Bisma menatap punggung Maya yang sebentar lagi akan membuka pintu rumahnya. Maya menoleh ketika menyentuh engsel pintu rumahnya. melihat Bisma yang masih berdiri di depan pagar sambil memperhatikan dirinya. senyum manis terbit di wajah Bisma.
Maya menghela napas, "Lo nggak pulang?"
"Pulang dong," sahut Bisma.
"Terus kenapa masih berdiri di situ? liatin gue lagi," tanya Maya lagi. sekarang pintu rumahnya telah terbuka lebar. memperlihatkan ruang tamu keluarga Maya.
"Ngusir nih. jadi lo nggak mau di liatin sama gue? seharusnya lo bersyukur punya cowok secakep gue," balas Bisma. kedua tangannya ia lipat di dada.
"Bukan gitu maksud gue. ini kan udah malam soalnya. iya gue ngusir. tapi secara halus. tujuan gue ngusir karena ini udah larut malam. saatnya lo istirahat. lagian ini dingin banget. lo pake kaos lagi. khawatirnya ntar lo sakit," Maya berjalan menghampiri Bisma. "Buruan balik gih."
Sekali lagi bibir Bisma membentuk seulas senyum, "Iya. gue balik. makasih karena lo udah mau jalan bareng gue. malem-malem udah gitu dingin lagi. pasti lo juga udah nggak sabar rebahan di kasur kan? kalau gitu gue balik ya. mimpi indah meyesku," Bisma mengacak-acak rambut Maya.
"Ih, rambut gue berantakan jadinya," Maya mengerucutkan bibir. "Tapi nggak pa-pa deh," wajah Maya yang semula di tekuk kini berubah menjadi wajah manis nan cantik.
"Bye!" pamit Bisma.
"Hati-hati di jalan. jangan nengok kalau ada yang manggil nama lo di perempatan jalan," pesan Maya di sertai gurauan di akhir kalimat. Maya sengaja ingin membuat pacarnya takut dan memang Bisma adalah cowok penakut. udah penakut tambah di takut-takutin. ampun deh, May.
Bisma sedikit mendekatkan dirinya kepada Maya. mendadak bulukuduknya berdiri. Maya tertawa melihat wajah Bisma.
"Payah lo! cowok-cowok kok penakut. gimana mau lindungin ceweknya?" ejek Maya.
"Gue nggak takut tuh. cuma gue jadi nggak berani pulang nih. nginep tempat lo ya."
"Yee itu sih sama aja Bisma. nggak! cowok di larang nginep di tempat gue. buruan ah balik. gue udah ngantuk nih," Maya menutup mulutnya ketika menguap.
"Ah lo nggak seru. masa pacar sendiri nggak boleh nginep di rumahnya."
Maya menjulurkan lidah. berbalik kemudian berjalan menuju pintu rumah. meninggalkan Bisma seorang diri.
"Gue masuk ya, Bis!" ucap Maya. kepalanya di longokkan keluar. sedangkan badannya di dalam.
Pintu rumah keluarga Maya tertutup sempurna. bukannya masuk ke dalam kamar, Maya memutuskan untuk mengintip melalui jendela. memperlihatkan Bisma yang sedang mengelus-elus bulu tangannya. kelihatannya dia sedang merinding. Maya terkikik tanpa menimbulkan suara.
Bisma dengan gesit langsung kocar-kacir berlari dengan kecepatan ekstra. badannya yang cungkring memudahkan dia untuk berlari dengan cepat. Bisma bagaikan orang yang terbang. bukan terlihat seperti orang sedang berlari. ah, author lebay.
●●●
Maya menutup pintu kamarnya kembali. saat ia membalikkan badan, ia terkejut mendapati Ariel dan Rayna yang tengah duduk bersila berhadap-hadapan. kedua temannya itu menatap Maya sambil meringis.
"Sorry, May, nggak bilang-bilang mau ke sini. masuk kamar lo lagi tanpa izin lo. tapi kita udah izin Mimom kok," Ariel berkata sambil menggaruk tengkuknya yang di susul anggukan setuju Rayna.
Maya ikut bergabung di kasur. ia menyilakan kakinya juga.
"Nggak pa-pa kok. santai aja. lagian kalian kan sahabat gue. apalagi Mimom nganggap kalian seperti anak dia sendiri. jadi anggap aja ini rumah kalian. rumah kedua. btw kalian kenapa? bosen di rumah jadi larinya ke sini?" tanya Maya.
"Nyokap-Bokap gue pergi, May. di rumah nggak ada siapa-siapa. lo sendiri kan tau gue anak tunggal," jawab Rayna memasang tampang sedih. "Kapan gue punya adek?"
"Minta ke Ortu lo. atau beli aja di Mall. kan banyak tuh anak kecil lucu-lucu. lo tinggal pilih mau bawa pulang yang mana," gurau Ariel.
"Yee, yang ada gue di gebuk sama Nyokapnya. lo kira Mall tempat jual beli anak kecil?" sahut Rayna.
"Nggak," jawab Ariel singkat.
"Balik ke topik awal ya. lo sendiri, Riel, kenapa mutusin nginep di sini?" Maya menatap Ariel lurus.
"Biasalah. abang gue ngeselin. gue bete sama dia. makanya gue ke sini buat stabilin bete gue yang tingkat dewa," jawab Ariel jujur. dia memukul-mukul bantal guling di pangkuannya. mengibaratkan bantal itu adalah kakaknya. Alvin.
"Meskipun abang lo ngeselin tapi seenggaknya dia masih sayang sama lo. andai aja Alvin abang gue. hidup gue barokah banget. udah cakep, keren, baik, setia lagi sama cewek," Rayna berandai-andai.
"Cih," desis Ariel. "Lo mau abang gue? ambil aja. dengan senang hati. terus setia dari mana? dia udah berapa kali bolak-balik ganti pacar. itu namanya setia?"
"Sumpah demi apa, riel? abang lo playboy?" Rayna histeris.
"Keliatannya sih gitu. tapi playboynya masih tingkat rendah. nggak terlalu parahlah," jawab Ariel sambil menatap bantal gulingnya.
"Tapi nggak pa-pa deh. meskipun dia playboy gue tetep mau sama dia kok," cengir Rayna.
"Kalau gitu Justin mau di kemanain? jangan gitu deh, Ray," ucap Maya.
"Justin tetep pacar gue kok. gue juga sayang sama dia. soal bang Alvin itu gue cuma jadi pengagum rahasianya," sahut Rayna.
"Itu sama aja lo ngeduain Justin. kalau sampai Justin tau diem-diem lo kagum sama abang Alvin, apalah yang bakal terjadi. gue sama Ariel nggak ikutan. hoaamm," di akhir kalimatnya Maya menguap. "Tidur duluan gih, gue mau sikat gigi dulu," lanjut Maya sambil turun dari kasurnya. ia masuk ke kamar mandi sambil membawa piama merahnya. Aku lupa piama yang sering di pake Maya, Ariel, Rayna sewaktu mereka tidur bareng. jadi asal warna ya.
Maya keluar dari kamar mandi dengan kondisi sudah memakai piama merahnya. Maya menutup pintu kamar mandi kembali. berbalik kemudian mendapati kedua sahabatnya yang sudah terlelap. ia pun naik ke atas kasur mengambil posisi di pinggir kanan. itu posisi tidur favorit Maya ketika tidur bersama kedua sahabat.
●●●
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersamamu
Teen FictionCinta tidak selamanya mencintai seseorang yang sempurna, tapi mencintai dengan cara yang sempurna. Cinta tak selalu memandang rupa, tapi memandang hati. Begitulah yang dirasakan Ariela Manopo dan Erick Yunanda
