Debaran kedua

2.3K 179 0
                                        

***
"Guys," suara (Namakamu) memberhentikan perdebatan yang terjadi diantara Iqbaal dan Aldi.

Kedua pria itu menoleh ke (Namakamu) dan menunggu ucapan (Namakamu) selanjutnya.

(Namakamu) menggigit bibir bawah nya sembari menatap Iqbaal dan Aldi secara bergantian.

"Pas ditaman itu, gue liat ada anak kecil ngeliatin gue pas gue mau meriksa korban. Dia ngeliat gue sinis gitu, kayak gak suka banget sama gue. Hm, menurut kalian mungkin nggak kalau...anak kecil itu pelaku nya?
(Namakamu) menatap teman satu profesi nya dengan tatapan bingung. Iqbaal dan Aldi membalas tatapan (Namakamu) dengan tatapan bingung pula.

Kening (Namakamu) berkerut, Iqbaal dan Aldi juga mengikuti apa yang dilakukan (Namakamu)

'Clek'
Suara knop pintu mengalihkan pandangan mereka. Segera mereka menoleh ke sumber suara dan melihat Ryzki tengah tersenyum manis dan berjalan menghampiri nya.

"Gimana kasus nya? Beda, kan?" suara dari pertanyaan Ryzki terdengar mengejek.

Mengejek karena menebak pasti mereka tidak bisa memecahkan kasus ini.

"Iya, bang! Beda banget. Lebih is-ti-me-wa," sahut Iqbaal girang dan mendapat satu pukulan dari Aldi menggunakan kertas yang digulung nya tadi.

(Namakamu) menghembuskan nafas panjang dan menyandarkan punggung nya pada kursi yang ia duduki. Memijat kening nya yang terasa sedikit pusing oleh kasus ini.

"Gue bingung, bang. Gak ada sidik jari nya. Susah."

Ryzki tertawa kecil dan menepuk-nepuk pundak (Namakamu) pelan.

Ryzki tahu sesulit apapun kasus yang terjadi, (Namakamu) tidak akan menyerah. Ryzki melirik jam tangan nya. Jarum jam menunjukan pukul 17.00 wib

"Udah sore. Kalian pulang, gih. Besok kesini lagi. Jam 08.00," ujar Ryzki dan membuat senyum sumringah diwajah Iqbaal, Aldi maupun (Namakamu).

(Namakamu) berdiri dari duduk nya dan merapihkan kertas beserta foto yang berserakan diatas meja, lalu ia masukan kedalam tas. Perasaan nya sedikit lega karena ia bisa pulang untuk menyegarkan pikiran nya walau sesaat.

"See you, bang," Iqbaal melambaikan tangan nya saat hendak keluar dari pintu. Ryzki hanya mengangguk dan tersenyum, mata Ryzki mengekori Iqbaal, Aldi dan (Namakamu) sampai benar-benar keluar dari ruangan.

"(Namakamu)," ujar Iqbaal dengan suara yang berirama sata mereka berjalan menuju lift. (Namakamu) melirik sinis Iqbaal yang berada disebelah kanan nya.

"Apaan?"

"Hm, pulang bareng gue, yuk!" ajak Iqbaal dengan wajah cerah.

Berharap (Namakamu) menerima ajakan nya.

(Namakamu) meringis dan melangkah kan kaki nya masuk kedalam lift. Iqbaal memang sering mengajak (Namakamu) untuk pulang bersama. Tapi, tidak setiap ajakan Iqbaal selalu diterima oleh (Namakamu).

"Naik apa?"

Aldi yang berada disebelah kiri (Namakamu) tersenyum miring.

"Palingan juga ngesot."

Iqbaal melirik Aldi yang tengah menatap kosong kedepan dengan kedua tangan yang dijejalkan kedalam saku celana. "Gue bawa motor, kok."

(Namakamu) melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya. Ia menggigit bibir bawah nya pertanda bahwa ia sedang berpikir.

"Boleh deh. Lumayan ngirit ongkos."

Iqbaal nyaris saja berteriak kegirangan mendengar ucapan (Namakamu).

NO NA ME Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang