Wattpad Original
Ada 8 bab gratis lagi

Chapter 6. Luthfi Mahendra Boaz

8.7K 777 165
                                        

Sepanjang perjalanan yang belum dia ketahui akan berujung ke mana, Deehan terus-menerus membiarkan kenangan-kenangan lama bersama Keanu berputar-putar di otaknya. Dan seperti sebelumnya, tekad untuk mengakhiri perasaan tak berbalas itu selalu menggerakkannya berbuat sesuatu. Kali ini dia menepi, membuka ponsel, dan mulai memejamkan matanya.

Dengan ibu jari, dia menggulir ke atas dan ke bawah layar ponsel. Kemudian—masih dalam keadaan mata terpejam—dia berhenti menggulir. Ujung jarinya secara kebetulan berhenti di satu pengguna aplikasi yang mengajaknya bertemu. Nama pengguna akun itu LoveBird. Kacangan sekali, batin Deehan, membandingkan dengan nama pengguna akunnya, yakni Che_Wegner.

Che_Wegner : Jadi mau ketemu? Di mana? Kapan?

Deehan tidak perlu menanti terlalu lama, sebuah pesan balasan dia terima.

LoveBird : Km tentuin. Im new in town.

LoveBird : Sex or no? Ak mesti clean up kalau kita lanjut hotel.

Terus terang sekali, batin Deehan. Selalu begini perkenalan di aplikasi kencan online. Bukannya Deehan tidak terbiasa, atau bagaimana, justru sebenarnya hal ini memudahkan komunikasi selanjutnya. Jika cocok, lanjut. Jika tidak, mereka bisa berhenti setelah pertemuan pertama. Beda dengan perjumpaan secara kebetulan—yang nyaris tidak pernah terjadi dalam hidup Deehan kecuali saat dia sengaja mengunjungi sebuah gay bar di Bali beberapa waktu silam—banyak basa-basi melelahkan yang kadang berujung pada rasa bosan.

Seusai memikirkan jawaban yang tepat, pria itu mengetik.

Che_Wagner : Prepare aja nggak apa. Who knows.

Che_Wagner : Club 234, Hotel Novatel. Tahu?

LoveBird : Gampang. Ada Uber, kan, di sini?

Che_Wegner : Nggak ada. Taksi.

LoveBird : Nggak minat jemput?

Che_Wegner : Enggak. Sori.

LoveBird : Club 234. Jam 7?

Deehan melirik jam digital di bagian atas ponselnya. Hampir pukul 5, sedangkan dia berada hanya beberapa menit jarak tempuh dari tempat yang ditunjuknya. Dia putuskan untuk tidak lebih dulu kembali ke rumah. Diperhatikannya dirinya sendiri.

Che_Wegner : Ok. Aku pakai kemeja flanel kotak biru, jeans biru terang. Rambut ikal. Facial hair.

LoveBird : I love facial hair. See you there. Aku kasih tahu aku pakai baju apa nanti.

Demi menanti sampai waktu yang dijanjikan, Deehan memarkir duluan mobilnya di basement hotel yang sudah mereka sepakati. Semula, dia berniat membunuh waktu di lobi, tetapi urung. Deehan berpikir, lebih baik dia bersembunyi di sudut coffee shop hotel daripada mengambil risiko duduk-duduk di lobi dan bertemu dengan seseorang yang mengenalnya.

Lumayan sering Deehan mengunjungi hotel tersebut. Setiap kali keluarganya berkunjung, orang tuanya pasti memilih menginap di sana. Atas pertimbangan itu, Deehan sengaja membekali dirinya dengan kartu member yang memberinya banyak keuntungan bertransaksi.

"Potongan 50% buat kopi dan pastel tutupnya dengan kartu member, Pak," ujar kasir coffee shop.

Deehan mengeluarkan dua buah kartu. Sebuah kartu member atas namanya, yang annual fee-nya dibebankan ke kartu kredit sang ayah, dan sebuah kartu kredit. Setelah mengurus pembayaran, ditambah sekotak permen mint dengan harga lima kali lipat dari harga biasa, Deehan diserahi nomor meja. Dengan cepat, dia memilih satu meja terujung yang agak tersembunyi.

90 DaysTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang