Deehan mulai mengerti maksud Keanu saat memperingatkannya mengenai hubungan yang terlalu mengikat antara guru dan murid. Saat seorang guru bersikap baik, itu adalah bagian dari pekerjaan. Akan tetapi saat seorang murid menerima perlakuan baik dari seorang guru, mereka akan berpikir telah diistimewakan. Entah bagaimana cara pikir Eka, tapi Deehan menangkap kesan bahwa pemuda itu menanti pujiannya saat dia menangkap basah pasangan homoseksual di dalam asrama. Bukan hanya itu, Eka mempermalukan pasangan itu dengan cara yang tak beradab.
Pagi tadi, Deehan melayangkan surat pengunduran diri. Dia belum memiliki rencana apa pun untuk melanjutkan hidup, tapi kejengahannya menjadi bagian dari staf pengajar Tunas Harapan Bangsa yang sebagian besar mendiskreditkan kaum homoseksual sudah sangat, sangat tidak tertahankan. Setiap hari, sejak kasus dikeluarkannya dua siswa dengan tidak hormat, Deehan menjalani hari dengan berperang melawan hati nurani.
Pada saat pikirannya berkecamuk, dering telepon menyentakkannya dari lamunan. Satu nama yang terpampang di layar mampu membuat senyumnya kembali terkembang.
"Hei, aku sudah pulang, Han!" sapa suara di seberang. Suara renyah yang selalu dia rindukan dan puja-puja dalam hati saja.
"Kamu balik ke rumahku, kan? Nggak usahlah nyari kontrakan. Mending kamu pakai uangnya buat minjemin aku. Nanti kalau aku udah ada kerjaan baru aku ganti," selorohnya membalas.
Seseorang di sana tertawa. "Yakin nih nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, lah. Aku malah senang kalau ada temen di rumah. Bawa oleh-oleh apa kamu? Awas kalau nggak bawa!" guraunya lagi. Tidak mampu menyembunyikan perasaan bahagia membeludak dari suaranya.
"Adalah pasti. Gimana? Disetujui?"
"Ditinjau."
"Semoga nggak disetujui!" Gelak tawa terdengar nyaring berderai, sampai-sampai Deehan harus menjauhkan ponsel dari telinga. "Oke. Sampe ketemu di rumah, ya!"
Setelah menjawab salam perpisahan sahabatnya, Deehan memutus sambungan telepon. Wajahnya masih menyisakan seri bahagia meski ponsel telah kembali tergeletak di meja. Seketika, momen suram bersama Eka tergusur habis oleh tawa ceria Keanu Agam Pranaja, yang dulu lebih akrab disapanya Nunu. Nickname yang dia sandangkan seenak udel sejak mereka saling mengenal di sekolah menengah pertama. Dan sejak itu pula, berapa banyak pun pria singgah dalam hidupnya, tidak ada yang mampu mengusir nama Nunu. Orang yang membuatnya mengerti makna mencintai tidak harus selalu memiliki.
***
"Sudah semua ya, Pak! Tanda tangani di sini."
Dengan wajah riang, Luthfi membubuhkan tanda tangan di secarik kertas yang disodorkan oleh petugas pengirim barang. Setelah memberi para pengangkut itu uang tips, dia melepas kepergian mereka dengan senyum menawan. Diam-diam, matanya meneliti satu per satu karyawan yang meninggalkan rumah sewaannya di kota yang baru. Beberapa ada yang lumayan, tapi yang jelas, sebagian besar berbadan bagus.
Ini adalah hari pertamanya menginjakkan kaki di kota yang akan ditinggalinya entah sampai kapan. Mungkin untuk waktu yang sangat lama sebab tak mudah mengajukan transfer tanpa alasan yang jelas. Dia begitu bahagia saat akhirnya kesempatan itu datang juga. Sambil menghela napas, ada perasaan puas saat dia menutup pintu kembali. Rasanya, saat itu, dia benar-benar telah berhasil menyekat dirinya dari hantu bernama masa lalu.
Matanya yang jernih menebarkan pandangan. Memindai kardus-kardus barang lama yang dibawa serta supaya bisa menghemat uang tanpa membeli yang baru. Untuk menyewa rumah ini saja sudah cukup menyita tabungannya. Sepintas dia berencana untuk tetap membiarkan beberapa barang tak terbongkar, sebagai ancang-ancang jika dia menemukan tempat baru yang jauh lebih terjangkau.
Tanpa kenal lelah, pria itu membuka satu kardus berisi tumpukan pakaian yang akan segera dipakainya dalam beberapa hari ke depan kemudian menatanya rapi dalam lemari di kamar tidur utama. Selesai membongkar beberapa kardus primer, Luthfi menyentakkan tubuh di atas kasur dan mulai bermain ponsel.
Satu kontak yang ada di jajaran nomor penting telah berhasil dia hapus. Bukan hanya itu, dengan tekad yang telah lama dia ikrarkan dalam hati, dia mewujudkan rencana utamanya begitu menginjakkan kaki di kota ini, memblokir nama itu. Menutup semua aksesnya dari mencampuri kehidupan barunya.
Terasa berat memang. Pemilik akun itu yang selalu mengisi hari-harinya sebelum ini. Akan tetapi, dia sudah tidak bisa menunggu untuk membuat kisah-kisah baru yang jauh lebih menarik. Maka dengan mantap, dia mengguyur kisah lamanya sampai tak berbekas.
"Oke ... dari mana kamu mau mulai bersih-bersih, Luthfi?" tanyanya kepada diri sendiri.
Rumah sewaannya sudah lengkap dengan beberapa perabot utama seperti tempat tidur, sofa, lemari, dan kulkas yang membuat uang sewanya begitu mahal. Biarpun demikian, Luthfi tetap membawa cukup banyak barang yang dia sendiri sulit menentukan akan membereskan mulai dari mana.
Dari sekian banyak barang yang dibawanya, masih ada yang sengaja dia tinggalkan di rumah lamanya di Bandung. Barang-barang kenangan yang tak mau dia kenang lagi untuk selamanya. Alasan-alasannya pindah ke tempat yang sama sekali tidak dikenal demi memulai hidup baru.
Sampai menjelang sore, dia terus menyibukkan diri hingga lelah sebelum kemudian memutuskan menunda pekerjaan dan kembali bermain ponsel. Ada satu pesan masuk di akun sosial medianya. Pesan yang membuat lelahnya semakin terasa penat karena datang dari seseorang yang tidak dia inginkan. Dia melewatinya dan—dengan cepat—memblokir tanpa membaca pesan.
Untuk melampiaskan kekesalan, pemuda itu membuka akun yang telah lama dinonaktifkan. Tidak ada alasan untuk tidak bersenang-senang kali ini, setelah memutuskan lepas dari cinta yang lalu, pikirnya riang.

KAMU SEDANG MEMBACA
90 Days
General FictionDeehan Ishamel, guru sekolah khusus pria yang mengundurkan diri dari pekerjaannya karena merasa tidak bisa melindungi seorang siswa harus menghabiskan 90 hari terakhirnya mendampingi Luthfi Mahendra Boaz, guru pengganti yang sangat kritis, berambisi...
Wattpad Original
Ada 12 bab gratis lagi