Good Bye My Home

333 20 4
                                        

"Lolyta apakah kamu sudah membereskan barang-barang yang kamu bawa??? Besok kita sudah pindah."

"Iya Bu. Aku sedang beres-beres!"

Aku menyusun satu-persatu baju ke dalam koper dengan malas. Rasa berat sekali harus meninggalkan semua kenangan yang ada.

"Lolyta,bolehkah kakak masuk?"

"Ya,tentu saya." Ujarku dengan malas.

Kak Violin pun masuk ke kamarku dengan ragu. Dia mencoba untuk menatapku yang menghindarinya dengan tatapan sedih.

"Lolyta,maaf bila perasaan mu tak enak setelah ini. Aku tahu kamu pasti sangat sedih dan tak bisa menerima kenyataan ini. Tapi,kamu juga harus mengerti. Ayah dan ibu melakukan ini demi kita semua. Demi kamu juga."

"Sebenarnya ayah dan ibu juga tak ingin pindah. Dan melihatmu sedih berpisah dengan teman-teman. Tapi meraka tidak punya pilihan lain. Jika mereka tak menerima tawaran ini. Kita tak akan punya cukup uang untuk menghidupi semua kebutuhan."

"Kamu pasti tahukan kalau pekerjaan ayah ibu sebagai kurir dan pelayan toko hanya cukup untuk kebutuhan kita saat ini? Uang itu tak cukup untuk kebutuhan yang akan datang. Kita tak tahu hal buruk apa yang akan terjadi."

"Ya,aku tahu. Kakak tidak usah berkata panjang lebar seperti itu." Ujar ku dengan sedikit ketus terus berusaha mengindari kontak mata dengannya.

Kak Violin pun terdiam. Suasana senyap dan kosong menyebar ke seluruh ruangan. Seakan rumah ini juga ikut sedih dengan kepergian kami.

"Baiklah aku tahu kamu pasti butuh waktu untuk sendiri."

Kak Violin pun menghela nafas dan pergi meninggalkanku. Aku hanya diam tak bergeming melanjutkan mengepak barangku.

"Lolyta apakah benar kamu akan pindah."

Seseorang yang sangat tidak asing bagiku datang menghampiri dan memengang pundakku.

"Ya aku benar akan pindah."

"Lho kenapa?! Apakah karena pekerjaan orang tuamu? Ayolah Lolyta kamukan bisa tinggal di sini saja dan orangtuamu saja yang ke sana!"

"Aku maunya juga begitu. Tapi aku yakin,mereka tidak akan mau menyetujuinya."

Mendengar hal itu Beauty merengek dan menarik-narik bahuku. Aku hanya diam menghela nafas sepanjang keliling bumi.

"Beauty berhentilah bersikap seperti itu. Kamu malah membuat keadaan semakin buruk. Lihat,Lolyta jadi semakin sedih."

Dori berjalan mendekati Beauty dan menenangkannya.

"Tapi aku ngak mau Lolyta pergi meninggalkan kita. Pasti hari-hari akan sepi tanpa Lolyta." Ujar Beauty dengan mata berkaca-kaca.

"Iya pasti sepi. Kita akan kembali seperti dulu bermain sendiri sebelum kedatangan Lolyta." Ujar Wind yang tiba-tiba duduk di jendela.

"Maaf aku teman-teman. Sebenarnya aku juga masih ingin tinggal di sini. Tapi aku janji aku tak akan melupakan kalian." Ujarku berusaha tersenyum tegar.

"Janji ya!" -Beauty.

"Ya aku janji! Terima kasih kalian sudah menjadi teman yang selalu menemani hari-hariku. Walaupun kalian hantu,tapi aku selalu menganggap dan berharap kalian adalah manusia."

"Terima kasih Lolyta. Kami juga tidak akan melupakanmu." -Dori.

"Lolyta kamu sudah selesai beres-beres. Jika sudah ayo segera tidur besok kamu harus bangun pagi!"

Mendengar perkataan ibu segara aku membereskan barang yang tersisa dan beranjak tidur.
.
.
.
.
Terpaan angin berhembus lembut di wajahku. Perlahan aku membuka mata. Melihat sekeliling bangunan kastil yang terlihat asing bagiku.

I am freeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang