SATU

41 3 0
                                        

_kanaya_
Aku mendudukkan diriku di bawah pohon di pinggir lapangan. Menjadi panitia ospek benar-benar menguras tenagaku. Rahangku serasa kaku setelah memberi bimbingan para maba. Kakiku rasanya ingin lepas dari anggota tubuh lainnya. Dan keringatku mengucur disekujur tubuhku. Aku menyandarkan diriku di batang pohon di belakangku.

Andai saja. Andai saja aku tak pernah merasa bersalah atas kematian Arka 4 tahun lalu. Pasti aku takkan sudi berada di sini. Aku takkan mau membuang waktu dan tenagaku hanya untuk mengikuti kegiatan kampus yang menurutku nggak penting ini. Toh kegiatan ini nggak wajib. Tapi aku melakukan semua ini demi Arka.

Berkali-kali aku berusaha menghindar dari rasa bersalah ini. Toh kematiah arka murni karena kecelakaan. Tapi hati kecilku tak pernah bisa untuk tidak merasa bersalah.

"Arka ini mahasiswa kebanggaan saya. Nilainya selalu tertinggi di FEB. Sayangnya saya harus kehilangan dia secepat ini.

"Arka itu aktivis sejati. Saya nggak tau apa jadinya organisasi kita tanpa dia"

"Arka itu sempurna. Kenapa tuhan memanggilnya secepat ini"

Suara-suara yang aku dengar saat pemakaman Arka itu selalu tergiang-ngiang di kepalaku. Membuatku semakin merasa bersalah. Aku telah menyebabkan orang-orang itu kehilangan Arka.

"Naya......" Suara cempreng Bella berhasil membuyarkan lamunanku.

"Jangan mentang-mentang lo pacarnya ketua BEM ya lo bisa enak-enakan di sini" Lagi-lagi suara cempreng bella membuat pening kepalaku. Aku heran cewek cempreng bin bawel gitu kug bisa ya jadi panitia ospek?.

Tanpa memperdulikan Bella, aku berdiri bermaksud ingin bergabung dengan teman-teman panitia yang lain.

"Aw.." Baru selangkah melangkahkan kaki seseorang menabrakku menumpahkan minumannya ke jas almamater biru muda yang ku kenakan. Aku melihatnya dia seorang cowok indo, tinggi tegap dan berkulit putih.

"Mr. TOMAT.. lo nggak punya mata ya? Gara-gara lo baju gue basah"

Aku memanggilnya Mr. TOMAT karena aku nggak tahu namanya. Aku hanya melihat atribut ospek yang dia kenakan. Sebuah kalung nama besar bertuliskan TOMAT.

"Maaf kak gue gak sengaja."

Aku menatapnya sebal.

"Nama gue Alfin"
Dia mengulurkan tangannya namun aku tak peduli. Aku melangkahkan kakiku meninggalkan dia.
****

Selesai membersihkan bajuku di wastafel, aku bergegas keluar toilet. Langkahku terhenti saat mataku menemukan seorang cewek dan cowok yang ku kenal berpose seolah-olah mau berciuman tapi terhenti saat melihatku keluar dari toilet. Mereka terkejut melihat kehadiranku dan menatap ke arahku.

"Nay.. gue bisa jelasin kug" Abi berusaha menjelaskan.

"Iya nay.. gue sama Abi nggak ada papa kug kita cuma ak_"

Tak mau mendengar penjelasan lebih lanjut dari mereka. Aku memilih untuk lari menjauh dari mereka.

"Naya..." Aku dapat mendengar suara Abi mengejar dan memanggilku tapi aku tak memperdulikannya. Aku terus lari.

"Brak"

Seseorang menabrakku hingga tubuhku hampir saja terjatuh kalau saja orang itu tak menahan punggungku. Kita nampak seperti orang yang berpelukan. Sesaat mata kita saling bertatapan. Shit. Dia orang yang sama yang menabrakku di lapangan tadi. Belum satu jam dia sudah menabrakku dua kali.

"Naya" Suara Abi berhasil mengagetkan kami. Perlahan si Mr. TOMAT melepaskan tangannya dari punggungku. Matanya terus menatap ke arahku.

"Berani-beraninya lo peluk cewek gue"bentak abi. Salah satu tangannya memegang kerah mr. Tomat.

"BUG".

Sebuah pukulan dari Abi mendarat ke Muka mr. Tomat hingga tubuhnya tersungkur ke lantai. Tapi cowok itu cuma diam tak membalasnya.

"Abi ini nggak seperti yang kamu lihat" jelasku.

"Kamu aja nggak dengerin penjelasanku. Kenapa aku harus percaya sama kamu" decak abi

"Aku percaya sama kamu" jawabku lirih

"Aku juga percaya kamu sayang" balas Abi. Tangannya meraba pipiku lalu beralih merangkul leherku dan kita pergi meninggalkan si mr. Tomat.

Sebenarnya aku sering memergoki Abi bersama cewek lain. Tapi aku selalu mudah memaafkan Abi. Aku tak ingin putus dengannya. Bukan karena aku sangat mencintainya atau aku cinta buta padanya tapi karena dia ketua BEM seperti Arka.
****

"Jadi lo mergokin Abi berduaan sama Ines dan semudah itu lo percaya mereka gak ada papa, lo itu bodoh atau gimana sih nay" Seru Caca temanku saat aku selesai menceritakan kejadian di depan toilet tadi.

Caca adalah teman yang paling dekat denganku. Kita kenal sejak SMA. Dia satu-satunya orang yang tau alasan aku kuliah disini, masuk FEB dan ikut berbagai organisasi kampus. Katanya dia kuliah disini biar bisa temenan sama aku terus. Tapi dia nggak sanggup kalau harus masuk FEB juga kayak aku. Makanya Caca lebih memilih masuk FISIB.

"Gue gak mau putus sama Abi ca" Jawabku

"Nay ketua BEM itu banyak. kenapa lo mesti pilih Abi sih"

"Abi itu pinter ca"

"Kaya Arka" seruku dan caca hampir bersamaan dan aku mengangguk. Caca memang yang paling tau tentangku.

"Sory ganggu" seru seseorang cowok yang tiba-tiba ada di depan kami "gue mau ngembaliin ini tadi jatuh saat kita tabrakan" lanjutnya sambil memberikan pulpen pilot hitam.

"Bukan punya gue"

"Tadi gue lihat ini jatuh dari saku lo"

"Terima aja nay itung-itung hadiah perkenalan dari maba ganteng" seru caca dengan gaya genitnya.

"Gue gak ngrasa punya itu. kalau lo ngeyel itu punya gue lo buang aja. Gue gak butuh. Pulpen gue udah banyak" Jawabku cepat dan cuek  làlu aku menarik tangan caca untuk cepat-cepat pergi.

"nay kug pergi sih gue kan pengen kenalan sama Alfin"

"Alfin siapa" aku mengerutkan dahiku

"Astaga.. Tadi yang ngasih pulpen ke lo. Itu Alfin nay maba ganteng yang tajir mlintir itu."

"Oh si Mr.TOMAT"

"what mr.Tomat"

"Ya itu id cardnya tulisannya TOMAT"

"Yaelah nay itu panggilan buat ospek aja. Cewek-cewek itu pada berebut buat deketin alfin loh. Lah lo di deketin Alfin malah kabur"

"Lah gue gak ngerasa punya pulpen itu terus urusan gue udah selesai ya gue pergi"

"Naya... itu kode artinya dia mau kenalan ama lo"

"Tau ah gue gak tertarik. Gue capek mau pulang. Terserah lo mau ikut gue atau mau balik ke cowok gak penting itu" Jawabku cuek.

Aku berjalan lebih cepat meninggalkan Caca.

=====0=====

Tolong kritik dan sarannya

Maaf, Aku MencintaimuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang