Silam

50 11 3
                                        

"Bang, gue mau curhat." Setelah merayakan kelulusan bersama teman-temannya, adikku, Rezka pulang dengan wajah kusut.

"Mumumu... Sini sini curhat sama abang." Jangan anggap aku gay. Aku hanya ingin menghiburnya.

"Gue udah lulus dan lo tau..." Ia menggantung kalimatnya.

"Apa?" Tanyaku tak sabaran.

"Gue... Udah... Nggak... Bisa..." Jika membunuh orang itu dihalalkan, itu yang akan kulakukan sekarang.

"Lankey..." Nama itu keluar dengan nafas berat.

"Lo naksir cewek namanya Lankey? Trus lo udah lulus dan lo harus pisah sama dia? Pasti dia adek kelas." Tebakku. Berharaplah bahwa ini salah. Adikku yang satu ini memang tidak sedingin aku, namun hatinya sangat sulit dibuka untuk perempuan manapun. Perlu kalian ketahui bahwa, kami berdua tidak pernah pacaran. Menurutku, itu hanya buang buang waktu dan uang.

Dia mengangguk samar.

"Halah. Jangan putus asa gitu dong, masih banyak cewek diluar sana." Hiburku.

"Tapi dia beda bang. Entah kenapa gue merasa kalau dia itu cinta pertama gue. Dia yang suka makan di taman sekolah, dia yang suka baca buku, dia yang nggak pernah pingsan pas upacara. Dia yang..." Dia menggeleng kuat sebelum menyelesaikan omonganya. Isakannya terdengar.

"Lebay deh lo. Gitu aja nangis." Balasku sinis.

"Lo nggak pernah ngerasain di posisi gue. Coba deh lo buka hati lo buat satu cewek, pasti lo juga akan ngerasain kehilangan. As same as what I feel now."

Moon & BackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang