Dear Penny,
----
***
Aidan's POV
Aku mengernyit memperhatikan buku sketsaku. Terlihat Anya yang duduk sambil menunggu di halte.
Aku malah menggambar Anya.
Kuperhatikan bangku kayu di mana Kira tadinya duduk. Cewek yang seharusnya menjadi objek gambarku itu sudah tidak ada di sana. Aku tidak sadar kalau dia sudah pergi.
Aku mengalihkan pandangan dari bangku ke buku sketsa. Kurobek halaman tadi, lalu kuremas. Namun sebelum membuangnya, tanganku berhenti di udara.
Aku membuka kertas yang telah teremas itu, lalu memperhatikan isinya. Segera kulipat empat kali. Lalu kuselipkan di bagian tengah buku sketsa.
Entah kenapa rasanya sayang kalau dibuang.
Karena bayang-bayang Dino dan ancamannya itu tiba-tiba menghantui lagi, aku segera mengambil ponsel dari saku, lalu menghubungi Anya.
Teleponnya tidak aktif.
Sudah sejak pagi Anya terlihat menghindar. Aneh, belakangan ini juga ia tidak lagi nongkrong bersamaku.
Anya banyak berubah.
***
Kira's POV
Belakangan ini, hari-hariku berubah.
Semenjak peristiwa itu, semua tak lagi sama.
Flashback
Aku berbalik badan, bersembunyi di belakang pintu perpustakaan.
Kulihat Anya dan Aidan berbicara serius. Aku perlahan tersenyum usil, masalah soal Dino yang memiliki jaket biru tua bergaris putih itu terlupakan sebentar. Masalah soal Dino yang mengusirku dari mobilnya itu terlupakan sebentar.
"Pasti Anya bakalan di-'Dor' nih."
Itu dugaanku waktu itu. Aku tersenyum usil di belakang pintu.
Namun setelah mendengar kalimat itu, darahku terasa berdesir.
"Jauh sebelum hari ini, gue mulai ngegambar Kirana Muthiara karena gue pikir waktu itu gue sama dia."
Detik itu juga, senyumku hilang.
Flashback end
Aku menunduk sepanjang pelajaran dari Pak Sukirman dimulai.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan Bu Tati yang masuk ke kelas untuk razia ponsel. Kulihat sekilas Anya memasukkan ponselnya ke kaus kaki dan aku pun melakukab hal yang sama, dulu kalau sudah begini, kami berdua akan sama-sama susah payah menahan tawa sambil menahan rasa tidak nyaman karena ponsel yang tersembunyi di kaos kaki kami masing-masing.
Hari ini Anya berubah menjadi pemurung.
Dan itu membuatku merasa seperti benar-benar jadi orang jahat.
***
Semuanya terasa asing, aku benar-benar tidak tahu caranya bertindak, seperti semua yang kulakukan akan berujung jadi kesalahan.
Cemberut di bibirku memudar begitu melihat Anya duduk di salah satu kursi kantin sambil meminum jus jeruk. Aku segera berlari menghampiri, duduk di bangku depan Anya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sketcher's Secret
Genç Kurgu(Completed) Bagi orang-orang lain, Aidan itu; -Cakep -Suka musik dan basket -Agak pendiam -Suka bawa buku sketsa ke mana-mana Tapi bagi Anya, Aidan itu; -Tidak hanya cakep, tapi juga ramah dan punya senyum yang manis. -Tidak hanya sekedar suka...
