"Pak, yaelah, pak. Bukain dong, bukain pintunyaaaa, bapak mah jahat ama saya pak, kan kita cs-an pak," aku mulai ngelantur.
Seperti yang kalian tebak, ya, aku terlambat.
Gara-gara Kak Ray! Dia memintaku untuk menemaninya nonton pertandingan bola, yang entah kenapa aku mau saja. Yaudah deh, nonton sampe malem.
"Gabisa neng, udah peraturan sekolah, kalo udah bel masuk, tutup gerbang sekolah." Terlihat mukanya seperti kasihan kepadaku.
"Paaak, saya kan mau belajar pak," bohong. Padahal mau ketemu Marissa cimit-cimitku.
"Yah gimana neng, peraturan tetap peraturan."
Akhirnya aku memilih pilihan terakhir...... nyogok.
"Nih pak," ku beri Pak Silver (EMANGGG NAMANYA KEREN BANGET, EMANG) selembar uang lima puluh ribu.
"...."
"Yaelah pak, gausah sok nolak. Cepetan bukain pak, udah telat lima menit paaaak,"
Dan akhirnya, gerbang sekolah dibuka. YES!
--------------------------------
Dewi Fortuna sedang berpihak kepadaku.
Guru Fisika hari ini tidak datang ternyata.
FREE CLASS!
Silahkan bayangkan kelas kayak apa. Lebih dari kapal pecah. Cowok-cowok yang ngumpul di satu titik, membicarakan tentang pertandingan bola kemarin. Cewek-cewek yang ketawa-ketiwi. Dan... Gibran dimejanya sendiri sedang memegang ponselnya.
Segera ku hampiri Gibran, mengingat selanjutnya adalah pelajaran Geografi. Ketika aku sudah berdiri disampingnya, dia sedang memainkan.. Minion Rush.
"WAAAAAAH HIGH SCORE," teriakku tiba-tiba saat melihat minion di iPhone Gibran udah mati, tapi high score, satu juta. Aku? Download aja belum. Kudet emang.
Dan seketika kelas hening.
"Lah kok jadi hening sih, lanjut berisiknya sana ha-ha-ha," ucapku gugup, malu juga ya. Tapi aku mulai berpikir mungkin aku punya kekuatan super, teriak sedikit bisa membuat semuanya diam.
Tapi... kelas berisik lagi, kembali normal.
"Norak lu, Kay," celetuk Gibran.
"Bodo."
"Kalo mau main bilang, gausah pake kode-kode gitu deh. Alay."
"Right. Buruan sini mana buku tulis Geo gue?!"
"Lah apasih."
"Buku tulis Geo gue, Gibran Ahmad Ferdian! Kan kemaren lo bilang ada di elo!" Ucapku tak sabar.
"Iya emang, udah gue kerjain kok, tenang."
"Terus mana bukunya?"
"Gak bawa," jawabnya singkat, padat, dan jelas. Aku melotot.
"MAKSUD LO APA?"
"Lah kemaren kan lo mintanya kerjain, bukan bawain. Nah, yaudah."
Speechless.
"Kampret," umpatku padanya. Dengan satu kata itu, sudah mendeskripsikan betapa miripnya Gibran dengan hewan-hewan di kebun binatang.
"Hm?"
"Bodo. Gue. Kesel. Banget. Sama. Lo. Mati. Aja. Lo. Sana. Kampret," ucapku penuh penekanan, lalu kembali duduk di kursiku.
Kudengar dia terkekeh.
"Gibran."
"Ya?"
"I really wanna kiss you."
"Hah?"
"In your face."
"Kay?"
"With a chair."
"...."
"RIGHT. NOW!"
------------------------------
"Alhamdulillah, hari ini lagi pada rajin ya. Tumben, semuanya ngerjain," ucap Bu Sasa sambil merapihkan kumpulan-kumpulan PR Geo kelasku.
Lah apa. Padahal aku gak bawa gara-gara Gibran.
"Yasudah, karena semuanya ngerjain, hari ini ulangan Geo-nya ibu batalin. Di ganti jadi kuis." Semuanya bersorak, mendengar pernyataan dari Bu Sasa.
Demi apapun aku bingung. Aku kan gak bawa. Tapi kok....
"Gibs," panggilku, menghampiri Gibran. Kuisnya baru saja selesai dan sekarang istirahat.
"Hoi."
"Tadi, kok bisa? Pake mantra apa lo?"
"Pake kekuatan bulan."
"Lo kata Sailor Moon!"
"Yaudah. Orang mah bersyukur."
"Iyasih. Jangan-jangan lo boong ya? Padahal lo bawa, kan? Iya kan?" Todongku bak wartawan.
"Gatau."
"Anjir ah gatau. Capek gue ngomong sama lo," ucapku jengkel lalu berlari ke kantin.
Aku menemukan Marissa yang sedang makan sendirian di pojokan. Dasar jomblo.
"Woy mblo!" Ucapku sambil menggebrak meja, pelan.
"Mirror," jawab Marissa malas.
"Eh gue bete banget Ris sama Gibran. Kayak monyet dia ya ampun gak sanggup deh ngomong sama dia pake urat mulu. Untung gue punya cadangan nyawa," racauku tak jelas.
"Emangnya lo kucing?"
"Iya nih, tinggal delapan nyawa lagi."
"Betewe, Gibran? Gibran yang gayanya sengak itu?"
"Iya, yang mukanya berasa gapunya dosa."
"Ciee, lu lagi deket sama dia, ya?"
"Apaan idih mending-"
"WOY APA WOY GIBRAN GIBRAN, NGE-FANS YA?!"
"Kayak jin tomang dah lu Gib," kata Marissa, melihat gaya Gibran udah kayak ultraman keselek becak. Gatau deh gimana deh tuh tampang jelek banget emang, The Most Wanted Guy darimana coba..
"Udah yuk. Pergi elah," kataku menyindir.
"Kok kamu gitu, Kayla?" Ucap Gibran memelas.
"Apa sih, kenal?"
"Kenal dong sayang, gimana sih sama pacar sendiri kok gitu sih," ujar Gibran sambil mengedipkan sebelah matanya. Saat itu juga aku melotot.
HAH APAAN.
"WOOOY GIBRAN JADIAN SAMA KAY LOOOH," celetuk Bobby yang duduk tak jauh dari tempat kami, jadi percakapan gak jelas kami tadi masih bisa terdengar. ASTAGA.
"DEMI APA GIBRAN AMA KAY?"
"Idih apaan gak cocok dah,"
"ALHAMDULILLAH GIBRAN GAK JOMBLO LAGI"
"Gak sudi dah gua,"
"CIE KAYLAAAAAAAAAAA"
Sumpah demi apapun yang ada di dunia ini.
Demi killernya Bu Rini, licinnya kepala Pak Joni, panjang kumisnya Pak Rofi, dan rambut indahnya Bu Fitri.
Ku tarik perkataanku tadi pagi.
--------------------------------
Author's Note:
HAI I'M BACK KAWAAAAAN. Setelah bangkit dari sakitnya sakit. Iya jadi gue tuh abis sakit, gila nyiksa ya, lahir batin.
Gimana chapter ini? Makin gila ya? Makin gak jelas sih kata gue. Makin gaada artinya. Emang dari awal buat hobi doang, kan? Tapi gue berharap banyak vote, karena itu pembangkit semangat gue menjadi semangat empat lima!!!!! MERDEKA!!!!!!!!!
Ciao.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Journal
Fiksi RemajaKamu bagai pelangi, yang selalu memukau, walau hanya sesaat. Keindahanmu nyata. Tapi kedatanganmu hanya sementara. Hingga aku menganggapmu fana. Pada akhirnya, aku tak tahu bagian mana darimu yang harus aku percayai. Nyata atau fana? © Copyright 20...
