"Selamat siang, Pak Deehan. Dipanggil Pak Ersang sekarang."
Deehan mendengus lelah. Baru saja dia meletakkan bahan ajar di meja setelah mengajar tiga jam pelajaran non-stop, panggilan kerja sudah menanti.
Setelah berterima kasih kepada rekan yang menyampaikan perintah kepala sekolah, Deehan tidak bergegas memenuhi undangan. Alih-alih, guru muda itu menggeser tirai dan membuka jendela. Membiarkan udara segar dan hangat sinar mentari menyapa selamat pagi. Dia melirik jam analog di dinding. Sepuluh menit lagi pukul sepuluh, tapi dia belum sempat sarapan. Setiap hari Selasa, usai jam ketiga sampai dengan jam makan siang, dia bebas tugas. Biasanya, dia akan memanfaatkan kebebasan itu dengan memesan nasi kuning di kantin. Seperti sudah menjadi rutinitas, jika mengajar jam pertama, Deehan tidak sarapan sebelum meninggalkan rumah. Jika undangan kepala sekolah dimaksudkan untuk mengajak berdiskusi mengenai keputusannya mengundurkan diri, bisa dipastikan perutnya akan tetap kosong sampai saatnya makan siang.
Sambil bersantai melepas penat, Deehan membuka kuncian layar ponsel dan menemukan sebuah pesan yang membuat bibirnya tertarik simetris ke dua arah berlawanan. Semalam, setelah mereka berhubungan badan, Deehan baru tahu bahwa Luthfi akan bekerja sebagai guru di Tunas Harapan Bangsa. Mengajar prodi yang sama dengannya, sehingga Deehan berasumsi bahwa pemuda itu akan dijadikan penggantinya. Namun, menurut keterangan Luthfi, dia sudah lebih dulu didaulat mengajar di sekolah dan asrama pria itu jauh-jauh hari. Kemungkinan, sekolah memang sudah ingin menambah staf pengajar baru. Ditambah dengan niatnya mengundurkan diri, maka Luthfi yang sejatinya baru akan masuk seminggu dari sekarang diminta mempercepat kehadiran.
Hampir saja Deehan terkena serangan panik mendengar fakta tersebut, kalau saja Luthfi tidak menertawakannya. Menjadi bahan tertawaan karena sesuatu hal yang sudah terlanjur, mau tidak mau membuat Deehan merasa konyol. Pada akhirnya, dia justru tinggal lebih lama di kontrakan Luthfi untuk mengobrol. Bahkan, mereka saling membagi tahu semua kontak sosial media satu sama lain, yang membuat Luthfi bisa menghubunginya lewat Line.
Lutfhi Boaz : Pak Deehan, dipanggil kepsek kok gk datang-datang.
Deehan Ishmael : Guru bahasa macam apa chat disingkat-singkat.
Luthfi Boaz : Why so serious? Kamu di mana, sih? Aku nggak lihat kamu di kubik guru-guru.
Deehan Ishmael : Nah gitu, dong.
Luthfi Boaz : Ya ampun. Kena melulu nih aku disetir kamu. Ke sini buruan. Nanti kita makan siang bareng, yah?
Luthfi Boaz : Nanti kalau ditanya Ersang, bilang kita udah kenal waktu ada sosialisasi kurikulum baru tahun lalu di bogor, ya?
Deehan Ishmael : Belum-belum udah keceplosan?
Luthfi Boaz : *grin emoticon* Hehe ... iya. Cieee yang punya ruangan sendiri. Asyik nih, bisa aku kasih service sewaktu-waktu. Semalem belum ngerasain keahlianku yang lain, kan?
Pipi Deehan memanas membaca chat terakhir Luthfi. Pemuda itu memang pandai membuatnya salah tingkah dengan sifatnya yang kelewat terbuka. Deehan khawatir dia tidak akan terbiasa dengan itu mengingat dia belum pernah sekali pun melanjutkan hubungan satu malam menjadi romansa dengan siapa pun. Beberapa kali dia memang pernah meneruskan mengobrol dengan partner seksnya, tapi tidak ada yang berbicara sefrontal Luthfi. Seakan dia luar tempat tidur, mereka kembali menjadi orang-orang suci. Termasuk dirinya sendiri.
Perut lapar Deehan mendadak seperti bisa ditahan. Membayangkan akan bertemu dengan kawan yang tidak perlu membuatnya memalsukan diri, menggelorakan semangatnya kembali. Dengan langkah terayun ringan, Deehan berjalan menyusuri lorong sepi karena jam pelajaran sedang berlangsung. Untuk menuju ruang kepala sekolah, dia harus keluar dari gedung perpustakaan yang tergabung dengan sebagian ruang kelas sepuluh.
KAMU SEDANG MEMBACA
90 Days
Ficção GeralDeehan Ishamel, guru sekolah khusus pria yang mengundurkan diri dari pekerjaannya karena merasa tidak bisa melindungi seorang siswa harus menghabiskan 90 hari terakhirnya mendampingi Luthfi Mahendra Boaz, guru pengganti yang sangat kritis, berambisi...
Wattpad Original
Ada 5 bab gratis lagi
