8.

2.5K 246 0
                                        

Pagi ini Yein terlambat. Gadis itu berangkat dengan langkah yang tergesa-gesa. Ucapan Baekhyun masih terngiang di telinganya.

Membuatnya tak bisa tidur seharian ini. Mungkin insomnia melandanya?

Yein mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru. Pikirannya teralih ke Baekhyun. Apa setelah kejadian kemarin Baekhyun baik-baik saja? Apa ia pulang ke rumah?

Yein menggigit sepotong roti lalu meneguk susunya.

"Yein, sudah ingin berangkat?" Gadis itu mencium pipi kanan milik ibunya lalu menyunggingkan senyum.

"Eomma sudah sehat kan?" Wanita itu tersenyum lembut memeluk anak bungsunya.

"Hati-hati dijalan," gadis itu mengangguk. Saat ia ingin melangkah, Yein teringat sesuatu.

"Eomma," Panggil nya. Ia menoleh ke arah kamar kakaknya lalu tersenyum kecut.

"Aniya, aku berangkat." Ia membuka pintu apartmentnya dan menampakkan seorang pria dengan wajah lelahnya memandang Yein.

"Oppa.." gumamnya. Gadis itu berdehem sebentar lalu mengalihkan pandangannya.

"Biar aku yang antar," ucapnya. Yein sesegera mungkin menggeleng dengan cepat.

"Aku bisa--" tangannya ditarik oleh Baekhyun untuk turun dari apartment.

Selama perjalanan gadis itu hanya bisa diam saat Baekhyun menyalakan alunan musik yang menenangkan pikirannya.

"Oppa," panggilnya. Baekhyun hanya memandang kedepan saat mobilnya berhenti.

"Oppa, terima kasih," ucapnya canggung lalu turun dari mobil. Saat ia melangkah, dirasakannya seseorang memeluknya dari belakang.

"Maafkan aku," Yein terdiam. Dilihatnya wajah Baekhyun yang kacau.

"Baekhyun Oppa.." gadis itu memutar badannya menghadap Baekhyun yang sudah menangis.

"Oppa, gwenchanna. Nan gwenchanna." Ia menghapus air mata Baekhyun.

"Kau tetap akan menjadi Oppaku. Selalu," Yein menyungging senyum manis walau ia tahu itu dipaksakan.

"Jangan menangis lagi. Aku juga akan sedih jika kau sedih."

"Kau akan selalu menjadi dongsaeng-ku kan? Kau takkan membenciku kan?" Yein menggeleng lalu memeluk kakaknya.

"Kapan seorang Yein membenci Oppa-nya?" Baekhyun membalas pelukan adiknya itu.

"Gomawo Yeinnie," Yein tersenyum hangat. Yein merenggangkan pelukannya.

"Aku pergi ya Oppa," ia melambaikan tangannya.

"Oppa jangan sedih lagi," ucapnya. Baekhyun tersenyum pelan membalas lambaian gadis itu.

Yein berbalik lalu berlari menuju kelasnya.

°°
"Juseongimnida Seonsaengnim," ucap Yein saat masuk ke kelasnya. Kim Saem berdehem pelan.

"Kau terlambat 40 menit." Yein menunduk dalam.

"Aku akan menghukummu." Ujarnya. Yein menghembuskan nafas panjang.

"Bersihkan halaman sekolah hari ini sampai pulang."

"Mwo? Halaman sekolah itu tidak kecil! Saem...jebal," Kim Saem berdecak marah.

"Itu pantas untuk murid baru yang melanggarnya," tegasnya. Yein mendengus malas.

"Arraseo Saem," ia berjalan keluar kelas lalu menghela nafasnya.

Ia berjalan pelan menuju taman sekolah dengan sapu yang ada ditangannya.

Padahal hari itu ia sebenarnya enggan untuk pergi. Tapi karena ia tahu semua akan menjadi buruk hari itu, ia pergi ke sekolah.

Hidup itu.. rumit ya? Berbelit. Membuat orang-orang berpikir itu adalah cobaan yang takkan bisa dihadapi.

Kantong mata Yein terlihat jelas dan kepalanya berdenyut saat menyapu halaman sekolah.

"Yein?" Panggil seseorang. Ia menoleh dan mendapati Jungkook disana. Perasaan canggung meliputinya. Karena hal kemarin saat dirumah sakit.

"Oh? Jeon Jungkook!" Ia tersenyum kikuk lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.

"Kau.. sedang apa?" Yein bergerak salah tingkah.

"Aku? Oh, kena hukuman hehe." Ia memberi senyuman lucunya. Jungkook menaikkan kedua alisnya.

"Takdir ya? Kita sama."

"Kau juga dihukum?" Tanyanya. Jungkook mengangguk.

"Aku terlambat."

"Lebih tepatnya sengaja," ujarnya yang membuat Yein terkekeh kecil.

"Kalau begitu mari lakukan bersama!" Ajaknya riang. Jungkook tersenyum hangat lalu mengangguk.

Jungkook tahu ada yang berbeda dengan gadis itu. Kantung matanya, matanya yang memerah, wajahnya yang memucat.

Ia tahu Yein tidak baik-baik saja.

"Kau sakit Yein?" Tanyanya saat Yein kembali menyapu. Mata gadis itu sendu menatap Jungkook. Tak ada pancaran tenaga disana.

"Hm? Tidak. Aku baik-baik saja," Jungkook berjalan ke arahnya lalu menyentuh pelan kening gadis itu. Wajah Yein memanas dengan pergerakan Jungkook.

"Kau sakit." Ujarnya. Yein hanya bergerak salah tingkah lalu menggeleng.

"Gwenchana. Aku bisa melakukan ini kok." Jungkook merebut sapu di tangan Yein. Lalu menatapnya jengah.

"Biar aku yang mengerjakannya. Kau duduk saja,"

"Tapi aku--" Jungkook mendekatkan wajahnya. Membuat Yein hampir terjatuh dan untungnya, Jungkook memeluk pinggangnya posesif.

"Kau membantah, lau mendapat akibatnya." Mata sendu Yein membuat jantung Jungkook memompa lebih cepat.

"Baiklah. Aku akan duduk disana." Ujar Yein. Posisi mereka masih sama. Dan Yein masih menahan nafas.

"Bernafaslah." Jungkook menjauhkan wajahnya dari Yein.

"Hm?"

"Bernafaslah. Aku tahu kau menahan nafas daritadi." Semburan merah muncul dari pipi Yein membuat Jungkook tertawa pelan.

Ia duduk di kursi panjang halaman sekolah. Kepalanya berdenyut sakit. Ia kurang istirahat.

Jungkook memperhatikan pergerakan gadis itu.

"Yein?" Yang dipanggil menyahut dengan wajahnya yang lemah. Jungkook duduk menghampiri Yein.

"Istirahatlah. Wajahmu pucat sekali." Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

"Aniiya, aku baik-baik saja." Ujarnya. Jungkook menarik tangan gadis itu hingga kepalanya terhuyung ke bahu Jungkook.

"Tidur dibahuku. Atau disini." Ujar Jungkook sambil menepuk pahanya.

"Aku.." Yein mengerjapkan matanya.

"Kau tidak tidur satu harian dan menangis, resah, sedih. Begitukah yang kau alami?" Yein mengangguk lalu melirik Jungkook.

"Kau, bagaimana bisa tahu?" Tanya gadis itu. Jungkook tersenyum.

"Setiap hari aku mengalaminya." Jawabnya. Yein hendak bangkit namun Jungkook menghentak kepalanya.

"Jungkook," panggilnya.

"Hmm.." Yein ntah kenapa ingin berkata sesuatu. Namun ditahannya.

"Bisakah aku mempercayaimu?"

Mata mereka bertemu. Lalu Jungkook menatap matanya dalam. Menampakkan luka disana.

Yein, apa kau benar-benar terluka?

○●

Saya apdet lagiiii. Maafya, sebenarnya crita ini genrenya mellow gt dan saya berusaha agar dapet feel nya.

Tapi nanti saya bakal kasih adegan yg sedikit ada genre comedynya ya. Biar ngga ngebosenin dari awal ampe akhir.

Okai. Terimakasih vote n comment nya!♥

SecretTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang