Sepuluh|Amarah

6.7K 624 16
                                        

    Dear, penny.

    Menurutku, menyukai seseorang secara sehat adalah bahagia ketika orang yang disukai juga bahagia. Itu alasan mengapa aku hanya diam saja ketika ia mendorongku mundur dari duniamu, lalu mengambil tempatku darimu, karena setelah ia melakukan itu, kau masih bisa tertawa bersamanya.

                                 ***

Aidan's POV

     Aku duduk di taman sambil membuka-buka buku sketsaku, penuh gambar wajah cewek itu secara utuh. Wajahnya kugambar dengan jelas, tidak seperti sketsa-sketsa yang kubuang di tempat sampah--sketsa yang menyamarkan wajahnya.

     Aku tersenyum sesaat, sudah kukatakan, aku merasa belum saatnya memperlihatkan buku sketsa ini pada cewek itu. Walaupun hampir semua orang yang kukenal sudah tahu bahwa aku akan marah besar jika buku sketsaku disentuh, apalagi dibuka.

     Aku memejamkan mata, kupasang earphone-ku sambil memasang pose sesantai mungkin. 

    Mataku yang tadinya terpejam langsung terbuka saat kuingat sesuatu. Aku membalik-balik buku sketsaku, lalu menemukan sketsa cewek itu. 

     Sketsa yang menampakan cewek itu di lapangan, dengan rambut yang dikuncir kuda.

     Sketsa yang belum rampung itu kuselesaikan, lalu kupandangi selama beberapa menit.  Seperti biasa, sketsa cewek itu wajahnya tidak kugambar. Itu alasan mengapa aku sekarang beranjak membuangnya di tempat sampah yang selalu sama, tempat sampah di samping bangku taman.

    Aku hanya akan memberikan gambar yang lengkap dengan wajahnya kepada cewek itu nanti, bukan sekarang. Dan gambar dengan wajah itu hanya kusimpan di buku sketsaku ini. Gambar yang tidak kuperlihatkan wajahnya hanya untuk melatih kemampuan atau menuangkan isi kepalaku saja.

    "Woy Aidan!" seru seseorang tiba-tiba.

     Aku mendongak, melihat siapa yang memanggilku. "Apa?" tanyaku begitu melihat Thio yang tiba-tiba muncul dengan tampang serius.

    "Cepetan ke lapangan basket, sekarang, Dan! Tim kita bakalan tanding sama anak kelas dua belas!" seru Thio tak karuan. "Udah ada Andra, Varo, sama Leo! Tim andalan kita gak bakalan lengkap kalau lo gak ada, buruan!"

     Mendengar itu, aku langsung bersemangat dan segera berlari menyusul Thio menuju lapangan basket yang sudah dikelilingi gerombolan siswa-siswi yang antusisas, sebagian besar adalah cewek.

      Salah satu hobi besarku selain sketsa tentu saja adalah basket.

     Aku masuk ke lapangan, bersiap memulai pertandingan.

***

Anya's POV

     Aku duduk dengan lesu di bangku taman sendirian. Rasanya sendi-sendiku ngilu dan sulit digerakkan, semua bagian tubuhku tidak menerima perintah dari otak. Lesu.

     Aku lupa minum obat semalam.

     Aku mendudukkan tubuhku yang lunglai di kursi taman seperti biasa. Tanpa notebook yang biasanya kubawa untuk menuliskan cerita, tanpa buku diary yang biasanya kugunakan untuk menuliskan catatan harianku.

Sketcher's SecretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang