Sedih dan merasa kehilangan, itulah yang kami rasakan sekarang. Semua bersedih, namun di tengah-tengah kesedihan aku teringat kata-kata Ketua "Sudah, yang lalu adalah yang lalu, kita harus menghadapi yang di depan." Lalu aku mengusap air mata ku dengan tanganku. Aku bangkit. "Apakah seperti ini kita?" kataku pada teman teman ku yang masih bersedih.
"Selemah inikah kita, jika ditinggal oleh satu orang? Tidak kawan-kawan, ini bukan kita. Ini adalah sisi lemah dari diri kita. Jangan pernah menyerah kawan kawan. Ingat kata Ketua, 'kita harus menghadapi masa depan'" lanjutku. "Ya, kita harus bangkit" lanjut Steve dengan ikut berdiri. "Kita harus melawan orang yang membuat kubah dan makhluk-makhluk itu" tekad Smith. "Kita harus. Untuk Ketua" lanjut Frank.
'Glarr!!' tiba-tiba petir menyambar tepat di sebelah utara pesawat kami, dan pesawat kami pun terombang ambing. Aku pun mendekati Hana yang kesulitan mengontrol pesawatnya. Aku melihat ke kaca depan, lalu.... aku teringat mimpiku! Mimpi saat pertama kali aku bangun dan berada di kubah.
"Hana" kataku "Apa?," "Aku ingat sesuatu. Belokkan pesawatnya sekarang!!." Dengan lihai Hana membelokkan pesawat itu ke kanan "Awaasssss!" suara itu sayup-sayup terdengar dari bawah pesawat. Dan aku melihat ke luar, ke bawah, di darat. Kulihat ada anak seusia kami.
"Hana, turunkan pesawatnya, kita akan tolong anak yang sendirian itu" kataku "Oke" lalu pesawat turun. Aku mendatanginya, "Hei, ayo ikut kami, kami akan menolongmu, sebentar lagi makhluk dari dalam kubah itu mungkin akan menyerangmu" kataku dengan menunjuk kubah di seberang.
"Baiklah, tapi siapa kau?" tanyanya. "GRAAAAA!!!" tiba-tiba makhluk dari dalam kubah itu memecahkan kubah itu dan keluar, melompat dengan cepat melompati jurang ke arah kami. "Nanti akan kujelaskan. Sekarang kita harus, lari," dengan cepat aku berlari bersama anak itu. "Cepat Scar!" teriak Steve dari dalam pesawat yang memegang tembak dan menembaki makhluk itu.
"Ayo, ayo" Frank mengulurkan tangannya saat kami akan masuk ke dalam. Dan akhirnya, kami sudah sampai di dalam. "Ah, kita aman sekarang" kataku. "Hana, cepat naikkan pesawatnya dan terbangkan dengan cepat," Frank berseru. "Aku mencoba" 'Zzzuuungg' pesawat kami pun terangkat dan 'Wouw!' hampir saja makhluk itu dapat meraih kami, mungkin telat sedetik kami semua akan mati.
Aku memperhatikan anak itu, tingginya sedikit lebih pendek dariku. Rambutnya agak pirang, hidungnya lumayan mancung menurutku. Lalu Smith melihat kami dengan bingung lalu bertanya "Hei, apakah kalian saudara? Wajah kalian hampir sama." "Hmm, aku tidak tahu, aku tidak tahu apa yang kulakukan di luar kubah itu. Setiap hari aku melihat semua makhluk itu masuk ke kubah itu dan tidurku pun di luar situ, aku tidak bisa mencari jalan keluar. Aku patut berterimakasih pada kalian karena telah meyelamatkanku" katanya. "Ah tidak apa-apa" kata Frank.
"Nama mu siapa?" tanya Hana yang menoleh ke belakang "Perkenalkan, namaku Alex" katanya sambil menjulurkan tangan padaku. "Namaku Scarlet" kataku sambil ku jabat tangannya. "Ini Smith, Steve, Frank, dan sang pengemudi wanita di depan itu Hana" kataku dengan menunjuk satu persatu teman-temanku. Lalu kami pun bercanda dan tertawa riang, padahal kami baru saja kehilangan seseorang.
Lalu secara tiba-tiba muncul lubang berwarna biru di depan kami, "Hana, Awas!!" teriakku. 'ZZZUUUPPP!!' terlambat sudah, kami sudah masuk ke lubang itu.
TAMAT
KAMU SEDANG MEMBACA
Dome
Science FictionDi sinilah tempat hidupku, di kota yang di kenal dengan sebutan "Isolated", dengan kubah yang menutupi seluruh kota kami dan jurang di sekeliling kota yang membuat kami kebingungan untuk keluar dari situ. Apakah kami bisa? Don't forget to Comment...
