"Eloo?!"
****
Author POV
"Lo ng-ngapain Pin?" tanya Rival ketika Avina sudah berada tepat di depannya.
"Mau nyari artefak.." jawab Avina sambil tersenyum sinis.
"Ohh.." jawab Rival sambil menganggukkan kepalanya. Sementara Avina hanya memutarkan bola matanya.
1 menit..
2 menit..
3 menit..
"BEGO.. BEGO.. BEGO!! GUE MAU JENGUK LO! SEMENJAK KECELAKAAN MAKIN PARAH LO YA!!" ucap Avina dengan toanya yang cukup besar.
"DAN GARA GARA LO GUE KAYAKNYA HARUS KE DOKTER THT SEKARANG!" balas Rival tak mau kalah dengan Avina.
"Kok lo susah di hubungin, gue telfonin gak lo angkat,"
"Hubungin apa? Angkat apa? Telfon apa? Lo nelfon ke hp gue? Hp? Hp gue mana?!!!" ujar Rival sambil menepuk jidat Avina.
Ini adalah kebiasaan dari Rival, menepuk jidat siapa saja yang ada di dekatnya bila dia sedang lupa. Alasannya, jika dia menepuk jidatnya sendiri dia akan merasakan sakit.
"Elo nya aja yang bego. Hp lo udah sama abang lo. Gue kesini kan karna yang ngangkat telfon gue abang lo. Dia bilang lo kecelakaan dan sekarang masih di rawat di rumah sakit. kalau gak, mana gue tau kalo lo ada di rumah sakit. Lagian masih muda mainnya dirumah sakit, kasihan ya.."
Plaakk
Tangan Rival berhasil mendarat di jidat Avina.
"Ngapain gue main di rumah sakit, gue di sini ya karna gue sakit. Tadi lo bilang lo mau jenguk gue? Entah ini perasaan gue apa gimana, tapi gue gak liat lo bawa apa apa kesini. Buahnya mana?"
"Bhahaha.. Buah? Banyak berharap lo!!" jawab Avina sambil tertawa terbahak-bahak.
"Yee kere lo, yaudah pulang lo!"
"Nggak!"
"Pulang!"
"Nggak!"
"Pulang!"
"Nggak!"
Avina tetap mempertahankan duduknya. Sementara Rival tetap keras kepala menyuruh Avina pulang. Keduanya sangat keras kepala.
"Oke fine! Kalau lo nggak mau sama titipan Depi yaudah gue pulang!" ucap Avina memberhentikan pertikaian itu.
"Titipan Depi? Depi? Pinjem hp lo!"
"Mau ngapain? Lo mau ngabarin Depi? Dia udah pergi, dia udah coba ngehubungin lo. Sehari sebelum dia pergi, dia nitipin ini buat lo. Dia ga sempat pamit karna dia gatau lo dimana." jelas Avina sambil menyodorkan sebuah amplop biru.
"Jadi sekarang Depi.."
"Iya, udah ah gue mau pulang. laperrrrrrrrrrr..."
Avina beranjak dari tempat duduknya, dia pergi meninggalkan Rival setelah membalas menepuk jidat Rival.
Rival membuka amplop biru itu, ada selembar kertas di dalamnya.
"Surat? Surat Dep? Niat banget lo nulis buat gue." gumam Rival.
Dear Rival
Mungkin pas kamu baca surat ini, aku udah nggak ada disini lagi. Aku udah pergi jauh.. Iya jauh. Kenapa? Mau marah? Mau marah kenapa aku nggak pamit dulu sama kamu? Coba sekarang kamu cek hp! Lihat! Ada berapa ratus panggilan tak terjawab disana?
Aku udah capek hubungi kamu, dan kamu! Kamu kemana? Apa kamu udah gak perduli lagi sama aku? Aku disini selalu mikirin kamu, selalu khawatirin kamu, selalu berusaha ngabarin kamu. Tapi kenapa kamu gak hirauin semua perhatian dari aku, mungkin ini surat terakhir dari aku. Dan mungkin kamu gak akan bertemu denganku lagi.
Oh iya, Soal yang kemarin, kamu bilang kalau kamu cinta sama aku, Apa itu benar? Kalau memang benar, kenapa kamu baru bilang? Kenapa nggak bilang pas kita masih sering sama sama? Kenapa harus bilang di saat aku mau pergi? Kenapa? Kenapa?!
Satu hal yang harus kamu tau, aku sayang kamu. Kamu jaga diri baik-baik ya disana.
With love,
Devi
***
Rizal kambek gaess:v
Pada kangen gak? Nggak ya? Yaudah deh u.uStay terus ya di cerita gue..
Jangan pernah bosen.
Jangan lupa vote dan comment kalian.

KAMU SEDANG MEMBACA
Noctiluca Miliaris
Teen FictionSatu bulan sudah berlalu, dan selama itu aku merasa di permainkan oleh takdir. apa ini takdir ku? menjalani kehidupan dengan rantai kehidupan yang tidak pernah ku pahami. 'Mengenal-Nyaman-Di tinggalkan-Kehilangan'