
"Makasih banyak ya, Yola dan Dila! Gambar kalian bagus banget!"
Di pojokan taman kulihat gadis kecil sedang memakan cotton candy pink. Aku terkesiap karena dari jauh dia seperti menggenggam lolipop.
Aku pun memutuskan untuk menghampirinya.
"Hey, manis." Aku menekuk lututku, mencoba mensejajari dengan gadis itu agar bisa melihat mukanya.
"Hm?" Dia menatapku bingung, masih menggenggam cotton candy-nya.
"Kamu namanya siapa?" Aku tersenyum sambil mencupit pipinya, gemas.
"Lily." Dia tersenyum balik.
"Lily! Kamu bisa gambar, gak?" Tanyaku antusias.
"Bisa, kak. Aku suka banget menggambar!" Dia menjawab dengan semangat.
"Waah, kalau begitu aku mau dong kamu gambar di buku kakak."
Aku menyuruhnya untuk memilih spidol, lalu dia mulai menggambar. Cepat sekali. Saat kulihat, bunga. Sepertinya bunga lily, sama dengan namanya.
"Bagus banget, Lily! Bunganya cantik, kayak kamu. Kamu berbakat ya." Aku mengelus rambutnya. Kulihat semburat merah di kedua pipinya.
"Kamu udah sekolah, Ly?" Dia mengangguk, "kelas berapa?"
"Satu." Oke, sama.
"Kamu sama siapa kesini? Sendirian?"
"Engga kok, sama kakak aku."
"Kemana kakakmu?"
"Lagi motret pemandangan disini."
Aku berpaling dari Lily, mencari kakaknya dengan kamera, mungkin. Dan baru kusadari, di belakang Lily terdapat cowok─ Adrian? Dia mengalungi kameranya. Kakaknya Lily?
Aku tercekat melihat kedua bola matanya yang tajam namun dapat menenangkan. Biru. Seperti dia.
"Mau dong, gambar disitu juga." Aku tersentak mendengar suaranya yang sepertinya ditujukan untukku.
"Ng.... boleh." aku menyodorkan jurnalku dan kumpulan spidol. Dia memilih warna ungu muda. Dan menggambar.... lolipop?
Kenapa kedua kakak-beradik ini benar-benar membuatku bernostalgia?
Dibawahnya ia menulis 'A.S.V' mungkin inisial namanya.
"Makasih ya udah nemenin adek gue." ucapnya, terdengar dingin.
Eh? Ngomong sama aku ya? Entah kenapa saat ini mulutku kaku untuk digerakkan setelah mendengar.... suaranya?
Sebagai jawaban, aku mengangguk.
"Kakak namanya siapa?" Kudengar suara kecil Lily.
"Kayla."
"Makasih ya, kak Kayla!"
"Terimakasih kembali, Lily cantik!"
--------------------------------
Ceritanya udah ketebak, ya. Maaf deh kalo pasaran. Tapi ini murni hasil ide sendiri, jadi ya gitu.
KAK RAY DAN KAY IS SO SWEET I CANT EVEEEEEN TELL ME HOW TELL ME WHY
Vomment.
Terimakasih!
KAMU SEDANG MEMBACA
A Journal
Novela JuvenilKamu bagai pelangi, yang selalu memukau, walau hanya sesaat. Keindahanmu nyata. Tapi kedatanganmu hanya sementara. Hingga aku menganggapmu fana. Pada akhirnya, aku tak tahu bagian mana darimu yang harus aku percayai. Nyata atau fana? © Copyright 20...
