Not Dating

60 12 0
                                        

Hanya ada 2 pilihan;
Pertama, mengajak Naufal untuk masuk ke loby.
Kedua, mengajak Kamil untuk keluar loby.

Aku pikir opsi pertama adalah yang terbaik, karena didalam loby suasananya sangat nyaman.

Tapi bagaimana aku membujuknya, eh mengajaknya untuk keluar dari mobil?

"Kok bengong?" Suaranya membuyarkan pikiranku yang sedang berpikir.

Gosh, I adore his voice. No, I adore everything about him.

"Uh? Lagi mikir." Aku mengutuk diriku yang terlalu jujur.

Dalam hati aku berdoa, tolong jangan bilang 'bisa mikir? Kirain enggak.'

"Mikirin apa?" Astaga. Kenapa dia tak ingin beranjak dari kursi kemudinya?

"Temen aku mau kenalan sama kamu, tapi dia ada di loby." Setelah mengatakan itu aku kembali berdoa dalam hati, semoga dia mengerti kode dariku.

Setelah itu aku mengutuk diri sendiri karena memakai 'aku-kamu' saat berbicara padanya tadi.

Ewh, seperti orang pacaran saja. Kami tidak pacaran, kami tunangan.

"Ayo. Kayaknya aku memang harus kenalan sama teman-teman kamu. Let them know that I am your future." Sentuhan ditanganku membangunkan aku yang sedang monolog dengan diriku sendiri.

Bisa kau ulangi apa kalinat terakhirnya? Let them know that I am your future? Aku benar kan? Katakan kalau aku tidak salah dengar.

Naufal sudah keluar dari mobilnya dan menggengam tanganku setelah memberikan kunci mobilnya pada bell boy.

Kuulangi, Naufal menggengam tanganku.

Rasanya hangat. Seperti aku sedang memakai sarung tangan berbahan woll.

Ribuan kupu-kupu berterbangan dalam perutku. Rasanya aku ingin terbang. Oh, jangan lupakan jantungku yang berdetak seakan ia akan meledak.

"Kok bengong lagi?" Ah, suaranya. I love it.

Aku melirik tangannya yang menggengam, ralat lebih tepatnya membungkus tanganku.


Dia tersenyum kikuk lalu melepaskan kontak kulit itu.

"Ayo." Ajakku seraya berjalan didepannya. Kudengar langkah kakinya setelah aku berjalan 5 langkah didepannya. Apa dia menjaga jarak?

"Aduh, Mas Fariz lama banget sih. Gue udah lumutan nih nungguin dia." Cerca Kamil ketika aku duduk disebelahnya.

"Sabar bae aku lagi dijalan." Kataku dengan nada dibuat-buat. Itu berhasil membuatnya menekuk wajah lebih dalam.

Tanpa kusadari, Naufal sudah berdiri disampingku.

"Nau ini Kamilia, panggil aja Lia. Kamil, ini Naufal."

"Naufal."

"Kamilia."

Huft. Akhirnya janjiku sudah ditepati. Kalau tidak aku tepati, pasti Kamil akan menagihku setiap saat.

Sesaat setelah melepaskan jabatan tangan mereka, Fariz datang.

"Bae, maaf ya tadi macet." Wah parah nih Fariz, datang-datang langsung ngecup kepalanya Kamil.

Disini ada orang woy.

"Awas ya kalau telat lagi." Oh, sejak kapan Kamil menjadi pemaaf?

"Tha, jadi double date nggak?" Spontan aku berbalik badan, langsung mendongak untuk memandang wajah Naufal.

Ah, aku baru sadar kalau tinggiku hanya sebahunya. Padahal kalian tahu kan kalau menjadi karyawan hotel harus punya tinggi minimal 155cm.
Guess, how tall he is.

"Kamil ngajakin double date, kamu mau?" Suaraku seperti tikus terjepit pintu.

"Mau. Kapan?"

"Malam ini."

"Malam ini aku harus belajar, soalnya besok sekolah."

Hatiku mencelos. Dadaku sesak. Rasanya di dalam sana ada dua tembok yang menjepitnya. Nada suaranya benar-benar tidak ada basa-basi untuk menolak. Tapi terdengar begitu jujur dan yakin.

Aku tetap memasang senyumku.

"Kamil, maaf ya kami nggak ikut. Kalian berdua aja deh yang nge-date." Aku memutar badanku untuk menghadap Kamil.

Kamil tersenyum maklum. "Yaudah, kita duluan ya? Dah..." Ujarnya sebelum melambai lalu berjalan melewati pintu utama.

"Kita pulang yuk? Ntar kena macet, trus pulang kemaleman, nanti kamu nggak sempat belajar," kataku, namun kali ini tak berani memandangnya.

Kumohon jangan menetes.

Tapi sangat sulit menahan agar cairan bening ini tidak menetes.

Aku pikir kata-kata dan perlakuannya di luar loby tadi bisa menjadi alasan kuat bahwa dia akan menyetujui double date itu. Namun, aku salah.

Argh. Kenapa aku jadi sentimen begini? Aku tidak PMS kok.

okay, let's be positive. Dia mau belajar, Lan. Dia punya alasan logis buat nolak ajakan itu. Dia belajar. Kamu nggak boleh egois, Lan.

Namun jauh di dalam lubuk hatiku, ada suara lain yang bicara, but it will be my first date.

Di dalam mobil kami dilanda keheningan.

Aku sibuk memandang keluar jendela dengan pandangan buram, lalu menunduk ketika cairan bening itu tumpah. Dan dia sibuk memperhatikan jalan.

Jalan terus yang diperhatiin aku nya kapan?

Ha ha. Abaikan ucapanku barusan.

Tiba-tiba mobil berhenti. Dan ini bukan rumahku.

Satu-satunya orang yang kini bersamaku berdehem.

"Kamu mau mampir ke rumah?" Refleks aku menoleh padanya.

A/N: Ciye awkward ciye.
Btw aku kehabisan ide tepat di jam 11:11 PM. So, let's make a wish hihi. Btw sengaja digantung biar greget haha
Keep reading and recomended to everyone. Thank you💜

Moon & BackTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang