15

4K 134 25
                                        

Bel pulang sudah berbunyi sejak seperempat jam yang lalu. ruang kelas X-2 sudah kosong melompong. begitu bel pulang berbunyi, seluruh penghuni kelas ini langsung menutup buku pelajaran dan berbenah-benah. mereka langsung berebutan keluar kelas setelah guru pelajaran terakhir keluar. lain dengan Ariel dan Erick. setelah kelas kosong menyisakan mereka, di saat yang bersamaan saling menatap satu sama lain. senyum menghiasi wajah mereka. Ariel mendekati bangku Erick kemudian duduk di sampingnya.

"Gue kangen sama lo," ungkap Erick begitu Ariel duduk di sampingnya.

"Kangen? ya ilah, lo pikir dari tadi gue pergi ke mana? gue nggak pergi ke mana-mana lagi, Rick. ngapain kangen?"

"Gue kangen duduk bareng lo. kangen sama-sama lagi," jawab Erick.

"Kalau masalah duduk si gue juga pengin duduk bareng lo. tapi kita masih sekelas kok. jadi kita masih bisa sama-sama."

Ruby menguping diam-diam di balik pintu kelas yang terbuka lebar. sebenarnya ia tidak diam-diam menguping, melainkan sengaja menguping. jelas-jelas sekarang ia telah berada di ambang pintu. hanya setengah badan saja yang terlihat dengan kepala melongok ke dalam. Ruby sengaja betul melakukan hal ini agar dua orang di dalam berhenti berduaan di kelas. tapi keduanya tak menyadari keberadaan Ruby karena sekarang posisi Ariel dan Erick tak menghadap depan. posisi mereka justru sedang berhadap-hadapan di tambah Erick mengenggam kedua tangan Ariel. coba saja mereka menghadap depan. pasti ketauan tuh si tukang nguping. tapi ada untungnya juga mereka nggak hadap depan, karena bisa ancur nanti momen romantis ini kalau liat Ruby. kapan lagi coba bisa duduk sebangku lagi di kelas kalau bukan jam pulang? sekarang.

"Sial! makin nempel aja tuh mereka berdua!" rutuk Ruby. kali ini ia tidak berada di ambang pintu lagi. ia memutuskan sedikit menjauh dari pintu kelas sehingga tak mendengar obrolan yang jujur membuat Ruby jealous. "Gue mesti ngapain buat bisa bikin hubungan mereka renggang? kalau perlu putus aja sekalian. aarggh!" Ruby menendang kaleng yang tergeletak di sekitarnya. melampiaskan kekesalannya dengan cara menendang kaleng.

Plakk.

Kaleng tetsebut sukses mengenai kepala seorang cowok bertubuh tinggi, dan berbadan ideal. kulitnya putih, rambunya awut-awutan (sepertinya sengaja betul rambutnya di berantakin) lengkap dengan lengan seragam yang di lipat hingga siku.

"Mampus! kalengnya kena orang. gue harus kabur sebelum ketangkep cowok itu," Ruby hanya sempat berbalik badan karena ketika ia ingin lari terbirit-birit, tangan kanannya telah di pegang oleh seseorang dari belakang. pasti cowok tadi.

"Mau ke mana lo?" tanyanya dengan suara berat.

"Mau kaburlah. mau ngapain lagi coba, dodol. upsss," ceplos Ruby. ia memukul dahinya pelan. merutuki dirinya sendiri. makin mampus dah gue.

"Lancang ya. hadep sini! gue mau liat muka lo," cowok itu membalik badan Ruby hingga keduanya bertatapan.

Kemudian cowok itu tersenyum seperti meremehkan. di turunkan tangannya dari pundak Ruby.

Hmm, gans juga nih cowok. cool, batin Ruby sambil mengamati penampilan cowok di hadapannya. tapi pujianny tak mendapat balasan yang setimpal. ia justru mendapat balasan yang semakin membuatnya dongkol.

"Ternyata nggak cantik. gue pikir sih lo cecan karena di liat dari penampilan. ternyata mirip banget sapi betina. cih," cowok tersebut justru mengejeknya.

Ruby melotot, lalu mendorong tubuh si cowok. percuma saja, cowok itu tidak sedikitpun terhuyung ke belakang. jelaslah. tenaga cowok lebih besar dari tenaga cewek.

"Apa lo bilang? minta di hajar ya? gue nyesel udah muji lo dalam hati. dasar monyet hutan!" Ruby balas mengejek cowok itu.

Cowok itu mengernyit. "Heh, baca nih nametag. Daniel Helvano. bukan monyet hutan. bisa baca nggak sih?" cowok yang ternyata bernama Daniel menunjuk nametagnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 13, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BersamamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang