"Belajar menjadi sempurna?" Aku bergumam dalam hati.
Aku kembali membuka halaman selanjutnya dan menemukan sebuah tulisan baru. Aku membaca tulisan tersebut, sama halnya seperti tulisan di lembar sebelumnya. Tulisan ini menceritakan pengalaman penulisnya dalam menyelesaikan misi ketiga, yaitu belajar menjadi sempurna.
"Aku berusaha percaya diri dengan apa yang kumiliki. Setiap aku berbicara, bersikap, bahkan ketika aku berjalan, aku berusaha menjadi sebaik mungkin" Ucapku sambil membaca penggalan kata pada diary tersebut.
Pemikiran ku sejenak pergi membayangkan tentang bagaimana cara aku menyelesaikan misi ketiga ini. Aku sadar betul semakin lama mungkin misinya akan menjadi semakin berat. Tapi tentu saja aku tidak bisa mundur begitu saja. Aku harus berusa menyelesaikan nya hingga akhir.
"Tok... Tokk.... Tokkk...." Aku mendengar seseorang yang mengetuk pintu kamarku dari luar.
"Masuk" Aku memerintahkan orang tersebut untuk masuk.
Kak Arru memasukan kepalanya ke celah pintu. Lalu setelah itu masuk kedalam kamarku. Kak Arru menatapku sambil cengengesan. Aku tahu apa maksudnya dia masuk ke dalam kamar ku.
Ketika Kak Arru berjalan mendekat kearahku. Segera kututup buku diary tersebut dan menyembunyikan dibawah bantal. Dia mendudukan dirinya disisi lain tempat tidurku, dan ikut berbaring disebelahku.
"Kamu kenapa belum tidur, bunda kan bilang tadi kalau kamu harus istirahat" Ucapnya padaku.
"Ada apa?" Tanyaku sambil menatapnya.
"Apanya?" Kak Arru malah bertanya balik.
"Ada apa kakak kesini?"
"Memangnya tidak boleh" Ucapnya sambil tetap menatap langit-langit kamarku.
"Biasanya kalau kakak masuk sambil cengengesan gitu pasti ada yang mau diomongin?"
"Hehehe... tau aja kamu dek" Kembali kak Arru tersenyum.
Aku mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut kak Arru. Aku juga sesekali mengintrupsinya jika aku sedikit tak mengerti. Kebanyakan kak Arru selalu bercerita mengenai gebetannya. Atau juga mengenai perempuan yang sekarang sedang dekat dengannya.
Harus kuakui kakak ku yang satu-satunya ini sangat berbahaya bagi kaum wanita. Bisa dibilang kak Arru ini agak sedikit Playboy. Pacarnya itu loh, banyak banget. Kalau aku boleh cerita, kak Arru ini tipe yang pasrah saja kalau didekati wanita. Jadi meski sudah punya pacar, kalau ada yang bening dikit pasti langsung meleng.
Meski kak Arru tipe yang seperti itu tapi bukan berarti dia penjahat kelamin yang meniduri banyak wanita. Kak Arru masih tahu hukumnya jika melakukan hal tersebut, jadi tidak mungkin dia melakukannya. Kak Arru hanya sulit melakukan komitmen saja.
"Terus kakak maunya gimana?" Tanyaku.
"Itu dia dek, kakak benar-benar pusing. Ratih tuh baik banget dek, sedangkan Nita itu seksi banget dek kadang kakak aja suka gak konsen kalau deket sama dia" Ucapnya sambil melamun.
"Woy sadar jangan ngelamun jorok" Aku lantas menoyorkan kepala kak Arru untuk menyadarkannya dari lamunan joroknya itu.
"Hehehe.." Kak Arru hanya cengengesan sambil menatapku.
Aku kembali menyarankan pada kak Arru tentang hubungan yang baik. Meski aku belum pernah pacaran sebelumnya. Tapi aku tahu banyak tentang hubungan pacaran. Aku mempelajarinya dari novel roman yang selalu aku baca.
Sesekali Kak Arru menanyakan pendapatku untuk memilih diantara kedua wanita tersebut. Kak Arru lantas menunjukan Foto kedua wanita yang sedari tadi diceritakannya. Aku bisa melihat wanita yang bernama Ratih, dia menggunakan kerudung dan sepertinya wanita baik-baik meski aku belum mengenalnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
180 Days To Be Perfect
Ficção GeralOrang bilang harus selalu ada yang ditonjolkan apakah itu kepintaran atau ketampanan. Tapi sulit rasanya untukku, orang bilang aku tidak tampan tidak juga pintar tapi 'standar'. Oleh karena itu aku masih sendiri sekarang tanpa seorang spesial yang m...
