Sabtu, 06:20..
"Vaaal sarapan gak lo?!" tanya Andi -abangku- dari kejauhan dengan sedikit berteriak.
"iyaa bntar lagiii.." jawabku.
Baju yang kukenakan sudah sangat rapi. Baju ini memang yang paling baik untuk dikenakan di acara kelulusan.
"keren banget lo pakek baju kayak gitu." canda Andi ketika aku duduk melingkar bersamanya untuk sarapan bersama.
"yee.. gue emang tiap hari keren kali." jawabku santai sambil mengambil piring yang sudah disiapkan di meja makan.
"GR lo, mulai terlalu percaya diri!!" ucapnya kesal.
"lahh, bukannya elo yang ngajarin gue kek gini?" tanyaku bingung. Andi diam tidak menjawab dia sepertinya punya persediaan kata-kata lagi untuk mengejekku.
Setelah sarapan, aku pamit pada ibuku untuk pergi ke acara kelulusanku. Tentu saja aku tidak langsung ke acara tersebut terlebih dahulu. Karena kulihat jam tanganku masih menunjukan pukul 06:50 dan acara kelulusan mulai pukul 08:00. Sejenak aku berhenti di sebuah taman bermaksud untuk duduk bersantai sebelum acara kelulusan.
Beberapa menit kemudian, aku memutuskan untuk pergi ke acara tersebut. Acara kelulusan itu berjalan begitu lancar, aku menyalami satu-persatu guru ku. Tidak sedikit dari mereka yang ku lihat menjatuhkan air mata. Selesai acara tersebut, aku hanya berdiam diri di salah satu kursi yang ada di dekat panggung.
"dimana dia?" gumam ku.
"Rina.. meskipun hubungan kita berlangsung tidak terlalu lama, tapi aku menikmati setiap detik bersamamu. Entah aku atau kamu yang menyebabkan semua ini berakhir. Aku hanya ingin engkau tau, aku begitu menyungguhimu. Dan kau yang akan selalu menjadi semangatku. Aku lebih mengenalmu dengan istilah 'Noctiluca Miliaris' mungkin begitu." ucapku dalam hati.
"Val, lo nggak makan?" tanya seseorang dari belakang ketika aku sedang terdiam terbawa lamunanku.
"ehh elo Geng," jawabku spontan ketika menyadari kalau dia adalah Agung. Agung adalah teman baikku dan biasanya aku memanggil dia dengan sebutan 'geng'.
"gue udah sarapan tadi, elo udah makan?" timpahku.
"udah lahh.." jawabnya.
"ehh gimana lo habis ini, mau lanjut sekolah?" tanyaku ketika dia duduk di sampingku.
"lanjut lahh," jawabnya sambil mengambil buah jeruk yang ada di depanku.
"gue fikir lo langsung kawin." candaku ketika aku mengarah ke dia.
"gila lo, mau gue kasih makan apa anak binik gue nanti." jawabnya sewot.
"haha biar lo yang jaga anak, binik lo yang kerja." ucapku santai sambil mengeluarkan handphone yang ada di saku celanaku.
"kamvrett loo.. ehh si Rina mana?" tanyanya.
Aku hanya terdiam sambil memainkan game head soocer yang ada di handphoneku.
"Val!" panggilnya kesal.
"apaan sih lo?!" jawabku tanpa melihatnya.
"gue ada kenalan cewek, lo mau gak gue kenalin?" tanyanya sambil menepuk bahuku.
"laahh lo fikir gue udah ngga laku lagi, lagian baru beberapa bulan gue putus sama si Rina. Ada ada aja lo." jawabku kesal.
"ahh elo, ntar liat ceweknya juga suka lo." candanya sambil mengambil handphonenya bermaksud untuk menunjukkan foto cewek yang ingin dia kenalkan padaku.
"haha gue ngga gitu, masa iya penampilan menunjukan isi dalamnya." jawabku sambil tertawa kecil.
"nahh lo liat sendiri fotonya." ucapnya dengan menyodorkan handphonenya ke depan mukaku.
"biasa aja." ucapku santai.
"banyak pilih lo ah!" jawabnya kesal.
"hahaha yaudah Geng, gue cabut dulu yaa. Udah sore, ntar ibu gue nyariin lagi." ucapku ketika aku berdiri dari tempat dudukku.
Setelah itu, aku berjalan ke arah parkiran untuk mengambil sepeda motorku dan siap untuk pulang ke rumah.
To be continue..
Keep Reading!
KAMU SEDANG MEMBACA
Noctiluca Miliaris
Teen FictionSatu bulan sudah berlalu, dan selama itu aku merasa di permainkan oleh takdir. apa ini takdir ku? menjalani kehidupan dengan rantai kehidupan yang tidak pernah ku pahami. 'Mengenal-Nyaman-Di tinggalkan-Kehilangan'
