Dua Puluh Lima|Momen

6.9K 426 99
                                        

    Dear Penny

    Hal yang paling kutakuti dari waktu adalah, ia mampu mengubah kejadian berharga yang kita alami sekarang menjadi memori lampau yang bisa saja dilupakan di masa depan.

***

     Dan pada malam itu pula aku telah melakukan kesalahan yang membuat waktumu di sini pada saat itu semakin habis. Kita terlalu hanyut dalam pembicaraan hingga tertidur. Aku di atas karpet tebal, dan kamu di ranjang rumah sakit. Seharusnya aku terbangun pada pukul Sembilan, di mana ponselku berdering tanpa henti, dipenuhi oleh panggilan tak terjawab.

Kirana Muthiara

08:57

Kak Lya sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit, lo harus pulang sekarang.

Namun semuanya sudah terlambat.    Pada pukul sembilan lewat sepuluh, seorang perempuan berambut cokelat muda berdiri di depan kamar inapmu, masih memakai jas kuliah sambil menerima telepon dari orang tuamu. Mengucapkan kata "Baiklah." begitu mereka menyuruhnya membawamu pergi secepatnya.

***

Anya's POV

       Semburat-semburat warna buram berubah menjadi jelas, menapakkan langit-langit rumah sakit yang terang. Aku menutup mataku ketika cahaya silau dari lampu putih di atasku membuat mataku sakit.

      Aku menggerakkan kakiku, menimbulkan suara-suara samar antara selimut dan sprei putih yang berbau khas rumah sakit.

       Perlahan, aku menggerakkan punggungku hingga tegak, memundurkan badan hingga kini punggungku telah bersandar pada bantal, menimbulkan rasa lega dan rileks.

       Dengan mata yang masih setengah tertutup dan kesadaran dari tidur yang masih terkumpul lima puluh persen, aku menggerakkan leherku. Mataku menelusuri setiap bagian dari rumah sakit.

       Sebelah kiri, jendela lebar berbingkai putih yang gordennya terbuka membuatku kembali menahan silau, lalu aku memutar kepalaku ke depan, pintu rumah sakit setengah terbuka.

      Otakku sempat memproses, namun karena masih dihadang kantuk, aku tidak mempedulikan dan tidak memikirkan alasan mengapa pintu itu terbuka setengah.

       Hingga tiba pada saat kepalaku menoleh ke samping kanan, ke arah pintu kamar mandi.

      Mataku melebar, refleks seluruh    kesadaranku terkumpul hingga seratus persen, degup jantungku meningkat, memacu teriakanku hingga rasanya naik ke pangkal tenggorokan.

       Seorang laki-laki berambut cokelat-Aidan-berdiri di depan pintu kamar mandi itu. Ia memakai celana jeans hitam, rambut cokelatnya yang basah terlihat sangat acak-acakan, tetesan air dari rambutnya masih membasahi wajahnya.

      Cahaya matahari dari jendela menerpa mata hitamnya, hingga membuat kedua manik itu terlihat mengkilap.

      Dan yang membuat bola mataku nyaris keluar dari rongganya adalah, cowok yang tubuhnya tinggi menjulang itu sama sekali tidak memakai apa-apa yang menutupi pundak hingga perutnya, ia hanya memegang handuk kecil putih yang ia guanakan untuk mengeringkan rambutnya hingga acakan.

      Melihat Aidan shirtless pagi-pagi begini di saat kondisi mataku baru bangun dalam beberapa menit yang lalu tentu saja bukan hal yang biasa.

Sketcher's SecretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang