Sejak mereka meninggalkan meja sampai masuk ke dalam taksi yang dipanggilkan kepala pelayan, tiga wanita yang berbeda menghentikan Yunho dan meminta tanda tangannya.
Jaejoong takjub melihat Yunho yang bisa mengubah emosi secepat dan setotal itu. Sesaat pria itu tampak sebagai orang tua yang kebingungan dan prihatin. Di saat lain dia berubah menjadi bintang televisi yang penuh percaya diri dan arogan, menguasai keadaan dan dengan luwes menampilkan senyum terkenalnya pada publik pemujanya. Dia berbicara pada setiap wanita itu dengan lembut dan akrab.
Cara berbicaranya yang begitu akrab dengan masing-masing wanita itu pasti membuat si wanita merasa dia betul-betul peduli padanya. Tuluskah Yunho atau apakah dia hanya berakting? Itu dugaan yang meresahkan dan yang tidak ingin dipikirkan Jaejoong lama-lama.
"Kau pernah merasa bosan dengan itu?" tanya Jaejoong, yang kemudian menunjuk wanita yang masih terpana di trotoar. Si pengagum berat itu masih memeluk erat-erat serbet yang sekarang bertuliskan nama Jung Yunho.
"Ya, sering. Aku berusaha mengecilkan sindrom bintang dan menghadapi para wanita dengan sabar dan sadar diri. Aku bertanya pada diriku sendiri. 'Jadi apa aku tanpa mereka?' itu biasanya berhasil mencegahku berbesar kepala."
Jaejoong meminta Yunho mengantarkannya kembali ke sekolah, karena ada beberapa surat di sana yang harus diambilnya sebelum pulang ke apartemennya yang beberapa blok dari situ. "Baik," ujar Yunho. "Aku memang ingin bertemu Jiyool sebentar."
Jaejoong cepar-cepat melihat jam tangan emas di pergelangan tangannya. "Tapi sekarang sudah pukul sembilan lebih. Dia pasti sudah tidur."
"Berarti kita harus membangunkannya," Yunho menanggapi dengan enteng.
"Tidak adakah peraturan yang harus kau taati, Tuan Jung?"
Pria itu tertawa. "Beberapa. Dokter Kang tahu bahwa kadang-kadang aku bekerja di studio pukul delapan atau sembilan malam, tergantung kekacauan yang ditimbulkan Dokter Cha Bong Gun pada hidupnya minggu itu. Jadi dia mengizinkan aku menyelundup beberapa malam seminggu untuk menemui Jiyool."
Jaejoong menggunakan kuncinya untuk membuka pintu pribadi yang diset otomatis mengunci setelah hari gelap. Mereka berjingkat-jingkat menyusuri koridor gelap asrama sampai tiba di kamar yang ditempati Jiyool bersama tiga gadis kecil lain yang seumur dengannya.
Yunho membiarkan Jaejoong mendahului memasuki kamar, namun wanita itu menjauh ketika dia duduk disamping anak yang pulas di tempat tidurnya itu. Yunho menyalakan lampu redup di meja sisi dan menepuk bahu Jiyool pelan-pelan. Anak itu bergerak, lalu membuka mata dan melihat Yunho membungkuk di atasnya. Dia berbisik senang dan langsung duduk tegak, memeluk leher ayahnya kuat-kuat.
Jaejoong tidak tahu reaksi apa yang diharapkannya akan dilihatnya, tapi yang jelas bukan reaksi spontan seperti ini dari anak yang biasanya begitu tenang dan kalem.
"Apa kabar anak kesayangan Daddy? Kau senang bertemu denganku?" pertanyaan tersebut tidak membutuhkan jawaban. Jiyool bergelung di dadanya sementara Yunho mengacak-ngacak rambut ikalnya.
Ini satu lagi kepribadian Jung Yunho. Wajahnya melembut dan sedikit pun tidak tersisa kesinisan yang biasanya mengerutkan bibirnya dan menyelimuti matanya. Matanya berbinar penuh kasih ketika memandang putrinya.
Setelahnya acara cium dan peluk selesai, Jiyool mulai memeriksa saku Yunho satu per satu dengan jari-jari mungilnya dan mengikik saat pria itu pura-pura menepis tangannya. Akhirnya dengan penuh kemenangan dia memperoleh sebungkus permen karet dan mulai membukanya.
"Tunggu sebentar, Nak. Kau tidak boleh memakannya sekarang," tungkas Yunho. Lalu dia mengangkat bahu dan berkata, "Baiklah, kau boleh memakannya," sementara Jiyool berhasil melepas kertas pembungkus dari salah satu permen.

KAMU SEDANG MEMBACA
Eloquent Silence
FanfictionJaejoong mendapati tugas mengajar Jiyool seorang anak tuna rungu. Ternyata ayah anak itu adalah Jung Yunho seorang aktor terkenal pujaan para wanita.Pekerjaan itu mengharuskan Jaejoong tinggal bersama Jiyool di rumah peristirahatan Yunho. Rupanya Yu...