15| Rebut Sacha

52.7K 5K 916
                                        

Malki baru saja membuka kaos putihnya saat ia mendapati kerumunan teman-temannya di pinggir kolam. Terlihatlah kulit Malki yang kecokelatan menyertai bentuk perutnya yang rata dan memperlihatkan otot. Siang yang cukup mendung dibanding siang hari sebelumnya menjadikan warna kolam dengan jendela samping aula terbuka itu terlihat lebih gelap. Malki yang baru keluar ruang ganti perlahan melangkah ke arah kerumunan di depannya.

Jono, pria kurus yang lebih pendek dari Malki terlihat mengerutkan dahinya. "Gue yakin banget," ujarnya sembari sibuk berpikir, "tebakan gue kali ini bener."

Malki menangkap aura sangat serius di antara semua yang berkumpul.

"Tapi," Irfan yang duduk tepat di depan Jono mengambil suara, "Sacha gak keliatan suka sama cowok itu."

Sacha? Suka? Cowok itu? Maksudnya? Malki bertanya-tanya dalam benaknya. Ada apa ini sebenarnya? Malki yakin teman-temannya itu sekarang sedang bergosip lagi. Bahan obrolan mereka itu tidak pernah jauh-jauh dari tiga hal: turnamen renang, games, dan perempuan.

Lihat saja sekarang. Ini jam latihan. Tapi hanya terdapat segelintir orang di kolam. Teman-teman Malki yang sudah bertelanjang dada dan hanya bercelana renang itu semua sibuk di sini dengan seluruh badan yang masih kering. Malki menebak mereka pasti bahkan belum pemanasan.

"Fai, lo yakin yang lo liat tadi?" tanya Irfan menoleh ke arah Fai yang berdiri. Bahkan Fai yang kalem sekalipun tidak melewati kerumunan gosip hari ini.

Fai terlihat sedikit mengingat-ingat.

"Gimana Fai?" tanya Jono tak sabaran.

Perlahan Fai mengangguk. "Yakin," jawabnya.

Semua mata terlihat memancarkan keseriusan yang begitu besar, membuat Malki semakin keheranan. "Kalian bahas apaan dah? Bahkan anggota DPR yang lagi rapat aja kalah serius dari kalian." Malki sudah menjadi salah satu bagian dari kerumunan itu.

"Ya itu tadi," jawab Irfan yang sedang sibuk berpikir masih menunduk tanpa menoleh, "ada yang mau nembak Sacha."

What?

"Nembak gimana?!" tanya Malki dengan nada suara yang lebih tinggi satu oktaf.

Jono, salah satu di antara yang lain yang sudah menyadari adanya Malki, terlihat gelagapan mencolek-colek bahu Irfan, menyadarkan Irfan akan datangnya marabahaya. Irfan yang masih saja menunduk itu menggidikkan bahunya, tak menangkap sinyal yang dilemparkan Jono padanya. "Sst! Sst!" bisik Jono mencoba memanggil Irfan.

"Siapa cowoknya Fan? Jovan?!" tanya Malki terlihat lebih kesal.

"Iya tadi kan gue udah bil—" Irfan menghentikan suaranya saat menyadari Malki yang ternyata sejak tadi bertanya. Pelan tapi pasti, Irfan menelan ludahnya berat. "Enggak ada kok, Ki." Irfan menggeleng-geleng sebentar dengan mata tegang. "Enggak ada."

Fai diam-diam menahan tawa. "Ki," panggil Fai memegang pundak Malki. "Lo jangan kaget ya."

Malki sudah membulatkan matanya sempurna mendengar itu. Hatinya yang terasa menggebu merasa tidak siap dengan apa yang akan didengarnya. Entah untuk alasan apa, dalam hati Malki kesal mendengar berita tadi. Sial. Apa jadinya kalau Sacha nerima Jovan? Malki hanya bisa menggerutu dalam benaknya sembari mengepalkan tangan kuat-kuat.

***

     

Pilihan yang buruk.

Malki heran kenapa bisa-bisanya ada orang yang memilih atap gedung CAS—Center for Advanced Sciences, gedung pusat untuk program studi Matematika, Astronomi, dan Nanoteknologi di kampus mereka—sebagai tempat menyatakan perasaan terhadap perempuan? Atau biasa disebut nembak. Apa bagusnya atap itu? Malki memang belum pernah datang ke sana. Tapi dirinya yakin kalau itu hanya atap lengang biasa yang sama sekali tidak spesial.

Splash [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang