Dear Penny,
Hari itu kita tidak memasang tangis karena waktu yang sudah dekat menuju perpisahan, sebaliknya kita malah mengukir senyum karena memutuskan untuk menikmati waktu yang tersisa, walau mungkin hanya sisa satu hari saja.
***
Previously
"Karena itu, gue mau yang terbaik buat lo," jeda. "Walau itu berarti gue harus pergi dan gak bakalan kembali lagi."
Aku memejamkan mata, tenggorokanku tiba-tiba sesak.
"It's over then," ucapnya pelan. pandangan kami saling bertemu. "I'am done."
-
-
"Dan lagi," ucap Lya. "Lo gak boleh sama sekali ngehubungin Anya kalau ia udah di Seattle nanti, itu kata ortu dia. Dan gue juga setuju, karena semakin lo hubungin dia, Anya malah makin sedih." Lya menatapku lekat. "Gue harap lo ngedukung ini, karena semuanya juga buat kebaikan Anya, dan lo sendiri."
***
Anya's POV
Aku menggerakkan telapak tanganku yang bergetar, menekan kontak bernama "Kira." Begtu melihatnya sedang on di Skype.
Aku menegakkan posisi iPad, menyandarkannya di bantal. Beberapa detik kemudian, wajah Kira muncul di layar. Aku tersenyum lemah.
"Astaga, Anya!" suara Kira langsung memekakkan telingaku. "Lo kenapa pucat gitu? jam segini belum tidur, lihat lingkaran hitam di mata lo itu udah kayak eye-liner luntur."
"Lo juga belum tidur jam segini lagi ngapain?" aku memutar bola mataku main-main. "Btw, kamar lo gelap banget. Awas ada valak."
"Jangan nakutin gue elah, lampu gue rusak Anya," ucapnya membuatku tersenyum kecil. "Lo habis nangis? Pasti lo begadang karena banyak pikiran kan? Jarang-jarang lo buka Skype malam-malam gini."
Aku menunduk, memegangi kelopak mata kiriku yang terasa berdenyut-denut. "Kir," panggilku pelan. "Lo juga kelihatan gak baik, suara lo aja riang, muka lo murung."
"Gue ...," Kira memngambil jeda. "Gue sama Dino udah gak ada apa-apa lagi."
Sudah kuduga dari awal, pasti hari ini akan datang. "Jangan pernah nyesal sama pilihan lo itu kalau gitu, lo udah lakuin keputusan yang bener," ucapku sembari tersenyum lembut. "Lo gak boleh berjuang sendirian."
"Tadi dia kelihatan buruk, Anya," mata Kira mulai berkaca-kaca. "Bibirnya kering, luka-luka. Matanya lesu, kulitnya pucat sekali. Gue, gue juga gak bisa liat dia kayak gitu." Suara Kira mulai mencicit serak.
Aku tersenyum prihatin. "Gue ngerti, Kir. Gue ngerti," ucapku pelan. "Tapi gimana pun juga, lo mesti lupain dia. Gak ada pilihan lain lagi."
Kira mengangguk. "Udah, udah." Ia mengusap wajahnya, setelah tangannya tersengkit, senyumnya langsung terukir cerah. "Gue males sedih-sedih mulu. Btw, lo belum jawab pertanyaan gue tadi."
Aku mengerutkan alis. "Pertanyaan yang mana?"
"Lo abis nangis ya?" tanyanya ulang.
Aku cuma membalasnya dengan senyum lemah, dikuti dengan tarik napas panjangku setelahnya. "Kir," panggilku.
"Hm?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sketcher's Secret
Teen Fiction(Completed) Bagi orang-orang lain, Aidan itu; -Cakep -Suka musik dan basket -Agak pendiam -Suka bawa buku sketsa ke mana-mana Tapi bagi Anya, Aidan itu; -Tidak hanya cakep, tapi juga ramah dan punya senyum yang manis. -Tidak hanya sekedar suka...
