Yein mendorong kursi roda milik ibunya menuju apartement kesayangannya.
Sedaritadi, ibunya hanya menatap kosong tanpa arah yang jelas. Yein tahu perasaan itu sedang memburuk untuk ibunya.
Ia membuka kode dipintu apartementnya. Saat pintu itu dibuka, seorang pria jangkung membalikkan badannya lalu menatap Yein dan ibunya sambil tersenyum.
"Sudah pulang?" Tanya Yein saat masuk kek kamar ibunya.
"Hm.." gumam pria itu sambil menggendong ibunya ke ranjang.
"Biarkan eomma tidur dulu. Badannya masih lemah sekali." Ujar Yein. Pria itu mengangguk.
Mereka duduk diruang keluarga.
"Bagaimana pekerjaan mu?" Tanyanya. Pria itu tersenyum simpul.
"Aku dapat bonus!" Yein tertawa saat pria itu melonjak senang.
"Kudengar kau menyelamatkan seseorang dirumah sakit...?" Ujar Baekhyun. Gadis itu mengangguk lalu meneguk minuman yang disediakannya tadi.
"Kau bertingkah konyol lagi, Yein," marahnya. Yein hanya mengedikkan bahu lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Kenapa kau menyelamatkan lelaki itu? Biarkan saja dia bunuh diri. Kau tak ada sangkut pautnya dengan dia," Yein mendengus lalu duduk menghadap kakaknya itu.
"Oppa, kenapa orang-orang selalu melakukan bunuh diri jika ia tak sanggup lagi menahan beban?" Tanyanya. Baekhyun menatap adiknya lalu tersenyum singkat.
"Karena kita tidak tahu bagaimana beban yang ia miliki dan wajar saja jika ia lelah menghadapi hidup." Jawab Baekhyun. Yein menggeleng.
"Itu bodoh."
"Kau yang bodoh, Yein." Yein menoleh.
"Mereka tak tahu bagaimana cara menghilangkan bebannya dan mereka memilih untuk tidak hidup didunia lagi." Yein tersenyum miring.
"Lalu jika ia bunuh diri, ia kira semua masalahnya akan selesai begitu?" Baekhyun menatap adiknya yang mengangkat satu alis.
"Walaupun mereka mati. Mereka hanya menyusahkan orang sekitar."
"Dengan mati tak menyelesaikan masalah." Yein menghela nafas.
"Jikapun ia mati, belum tentu ia bahagia dialamnya." Ucap Yein. Baekhyun menghela nafas menatap Yein.
"Ia hanya lelah Yein. Makanya ia melakukan itu," Yein tertawa renyah. Membuat Baekhyun menatapnya aneh.
"Itu semua kosong." Ucap Yein.
"Eomma selalu bilang padaku. Jika ada orang yang menyerah, semangati dia,"
"Setelah itu, eomma melakukan itu. Menyerah." Ucapnya dengan penekanan membuat Baekhyun terdiam.
"Mereka memiliki apapun. Namun saat salah satu yang mereka miliki diambil atau hilang, mereka merasa dirinya tak ada lagi. Hilang. Terbang dibawa angin." Ucapnya. Yein menghela nafas.
"Mereka adalah orang yang beruntung didunia yang merasa dirinya yang paling malang." Baekhyun tersadar saat gadis itu mengatakan kata sebijak itu.
"Dan tanpa sadar, eomma melakukan itu." Ucap Yein. Ia tersenyum miring.
"Hanya karena appa yang meninggalkannya," Yein memejamkan matanya sejenak.
"Kau tak mengerti kenapa mereka yang ingin bunuh diri itu melakukannya. Kau tak tahu seberapa sakitnya apa yang dirasakan mereka, Yein." Ucap Baekhyun.
"Kalau saja aku boleh bilang. Aku adalah anak yang ditinggalkan appanya, yang tak bersekolah dan bekerja paruh waktu disebuah cafe. Pastaskan aku untuk bunuh diri?" Tanyanya. Baekhyun mengerjapkan matanya.
"Tapi sampai sekarang aku masih hidup Oppa. Karena apa? Karena aku tahu perjalanan masih panjang dan aku tak berpikir sependek itu."
"Walaupun aku mati nanti. Aku hanya akan membuat orang disekelilingku menderita begitupun aku dialam yang berbeda."
"Walaupun mati, kita takkan pernah bisa menghindari masalah atau lari dari kenyataan." Baekhyun berdehem pelan. Membuat Yein meliriknya tajam.
"Kau dan Eomma. Sudah pernah ingin mencoba itu kan?" Yein tersenyum miris.
"Oppa, perjalanan ini masih panjang. Jangan berpikir sesingkat itu." Ucapnya.
"Kau berkata seperti itu katena bebanmu tak seberat beban kami!" Bentak Baekhyun. Yein menatapnya tepat dimanik.
"Dan aku berkata seperti ini karena Oppa dan Eomma yang berusaha meninggalkanku." Sentakmya dengan suara memelan.
"Kalian bahkan tak memikirkan bagaimana kehidupanku jika kalian pergi kan?" Air mata Yein ditahannya agar tak tumpah.
"Apa hanya aku yang disini yang berjuang sendirian menghadapi kenyataan?"
"Apa cuma aku yang disini berkata takkan menyerah apapun yang terjadi?" Ujarnya. Air matanya akhirnya jatuh juga.
"Kita memiliki beban itu bersama, Oppa," ucapnya.
"Bukan hanya kau yang merasakan nya. Aku juga." Baekhyun memeluk gadis itu yang sudah terisak.
"Maafkan aku yang pernah berniat hilang dimuka bumi."
"Maafkan aku.." Yein terisak di pelukan kakaknya.
"Yein," panggil Baekhyun. Yein mendongak.
"Minggu depan kau harus sekolah." Yei refleks menggeleng.
"Aku harus bekerja. Aku tidak mau." Baekhyun menghela nafas.
"Sayangnya aku sudah mendaftarkanmu." Gadis itu membelakkan matanya.
"Oppa jahat.."
°°
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret
AcakJeon Jungkook lelaki egois, dingin, menang sendiri dan benci kehidupannya. Tidak pernah memberi tahu siapapun tentang dirinya. Lalu kemudian ia bertemu dengan seorang gadis. Yang membuat hidupnya perlahan berubah. Jung Ye In gadis manis, pendiam yan...
