Sembilan|Berubah

5.7K 562 21
                                        

 Dear, Penny

 Di dalam hidupku banyak hal yang terjadi tidak sesuai harapan, namun baru kali ini aku merasa bodoh sekali--karena mau terbawa kesenangan pada sebuah hal yang masih abu-abu.

                              ***

Aidan's POV

    Sebelum ke taman ini, aku melihatnya, melihat 'cewek itu' sedang berada di lapangan. Memukul bola tenis dengan raketnya. Aku tersenyum menatapnya, lalu segera berjalan ke taman untuk membuat sketsa dirinya seperti biasa.

    Aku sudah menggambar dua lembar sketsa saat melihat setiap aktivitas cewek itu, menggambar apa yang dia lakukan.

     Aku selalu hanyut dalam duniaku saat sedang menggambar sketsa cewek itu. Sambil menikmati alunan musik dari earphone, aku menggoreskan mata pensil di buku sketsa, menggambar apa yang kulihat sebelumnya.

     Tapi setelah selesai menggambar, aku tidak menyimpannya atau tidak kuberikan padanya. melainkan kurobek dan kubuang.

    Hal itu karena aku tidak ingin menyatakan semuanya terlalu cepat, aku rasa belum waktunya, kami belum terlalu dekat.

    "Wa! Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" seseorang menepuk pundakku dari belakang, lalu sosok itu duduk di sampingku.

     Sosok yang mampu membuatku tersenyum cerah sesaat.

     Aku benar-benar tidak bisa tahan jika ada orang yang berani menggangguku saat menggambar sketsa, dan Grace baru saja melakukannya.

    Dari enam tahun yang lalu, dia sudah tahu aku benci diperlakukan seperti itu saat membuat sketsa. Tapi mungkin karena sudah lama tidak bertemu, dia mau menguji kesabaranku, mengecek apa kebiasaanku dari dulu masih tetap ada atau sudah berubah. Dan nyatanya memang masih ada, aku masih benci dilihati saat membuat sketsa.

     Grace tahu itu, dia tahu semua tentangku, dan aku juga tahu semua tentangnya.

      Sampai sekitar tiga tahun lalu, aku kemudian tahu selama itu, Dino lebih dulu menjadikan Grace pacarnya. Dan mereka menyembunyikannya dariku. Aku marah semarah-marahnya dan bahkan membentak Grace sampai menangis.

     Ternyata setelah itu, dua bulan kemudian aku baru tahu  dia harus pergi ke London dan menetap di sana.

    Barulah aku menyesal ketika dia sudah tidak dekat lagi. Dan hal terakhir yang kuberikan padanya hanya cincin perak yang sampai sekarang masih ia kenakan.

    Masa-masa itu aku benar-benar hancur, sering berkelahi, bolos, merokok, dan lain sebagainya. Aku jadi berandalan selama setahun, dan akhirnya sadar saat tahu Grace tidak mungkin kembali lagi. Dalam waktu-waktu itu, aku susah payah mengubur perasaanku kembali.

    Tapi nyatanya tidak begitu, gadis itu kini kembali dan duduk di sampingku. Kembali membawa sejuta perasaan yang dulu sempat terkubur.

     Tapi tetap saja rasanya tetap aneh dan tidak sama, mungkin ini cuma ingatanku tentang perasaan lama, bukan perasaan yang kurasakan sekarang. 

    Aku mencuri pandang ke arahnya, namun Grace sibuk melirik sketsaku. Jujur, aku merasa terganggu. Grace tidak boleh melihat sketsa ini.

   "Lo abis dari mana? Kok keringetan gitu? Jauh-jauh dari gue, lo bau," ucapku.

Sketcher's SecretCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang