Dear Penny,
Kau adalah benda pertama yang Aidan berikan padaku. Dan mulai saat ini, kau akan penuh dengan tulisan tanganku yang berisi kisahku--eh maksudku, kisahnya. Atau ... Kisahku bersamanya, mungkin? Ah, entahlah!
***
Aku mencoba membuka mata, namun cahaya matahari dari jendela membuatku terpejam lagi. Aku mengerjapkan mataku, berusaha membiasakan penglihatan dengan sinar pagi yang menembus kaca jendela.
Tunggu dulu, kenapa aku bisa ada di sini? Seingatku setelah pulang dari festival kemarin malam, aku naik ke mobil Aidan lalu kemudian....
Aku melirik buku diary di sampingku yang langsung mengingatkanku tentang kejadian semalam.
"Hah?!" Aku berteriak, siapa yang membawaku ke dalam? Apa mungkin...
Aku segera duduk dari sofa
BRAK!
Tidak sengaja, kakiku langsung menghantam meja.
. "Aduh," rintihku sembari memegang telapak kakiku yang nyut-nyutan.
Tidak ada waktu untuk merintih-rintih ria, aku harus mengecek pintu rumah. Aku berusaha berdiri.
BRAK!
Aku goyah. Aduh, kenapa harus sial di saat seperti ini? Dengan susah payah, aku mengesot sampai ke pintu depan.
Aku memiringkan kepala heran saat melihat sebuah kunci rumah bertali biru muda tergeletak di lantai.
Aku memungut kunci itu.
"Kenapa kunci rumah ini bisa ada di sini?"
***
(Flashback)
Aidan's POV
"Anya, bangun." Sudah seratus kali aku mengucapkan kalimat itu. Siapa yang akan mengunci pintu rumahnya ketika aku akan pulang?
Karena anak itu tidak kunjung bangun, aku iseng mengambil sehelai kertas HVS dari kemasan yang tergeletak di atas meja tamu.
Aku mulai menggambar sesuatu dari pensil yang kuambil dari tempat yang sama, kebiasaanku.
Bahkan setelah aku selesai, anak itu tidak kunjung bangun juga. Malahan tidurnya semakin nyenak, sampai ngorok begitu. Aku tertawa tanpa suara. Bahan ledekan baru, nih.
Sketsa yang tadi kugambar kumasukkan ke dalam saku, jangan sampai Anya melihat gambarku.
Aku melirik jam tangan, sudah hampir jam sebelas malam. Aku tidak bisa lama-lama lagi.
Kusambar kunci rumah Anya lalu aku segara berjalan menuju pintu, kosong melompong, kemana orang tuanya?
Aku melangkah menuju pintu depan, lalu aku membukanya. Kukunci pintu dari luar menggunakan kunci rumah bertali biru itu.
Aku mengecek bagian paling bawah dari pintu rumah Anya. Bagus, celahnya lumayan besar.
Aku membungkuk, lalu kulempar kunci rumah itu ke dalam celah di bawah daun pintu. Kunci itu sudah masuk ke dalam rumahnya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sketcher's Secret
Roman pour Adolescents(Completed) Bagi orang-orang lain, Aidan itu; -Cakep -Suka musik dan basket -Agak pendiam -Suka bawa buku sketsa ke mana-mana Tapi bagi Anya, Aidan itu; -Tidak hanya cakep, tapi juga ramah dan punya senyum yang manis. -Tidak hanya sekedar suka...
