Ab Occidente Cat Virtutem

15 0 0
                                        

ayah. ibu. jika seandainya kalian dapat melihatku sekarang. aku bersama orang orang yang aku yakin tak akan membunuh jati diriku lagi seperti dulu. aku melempar tasku pada bangku dengan strike! lalu langsung berlari keluar mengejar Rubrum. tetapi, aku justru menabrak seseorang hingga aku terjatuh. aku menatap kepada institut tidak bertanggung jawab atas jatuhnya diriku. F, Flavis?!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

"maaf."

ia mengulurkan tangannya. aku meraih tangannya dan berdiri.

"uh..........................terima kasih."

Flavis mengangguk lalu berjalan melaluiku. aku berlari mendekati Rubrum.

"hey.......... siapa yang dapat perhatian khusus nona Flavis?"

"diam! itu karena kekuatanku,kan?"

"bisa jadi. jika melakukan contractus dengan manusia, kekuatan peri meningkat puluhan kali lipat. denganmu, ratusan kali lipat!"

"kenapa aku???"

"entahlah. apa kata dunia, kawan!"

aku mengejar Rubrum. tentang kepedulian Flavis............. aku benar tidak, sih? maksudku.................. dia tidak suka padaku,kan? AKH! aku berlebihan. jelas tidak... atau iya? dan............ aku merasa lumayan kasihan pada Purpura. maksudku, dia berada di dunia ini, dulu, tanpa mengetahui apa yang telah terjadi. Albus benar benar baik. tetapi sayangnya ia meninggal. kurasa aku terlalu berlebihan memikirkan sejarah para peri. oh ya! aku lupa bertanya berapa total peri sekarang pada Rubrum. tiba tiba aku tersandung. tetapi justru bukan tanah yang menyambutku. tangan.

"kau tidak apa apa?"

"F, Flavis?!"

"ya?"

"kenapa kau menahanku?"

"aku ingin belajar memiliki teman."

teman?

"kau belum punya?"

"belum. bangkitlah."

aku segera bangkit dan duduk. Flavis duduk di sampingku.

"kenapa kau belum punya teman?"

"dari dulu, aku selalu di sakiti. hati kecilku tidak tahan dengan semuanya. dan aku memutuskan untuk mengucilkan diriku sendiri. setiap orang selalu melewatiku. mereka tak pernah memanggilku. sekalipun. tetapi kau waktu itu memanggilku. dan aku mendengarnya jelas. seberapa ingin kau memastikan bahwa itu aku. aku senang."

aku menyengir menanggapinya. tiba tiba ia menggenggam tanganku.

"aku akan selalu mendengarkanmu. aku janji."

"kalau begitu aku juga."

Flavis berdiri. aku ikut berdiri. Flavis tiba tiba berteriak.

"kejar aku!"

aku segera mengejarnya. biarkan senyumannya bertahan. biarkan saja.

Mechanical FairiesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang