Joanna POV.
Gila! Apa-apaan ini? Bagaimana bisa Devan memutuskan hal sepenting ini tanpa berbicara dulu padaku?
"Aku tidak bisa, Dev!" sentakku kasar. Emosiku tersulut. Aku tidak memanggilnya dengan sebutan yang biasa kugunakan untuknya jika di kantor.
"Jo, kesempatan ini sangat langka. Kau tau? Mr Forrester tidak menawar sama sekali rincian proposal yang kita ajukan. Dan satu lagi, jika kita bisa bekerja sama dengan perusahaan adidaya milik Mr Forrester, nama perusahaan kita akan lebih trusted! Akan mengangkat nama Maxima! Maxima akan mudah melebarkan sayap menjadi besar!" Devan tampak sangat menginginkan kerja sama ini berhasil. Ambisinya begitu besar. Kadang aku kesal dengan sifatnya yang satu ini.
"Aku tetap tidak mau!" aku berkeras menolak. Membayangkan berada satu kantor yang sama dengan bule gila itu sudah membuat perutku mual.
"Please Jo. Bantu aku kali ini. Aku akan lakukan apapun yang kamu mau," nah, sekarang Devan mulai mengeluarkan jurus andalannya. Merengek!
"Batalkan saja!" sahutku sadis.
"Tidak bisa, Jo. Aku sudah terlanjur menanda tangani perjanjian dengan Mr Forrester. Kalau aku membatalkan perjanjian ini, aku bisa bangkrut! Mr Forrester tidak pernah main-main. Please Jo," aku benar-benar pusing sekarang. Aku seperti makan buah simalakama. Jika aku menerima, aku akan berada di bawah cengkeraman bule sinting itu! Tapi jika aku menolak, perusahaan Devan jadi taruhannya. Dan aku bukan tipe orang yang tidak tau balas budi. Semenjak ayahku meninggal, keluarga Devan-lah yang menanggung semua kebutuhan hidup ibu, Kak Lea dan aku, karena ayahku meninggal ketika aku dan Kak Lea masih kecil. Dan Ibu bukanlah wanita pekerja. Ibu adalah seorang ibu rumah tangga sejati, yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk ayah dan kami anak-anaknya, keluarganya.
Ketika Mama dan Papa Devan meninggal karena kecelakaan, Devan yang mengambil alih tanggung jawab itu.
Apakah aku akan membiarkan orang yang sudah begitu baik terhadap keluargaku mengalami kehancuran?
Tapi mengorbankan diriku sendiri juga bukan solusi yang baik. Terutama untukku sendiri. Aku punya mimpi dan angan-angan yang ingin kuwujudkan. Aku juga ingin dicintai oleh orang yang kucintai. Meskipun aku sadar, hingga detik ini tidak ada seorang lelaki pun yang mau mencintaiku. Bahkan melirikku.
Aku menatap wajah memelas Devan. Menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan.
Jika Maxima bangkrut, mau makan apa anak dan istri Devan? Belum lagi para karyawan yang jumlahnya ratusan itu? Mau dikemanakan mereka? Mau makan apa keluarga mereka?
Mendadak kepalaku pusing. Aku butuh istirahat dan menenangkan pikiran.
"Aku akan pikirkan. Besok aku akan memberikan jawabannya. Sekarang aku mau pulang. Kepalaku pusing!" tanpa menunggu jawaban Devan, dengan cepat aku berjalan keluar dari ruangan yang membuatku gerah.
Tanpa sengaja aku menabrak seseorang karena aku sama sekali tidak fokus pada langkahku. Aku terhuyung beberapa langkah sebelum kutegakkan tubuhku dan memantapkan kakiku pada pijakannya.
"Maaf," kataku mengangkat wajahku melihat orang yang kutabrak.
Astaga! Kenapa bule sinting itu ada di sini? Dan apa yang diperbuatnya sekarang membuat darah dalam tubuhku mendidih naik ke ubun-ubun.
Laki-laki itu meraih lenganku, menarikku hingga tubuhku membenturnya. Mata birunya menatap lekat seakan ingin menembus bola mataku.
"Mau apa anda kemari?" pikiranku benar-benar sudah tertutup kegeraman.
Dia mengangkat sebelah alisnya, tidak melepas tatapannya.
"Tentu saja untuk membahas kerjasama yang sudah ditandatangani oleh Boss kamu," sahutnya menyeringai penuh kemenangan.
Aku menelan ludahku dengan susah payah. Aku memberontak, melepaskan diri dari tangannya yang melingkari pinggangku.
KAMU SEDANG MEMBACA
BILLIONAIRE'S LOVE (SUDAH TERBIT)
RomanceBuku bisa didapatkan di Shopee & e-book. Part di watty tidak lengkap. Aku tidak bisa mundur, Joanna. Begitu juga kau. Sejak awal sudah aku katakan, kau milikku!
