Dear Penny,
Sepertinya aku benar-benar harus pergi.
***
Aidan's POV
Aku menatap rumah tua di depanku, setiap bagiannya sudah usang dilahap waktu. Warnanya yang penuh tidak lagi bercahaya, hanya gelap dan mati.
Untuk kedua kalinya, aku memasuki rumah tua itu. Untuk kedua kalinya, semua kenangan itu terputar kembali.
Aku memasukkan kedua telapak tangan ke dalam kantung celana jeans ku. Angin serempak berhembus ke satu arah, sangat kencang hingga bunyi gemersik pohon bambu terdengar. Hening, sampai hujan rintik-rintik membasahi kausku yang tipis.
Aku memperlebar langkah. Hari ini, hari pertemuanku dengan si brengsek untuk yang kedua kalinya. Dino, Kakakku. Meski memanggilnya dengan sebutan itu tidak akan pernah kulakukan.
Keramik lantai yang sedikit pecah membuat suara kecil saat sepatuku melangkah di atasnya. Aku menghela napas, kubuka pintu di depanku itu, disusul dengan suara deritan yang benar-benar nyaring.
Bunyi itu membuat degupku berpacu, kutundukkan kepalaku cepat. Bergerak kencang dalam gelap, kuambil langkah lebar ke samping, menumpukan segala keseimbangan di kaki kiri. Dia hanya memukul pintu kayu itu, menimbulkan suara gebukan yang keras.
Kini aku berdiri di belakang punggungnya, tersenyum miring.
Kudengar ia berkata, "Refleks lo bagus juga," seringai Dino. Dapat kudengar ia berbicara dengan nada yang sarkas.
Aku hanya diam, menunggu ia mengucapkan kalimat selanjutnya. Hening, hanya terdengar rintik-rintik hujan yang beradu dengan genteng. Semakin lama, temponya semangin kencang. Hujan lebat.
"Kenapa lo manggil gue ke sini? Lagi?" tanyaku tanpa ekspresi.
Dapat kudengar tawa kecil Dino. "Menurut lo?" tanyanya, lagi-lagi sarkastis. "Lo lupa ya? Ini tanggal 17, lo sudah gak mau ngenang ulang tahun Ibu? Sudah tiga bulan sejak lo ngebaca surat-surat itu. " Suara Dino mulai serak.
Aku mengernyitkan dahi, menahan ringisan. Kukepalkan tanganku paksa. Ibu. Hari ini 17 Maret, ulang tahun Ibuku.
Dino sekarang memanggilku ke sini setiap 17 Maret. Untuk mengenang Ibuku, yang tubuhnya sama sekali tidak ada di sini. Hanya satu tempat yang bisa kami tapak untuk mengenang, hanya rumah reyot ini. Kenangannya ada di sini.
"Makasih udah buat gue inget," ucapku sembari menunduk.
"Oh, ternyata lo masih peduli." Aku mengangkat kepala begitu mendengar Dino mengucapkan kalimat itu. "Gue kira lo gak lagi peduli, gue kira lo gak lagi mau ngenang ulang tahun Ibu," nada suara Dino meninggi. Ia menyimpan emosi.
"Kalau gitu lo salah," jawabku kemudian.
Lama kami menghabiskan jam per jam dengan hening. Hanya dengan hembusan angin yang meniup-niup daun pohon, dan suara hujan lebat yang nyaring.
Kami berdua cuma duduk. Berdoa, dalam hati mengucapkan kalimat-kalimat untuk Ibu. Berharap ia mendengar, berharap ia memaafkan.
Aku menyesal, aku menyesal karena menganggap Ibu dengan segala anggapanku di masa lalu. Penyesalan ini akan selalu ada, sebelum tidur, saat dalam perjalanan, sejak pertama kali Dino memanggilku ke sini--tiga bulan lalu. Siklus pikiranku terus terulang-ulang seperti kaset yang rusak.
Malam itu, dua orang yang saling membenci, dua orang yang selalu berada di jalan yang berbeda, berdoa untuk orang yang sama. Bermohon dengan harapan yang sejalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sketcher's Secret
Teen Fiction(Completed) Bagi orang-orang lain, Aidan itu; -Cakep -Suka musik dan basket -Agak pendiam -Suka bawa buku sketsa ke mana-mana Tapi bagi Anya, Aidan itu; -Tidak hanya cakep, tapi juga ramah dan punya senyum yang manis. -Tidak hanya sekedar suka...
