Roku POV
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" ucap Kiran.
"Kalau saranku sebaiknya kamu pergi saja ke babak final itu, biar kami yang menunggu Yuri di sini," saran Rayen.
"Apa!! Aku tidak mau. Aku mau menemani operasi Yuri,"
"Roku....saran Rayen itu sudah benar. Sebaiknya kamu pergi saja ke sana, tapi menurutku Rayen juga menemani mu. Apa kamu mau Rayen?" ucap Yuri.
"Tentu,"
"Ya sudah terserah kalian saja."
Perdebatan di ruangan Yuri pun berhenti dan menjadikan suasasan hening sesaat. Kiran yang tidak nyaman dengan suasana itu akhirnya memulai pembicaraan kembali.
"Hemm....Yuri bagaimana perasaan mu saat ini?"
"Hah.. maksudnya?"
"Perasaanmu sebelum menjalani operasi itu,"
"Kalau kamu bertanya tentang perasaanku saat ini. Jujur aku sangat takut karena aku tahu keberhasilan operasi ini hanya 50:50, tapi aku percaya Tuhan akan memberikan yang terbaik buatku," jawab Yuri sambil tersenyum.
"Kamu memang wanita yang tegar Yuri." batinku sambil melirik Yuri.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu. Aku kemudian membukakan pintu itu dan melihat siapa yang datang. Bibi Yuri datang dengan membawakan kue yang cukup banyak.
"Hai maaf menunggu lama, bibi sudah memasakan kue yang enak untuk kalian," mereka pun mendekat dan melihat itu kue itu.
"Wah enak sekali bibi," ucap Rayen.
Bibi Yuri akhirnya membagikan makanan itu kepada semua orang yang ada di ruangan itu.
"Ini untuk mu Yuri," ucap bibi sambil memberikan capcake untuk Yuri.
"Terima Kasih bibi." Mereka akhirnya memakan kue itu.
Tak perlu waktu lama kue yang dibawa bibi pun ludes tak tersisa.
"Roku,Rayen dan Kiran dokter bilang Yuri butuh istirahat sampai nanti malam...jadi bibi harap kalain pulang saja dulu dan kembali nanti malam,"
"Tapi apa tidak apa-apa bibi di tinggal sendiri di sini?" tanya Kiran.
"Iya tidak apa-apa,"
"Ya sudah kalau begitu kami pergi dulu.. yuri, bibi." ucap mereka lalu pergi meninggalkan ruangan Yuri.
"Yuri apa kamu meinginkan sesuatu?"
"Iya bibi..tapi mungkin akan sedikit merepotkan bibi,"
"Tidak...sama sekali tidak merepotkan. Apa yang kamu inginkan?"
"Bibi tolong pasangkan di situ kamera aku ingin membuat video untuk seseorang." ucap Yuri sambil menunjuk meja dekat sofa.
"Hemm..baiklah kebetulan bibi membawa kameranya. Nanti akan bibi pasangkan, tapi sebelum itu bibi mau bersih-bersih dulu sebentar."
"Iya bibi tidak apa-apa."
-
-
-
Di rumah Roku, dia sedang berlatih piano untuk nanti malam di ruang musik miliknya.
"Hemm kenapa aku tidak bisa berkonsentrasi? Aku terus memikirkanya dan bagaimana bisa aku tampil tanpanya? Apa aku pergi saja ya ke rumah sakit, tapi dokter menyuruhnya untuk beristirahat kalau aku pergi ke sana malah menggangunya..Ah " ucap Roku sambil mengacak-acak rambutnya.
Setelah berfikir sejenak aku akhirnya mendapatkan ide.
"Ah sekarang kan masih jam 6. Babak final dan operasi Yuri akan diadakan jam 8. Aku jalan-jalan saja....ya..yaa ide Bagus." Aku kemudia keluar dari ruangan itu dan mengenakan jaket.
Aku menggayuh sepedaku dengan kecepatan sedang sambil melihat keadaan kota pada malam hari. Ada lampu-lampu Indah yang menyala, orang yang sedang berjualanan balon dan toko yang menjual bunga segar. Aku yang tertarik dengan toko bunga itu lalu pergi ke sana.
"Bibi apa ada bunga tulip?"
"Ada."
"Aku mau beli bunga tulip putih bibi yang masih segar ya."
"Bibi ambilkan dulu ya." pedagang itu langsung mengambil bunga tulip putih itu dan memberikanya kepadaku. Aku kemudian membayar dan menaiki sepedaku.
"Semoga dia suka dengan bunga ini. Tapi sekarang jam berapa? Oh tidak jam 7:30... aku harus segera ke rumah sakit." Aku pun menggayuh sepedaku dengan cepat.
-
-
-
Author POV
"Yuri kamu harus tetap tenang ya," ucap Kiran sambil menenangkan Yuri yang sudah dipindahkan di tempat tidur operasi.
"Hah..hah..hah...maaf aku terlambat," ucap Roku mengatur nafasnya.
"Tidak kamu tidak terlambat," ucap Yuri tersenyum.
"Roku, kenapa kamu tidak langsung ke gedung kesenian," protes Rayen.
"Tidak aku tidak akan mengikuti babak final itu," ucap Roku yang berhasil membuat teman-temanya membulatkan matanya.
"Apa yang kamu bicarakan Roku!!" ucap Rayen.
"Apa kalian pikir aku akan bermain sendiri?" ucap Roku sambil meletakkan bunga tulip itu di meja Yuri.
"Tapi perjuangan kalian sama saja kamu sia-sia kan," ucap Kiran.
"Roku..pergilah," ucap Yuri.
"Tidak...aku ingin bermain bersama mu. Kita berjuang bersama dan kita juga harus memenangkan CMJ bersama...hiks..hiks" ucap Roku sambil menangis di depan Yuri.
Saat suasana menegang dokter tiba dan ingin membawa Yuri ke ruang operasi.
"Operasi segera dimulai..kami akan membawa Yuri ke ruang operasi," ucap dokter yang datang bersama 3 suster.
"Tunggu beri aku waktu 5 menit saja," ucap Yuri.
"Roku permintaan ke 3 ku adalah menangkan kompetisi itu untuk ku," ucap Yuri sambil mengusap air mata Roku.
"Yu..ri aku mencintaimu tetap lah bertahan bersamaku..hikss.
..hikss." ucap Roku sambil memeluk Yuri.
"Aku juga mencintaimu,"
"Yuri sudah waktunya," ucap dokter itu. Roku lalu melepaskan pelukannya dan membiarkan dokter membawa Yuri.
"Roku ayo kita berangkat," ucap Rayen.
"Tidak. Kamu di sini saja menemani Kiran dan bibi Yuri kalau ada apa-apa hubungi aku." ucap Roku yang beranjak pergi.
"Aku akan memenuhi permintaanmu Yuri." batin Roku sambil menggayuh sepedanya.
-
-
-
KAMU SEDANG MEMBACA
Only 31 Days (COMPLETED)
ContoRoku mempunyai kenangan buruk tentang musik dia bahkan berfikir akan meninggalkan dunia musik selamanya,tapi apa jadinya bila seorang anak baru di sekolahnya malah menariknya kembali pada dunia musik,bahkan mengajaknya untuk mengikuti CMJ (Competiti...
